Bagimu Agamamu Bagiku Agamaku

4
82789

Allah berfirman dalam surat al Kafirun,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS Al Kafirun: 6)

Sebagian orang menafsirkan ayat ini dengan sembarangan. Mereka mengatakan ayat ini memerintahkan untuk bertoleransi dalam agama.  Boleh memilih diantara agama-agama yang ada (????). Tentu ini adalah penafsiran yang salah dan jauh sekali dari kebenaran. Makna yang benar ayat ini adalah pernyataan berlepas diri dari orang-orang kafir. Dan juga pernyataan batilnya agama mereka. Agama mereka (orang-orang kafir) tidak sama dengan agama kita(orang-orang mukmin).   Serupa dengan ayat ini adalah firman Allah ta’ala,

فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ

Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir (QS Al Kahfi: 29)

Apakah ayat ini menunjukkan pilihan? Yaitu bahwa boleh beriman dan boleh tidak??? Tentu tidak demikian. Ayat ini menunjukkan atas sikap berlepas diri dari mereka. Biarkan jika ada yang tidak mau beriman, sesungguhnya telah ditegakkan hujjah atas mereka dan mereka akan merasakan adzab di hari kiamat kelak. Cermatilah kelanjutan firman Allah ta’ala dalam ayat diatas,

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَاراً أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاء كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءتْ مُرْتَفَقاً

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS Al Kahfi: 29)

 

{Faedah Kajian Kitab Fathul Majid, syaikh Dr. Saleh al Fauzan hafidzahullah. Riyadh, 23/1/1435H}