TAUBAT

0
1559

Terbit Tiap Jum’at

Edisi Ketiga Puluh Dua

09 Rabi’uts Tsani 1428 H

27 April 2007 M


Taubat kepada Allah I adalah ibadah yang agung, bahkan  taubat yang paling agung  yakni taubat dari perbuatan kufur dan kemunafikkan merupakan satu ibadah yang paling utama dan paling wajib. Taubat harus  senantiasa dilakukan oleh seorang hamba disebabkan sifat dasar manusia yang senantiasa berbuat salah dan lupa.

Defenisi Taubat

Secara bahasa taubat bermakna kembali, sedangkan secara istilah syariat bermakna kembali kepada Allah I dengan meninggalkan perbuatan dosa baik yang besar maupun yang kecil.

Perintah Bertaubat

Hukum taubat adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim berdasarkan Qur’an, Sunnah maupun kesepakatan ulama kaum muslimin.

Allah I berfirman:

{????????? ????? ????? ???????? ???????? ?????????????? ??????????? ???????????}

“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 31)

{ ??????????? ????????? ????????? ??????? ????? ????? ???????? ?????????}

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)

Rasulullah e juga bersabda:

((??? ???????? ???????? ??????? ????? ??????? ???????? ??????? ??? ????????? ???????? ??????? ??????? ))

“Wahai sekalian manusia bertaubatlah kepada Allah dan mohon ampunlah kepada-Nya, sesungguhnya aku bertaubat seratus kali pada setiap hari.” (HR. Muslim)

Tingkatan Taubat

Taubat yang paling agung dan paling wajib adalah taubat dari kekufuran menuju keimanan sebagaimana Allah I berfirman:

{???? ??????????? ???????? ??? ????????? ???????? ????? ???????? ?????? ????? ????????? ?????? ?????? ??????? ?????????????}

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu :”Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”.” (QS. Al-Anfal: 38)

Tingkatan yang kedua adalah taubat dari perbuatan dosa besar dan tingkatan yang terakhir adalah taubat dari perbuatan dosa kecil. (Lihat Syarh Riyadush Shalihin oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

Syarat Diterimanya Taubat

Ada lima syarat yang harus dipenuhi oleh seorang hamba yang hendak bertaubat dari dosanya, yaitu:

1.      Ikhlas semata-mata mengharap wajah Allah

Ini harus ia lakukan bila ia hendak bertaubat, ia tidak meniatkan dalam taubatnya agar manusia memujinya atau agar ia terbebas dari hukuman yang akan ditimpakan kepadanya bila perbuatan dosanya menyebabkan diterapkannya hudud (sangsi hukum) di dunia, akan tetapi ia hanya meniatkan agar Allah I menerima taubatnya serta mengampuni dosa yang telah dilakukannya.

2.      Menyesali perbuatannya

Syarat kedua yang harus dia penuhi adalah menyesal atas apa yang telah diperbuat. Ia menyesali dirinya yang telah terjatuh ke dalam kubangan dosa dan maksiat disebabkan keimanannya yang lemah. Ia menyesal telah mendahulukan hawa nafsunya sehingga setan dengan leluasa menguasai dirinya lalu menjatuhkannya ke jurang neraka.

3.      Meninggalkan perbuatan dosa tersebut

Ini merupakan syarat terpenting yang harus dipenuhi. Bila dosanya itu berupa meninggalkan suatu kewajiban, maka yang harus dia lakukan adalah meninggalkan dosa tersebut dengan mengerjakan perkara wajib yang telah ditinggalkannya. Bila dosanya berupa mengerjakan perbuatan yang haram maka yang wajib dilakukannya adalah meninggalkan perbuatan tersebut.

Bila dosanya berkaitan antara dia dengan Allah I dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya maka hendaknya ia menyembunyikan perbuatannya itu dan tidak menceritakannya kepada manusia. Jika ia telah bertaubat maka tidak ada seorangpun yang mengetahui aibnya. Rasulullah e bersabda:

((????? ???????? ???????? ?????? ??????????????? ??????? ???? ?????????????? ???? ???????? ????????? ??????????? ??????? ????? ???????? ?????? ???????? ??????? ???????? ????????? ??? ??????? ???????? ???????????? ????? ??????? ?????? ????? ?????????? ??????? ?????????? ???????? ?????? ??????? ??????))

“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang terang-terangan berbuat dosa. Dan sesungguhnya di antara bentuk berterang-terangan dalam berbuat dosa adalah seorang laki-laki yang berbuat dosa pada malam hari kemudian dia memasuki waktu pagi sedang Allah telah menutupinya lalu ia berkata: Wahai fulan sesungguhnya semalam engkau telah berbuat demikian dan demikian. Dia dia bermalam dalam keadaan Allah menutupi dosanya sedangkan di waktu pagi ia menyingkap tabir Allah tersebut. ” (HR. Bukhari)

Jika ia melakukan dosa yang berkaitan dengan hak hamba, maka yang harus dia lakukan adalah mengembalikan hak tersebut. Misalnya bila ia telah mencuri harta seseorang kemudian ia hendak bertaubat maka ia harus mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya, bila ia telah merusak kehormatan seseorang maka bentuk taubat yang harus dilakukannya adalah mengembalikan kehormatan orang tersebut dan seterusnya.

4.      Bertekat kuat untuk tidak mengulanginya

Ini adalah syarat keempat yang harus dipenuhinya. Ia harus menguatkan tekatnya untuk tidak mengulanginya kembali di masa yang akan datang.

