MASUK SURGA BERSAMA KELUARGA

0
1025

Tabiat manusia adalah senang berkumpul dengan keluarga dan orang dekat. Siapa yang tidak bahagia dan gembira ketika berkumpul dengan orang-orang dekat, kumpul dengan suami/istri, anak-anak, orang tua dan lainnya. Misalkan di Indonesia ketika ada momen kumpul seperti Iedul Fitri, walimah, arisan keluarga atau yang lainnya orang secara umum akan bahagia. Bahkan meskipun dalam kondisi yang penuh keterbatasan orang tetap merasa tentram ketika mereka bisa kumpul dengan keluarganya. Kalau di Jawa ada pepatah terkenal “mangan ora mangan waton kumpul” (makan tidak makan asal kumpul). Orang yang terpisah dari keluarganya biasanya akan merasa kesepian meskipun dia memiliki berbagai kenikmatan. Misal dia tinggal jauh bersama keluarganya karena merantau atau yang lainnya.

Berkumpul di Surga

Berkumpul dengan keluarga adalah sebuah kenikmatan. Apalagi jika berkumpulnya dalam kondisi penuh kenikmatan yaitu di surga nanti. Tentu ini adalah kenikmatan diatas kenikmatan. Bisakah kita masuk kedalam surga bersama keluarga yang kita cintai? Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman akan dikumpulkan dengan anak keturunan mereka yang beriman juga:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thuur: 21)

 

Ayat ini dengan jelas menyebutkan bahwa orang yang beriman akan dikumpulkan bersama anak keturunannya juga yang beriman. Bahkan tidak sekedar anak, dalam ayat yang lainnya Allah juga menjelaskan bahwa mereka juga akan dikumpulkan dengan bapak-bapak dan istri-istri mereka. Allah berfirman:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ

“(Yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya” (QS Ar Ra’du: 23)

Terkait ayat ini Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Allah mengumpulkan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai di dalam surga yaitu orang tua, istri dan anak keturunan mereka yang mukmin dan layak masuk surga. Sampai-sampai, Allah mengangkat derajat yang rendah menjadi tinggi tanpa mengurangi derajat keluarga yang tinggi.”

 

Masuk surga bersama keluarga adalah kebahagian yang sangat besar. Namun bagaimana caranya? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Menjaga keimanan dalam keluarga

Syarat utama agar bisa dikumpulkan disurga adalah anggota keluarga itu sama-sama beriman. Lihat dalam QS Ath Thur 21 dan QS Ar Ra’du 23 diatas. Jika ada yang kafir maka tidak mungkin akan dikumpulkan di surga nanti bersama dengan keluarganya yang beriman. Nabi Nuh tidak akan dikumpulkan dengan anak dan istrinya yang tidak beriman, demikian juga Nabi Luth. Asiyah yang sholehah  tidak akan dikumpulkan dengan suaminya yang kafir (Fi’aun). Penting sekali menjaga keimanan dalam keluarga agar nantinya bisa kembali berkumpul di surga.

 

  1. Membiasakan amal sholih dalam keluarga

Iman saja tidak cukup, harus diiringi dengan amal sholih. Keluarga yang diberkahi adalah keluarga yang dipenuhi dengan berbagai amal sholih. Tidak selayaknya kita hanya fokus dengan ibadah atau amal yang kita lakukan sendiri tetapi melupakan keluarga kita. Mari kita ajak mereka untuk beribadah dan beramal bersama. Diantara amal yang paling agung adalah menegakkan sholat. Bahkan dalam Al Qur’an Allah secara khusus memerintahkan kita untuk memerintahkan keluarga menegakkan sholat:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS Thoha: 132)

Tidak boleh kita lalai dalam mengajak keluarga kita untuk shalat karena hal ini merupakan tanggung jawab. Sangat disayangkan di hari ini kita dapati keluarga yang acuh dalam masalah ini. Banyak sekali anak atau remaja yang tidak sholat dan orang tuanya hanya acuh saja!! Ketika anaknya masih kecil sebagian lalai mengarahkan mereka untuk sholat dengan alasan “kasihan”, akhirnya ketika sudah besar susah untuk diperintahkan mengerjakan sholat. Padahal Rasulullah bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

 

Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing.” (HR Hakim, dishahihkan Albani)

 

  1. Menjaga diri dan keluarga dari api neraka

Selain membiasakan amal sholih dalam keluarga, hal penting lainnya adalah berusaha menjaga diri dan keluarga dari dosa dan hal-hal yang dapat menyeret ke neraka.  Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS Tahrim: 6)

Jika terjadi kemungkaran dalam keluarga maka wajib diingkari, jangan dibiarkan. Apalagi bagi kepala rumah tangga. Misal suami mengetahui istrinya keluar rumah tidak memahai jilbab atau pakaian yang menutup aurat maka harus ditegur, jangan dibiarkan!

 

  1. Saling memahami tanggung jawab

Keluarga ibarat sebuah tim maka harus saling membantu dalam kebaikan. Masing-masing harus memahami hak dan kewajibannya. Seorang suami harus berusaha membimbing istri dan juga anak-anaknya. Seorang istri juga demikian harus memahami hak dan tanggung jawabnya. Orang tua harus berusaha secara maksimal mendidik dan membimbing anak-anaknya. Demikian juga sebaliknya, seorang anak hendaknya berusaha secara maksimal berbakti dan membantu orang tuanya.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (QS Isra’: 23)

 

  1. Jangan hanya memikirkan materi dalam keluarga!!

Sekarang banyak sekali keluarga yang jauh dari nilai-nilai ruhiyah dan moralitas. Mereka hanya sibuk memikirkan materi baik itu makanan, pakaian atau tempat tinggal. Mereka jauh sekali dari sentuhan agama dan juga akhlak-akhlak yang mulia. Orang tua hanya memikirkan anaknya makan apa dan nanti kerjanya apa. Jarang sekali memikirkan bagaimana agama dan juga akhlak anaknya. Lihat apa yang dicontohkan Nabiyullah Ya’qub, ketika beliau menjelang wafat:

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.” (QS Al Baqarah: 133)

 

Tergeletak di atas tikar maut, Nabi Ya’kub tetap memikirkan keselamatan aqidah putra-putranya. Orang tua yang baik wajib senantiasa melihat dan memikirkan sisi-sisi ruhiyah dan keagaaman anaknya.  Jangan hanya memikirkan materi dan hal-hal duniawi bagi anak-anaknya.

 

Sekian, semoga bermanfaat. Semoga Allah mudahkan kita masuk surga bersama keluarga yang kita cintai. Amien. (Dr. Abu Zakariya Sutrisno, 12/12/2019)