Kebatilan Ibarat Buih Banjir yang Tak Berharga dan akan Lenyap

0
1658

Allah menyebutkan banyak perumpamaan dalam Al Qur’an sebagai sebuah renungan bagi manusia. Salah satu perumpamaan yang Allah sebutkan adalah perumpaan al Haq (kebenaran) dan kebatilan. Mari kita tadaburi firman Allah dalam surat Ar Ra’d ayat ke 17 berikut,

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَداً رَّابِياً وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاء حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.

Ayat yang mulia diatas mengandung dua buah perumpamaan bagi kebenaran (yang akan senantiasa tetap dan kekal) dan kebatilan (yang akan lenyap). Pada permisalan yang pertama Allah mengibaratkan kebenaran sebagai air yang mengalir sedang kebatilan sebagai buih yang ada diatasnya. Sedang pada permisalan kedua Allah mengibaratkan kebenaran sebagai logam mulia sedang kebatilan sebagai kotoran yang melekat pada logam tersebut. Kebatilan akan lenyap sebagai sesuatu yang tidak ada harganya sebagaimana lenyapnya buih diatas aliran air atau sebagaimana lenyapnya kotoran yang melekat pada logam yang dipanasi api. Sebaliknya, kebenaran akan tetap dan kekal sebagaimana kekalnya air dan logam mulia. Kebenaran akan kekal dan manusia mengambil manfaat darinya.

Ayat diatas juga mengandung permisalan yang lainnya, yaitu permisalan akan hati manusia. Hati manusia itu ibarat lembah/waduk yang menampung air hujan. Setiap lembah mampu menampung air sesuai kapasitasnya. Waduk yang besar dan luas mampu menampung air yang banyak, sedang waduk yang kecil menampung sebatas ukurannya. Demikian juga dengan hati, ada yang mampu menampung banyak ilmu dan mudah menerima petunjuk tetapi ada juga yang sempit yang sulit menampung ilmu dan petunjuk.

Demikianlah perumpamaan yang Allah sebutkan. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya.

Disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir As Sa’di rahimahumallah.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 18 Dzulhijjah 1434H.

www.ukhuwahislamiah.com