5.      Hendaknya taubat tersebut dilakukan pada waktu masih diterimanya taubat

Bila ia bertaubat di saat taubat tidak lagi diterima maka taubatnya tersebut tidak akan bermanfaat sedikitpun bagi dirinya. Dan ketahulah ada dua waktu yang taubat tidak lagi bermanfaat di sana,

-. Ketika ajal

Allah I berfirman:

{?????????? ??????????? ?????????? ??????????? ????????????? ?????? ????? ?????? ?????????? ????????? ????? ?????? ?????? ???????? ?????????????? ?????????? ?????? ???????? ??????????? ??????????? ?????? ???????? ????????}

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan:  “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”.” (QS. An-Nisa’: 18)

-. Ketika matahari telah terbit dari barat

Allah I berfirman:

{?????? ??????? ?????? ???????? ??????? ?????????? ??????? ??????????? ???? ?????? ????????? ???? ?????? ???? ???????? ??? ?????????????????? }

“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu tidaklah bermanfa’at lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (QS. Al-An’am: 158)

Yang dimaksud dengan tanda-tanda Allah I di sini adalah terbitnya matahari dari barat. Oleh karena itu Rasulullah juga e bersabda:

((??? ?????????? ??????????? ?????? ?????????? ??????????? ????? ?????????? ??????????? ?????? ???????? ????????? ???? ???????????))

“Hijrah tidak akan terputus hingga terputusnya taubat dan tidaklah taubat terputus hingga matahari terbit dari barat.” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (7469)) (Lihat Syarh Riyadush Shalihin oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

Urgensi  Dan Keutamaan Taubat

Manusia merupakan makhluk yang senantiasa berbuat salah, maka wajib baginya untuk senantiasa bertaubat kepada Allah I, Rabb yang telah memberikan dorongan dan semangat kepada mereka untuk bertaubat dan telah berjanji untuk menerima taubat mereka bila terpenuhi syarat-syaratnya. Dia Ta’ala berfirman:

{???????? ?????????? ?????? ????? ????????? ???????? ???????? ????? ????????}

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha: 82)

Rasulullah e bersabda:

((????? ????? ????? ???????? ???????? ??????????????? ???????????????))

“Setiap bani Adam banyak berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib (3139))

Rasulullah e juga telah mengabarkan bahwa semua waktu siang maupun malam adalah waktu bertaubatnya orang yang mau bertaubat serta mau kembali kepada Rabbnya.

???? ?????? ??????? ???????????? t ???? ?????????? e ?????: ((???? ????? ???????? ?????? ??????????? ?????????? ???????? ?????????? ?????????? ?????? ???????????? ?????????? ???????? ????????? ?????? ???????? ????????? ???? ???????????))

Dari Abu Musa Al-Asy’ari t dari Nabi e, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah terbentang tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang bersalah di waktu siang dan terbentang tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang bersalah di waktu malam.” (HR. Muslim)

Alangkah mulianya Allah I, meskipun hambanya bermaksiat kepada-Nya siang dan malam, Dia masih tetap memberikan sifat rahmat dan lemah-lembut-Nya kepada mereka dengan menerima taubatnya kapan mereka mau bertaubat. Dia Ta’ala tidak menyegerakan azab kepada mereka akan tetapi memberikan rizki dan mengampuni mereka. Bahkan Dia sangat bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi gembiranya seorang yang kehilangan hewan tunggangan sebagaimana yang dikisahkan Rasulullah e dalam haditsnya.

Beliau e bersabda:

(( ??????? ??????? ??????? ?????????? ???????? ?????? ???????? ???????? ???? ?????????? ????? ????? ??????????? ???????? ???????, ????????????? ?????? ??????????? ????????? ??????????? ???????? ???????, ??????? ???????? ??????????? ??? ????????, ?????? ?????? ???? ???????????, ??????????? ???? ???????? ???? ???? ????? ????????? ???????? ???????? ???????????? ????? ????? ???? ??????? ?????????: ?????????? ?????? ??????? ??????? ???????, ???????? ???? ??????? ????????? ))

“Allah sangat bergembira dengan taubat hambanya ketika ia bertaubat kepada-Nya  melebihi salah seorang di antara kalian yang menunggangi hewan tunggangan di negeri yang kosong. Lalu tunggangannya itu hilang darinya sedang makanan dan minumannya berada di atasnya lalu ia putus asa darinya. Ia kemudian mendatangi sebuah pohon dan berdaung di bawahnya sungguh ia telah putus asa dari hewan tunggangannya. Ketika ia dalam kondisi demikian, tiba-tiba hewan tunggangannya telah berdiri di sampingnya. Kemudian ia berkata karena sangat gembiranya: Wahai Allah engaku adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu, ia salah (menucapkannya) disebabkan kegembiraannya yang sangat.” (HR. Muslim)

Alangkah gembiranya orang tersebut, tapi ternyata kegembiraannya tidak mampu mengalahkan kegembiraan Allah I, Dzat Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang atas taubat hambanya.

Akhirnya kami sudahi pembahasan ini dengan harapan agar Allah I menjadikan kita seperti orang-orang yang disifati dalam firman-Nya:

{??????????? ????? ???????? ????????? ???? ???????? ??????????? ???????? ????? ??????????????? ????????????? ????? ???????? ?????????? ?????? ????? ?????? ????????? ????? ??? ???????? ?????? ???????????}

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah.  Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)

(Ismail A Margam)

SHARE
Previous articleTAKWA
Next articleUrgensi Dakwah Kepada Allah
Beliau saat ini adalah kandidat Doktor sekaligus peneliti di King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga belajar kepada beberapa ulama’ diantaranya Syaikh Dr. Saleh Fauzan dan Dr Sa’ad Syistry. Selain itu beliau juga merintis Pesantren Masyarakat Hubbul Khoir di Sukoharjo (Solo) Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here