Al Muharram, Bulan Allah yang Mulia

1
1824

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

 

Salah satu bulan Allah yang mulia yaitu bulan Dzuhijjah telah berlalu, menandakan berakhirnya suatu tahun dan datanglah tahun berikutnya. Hari, bulan, dan tahun-tahun pun tidak terasa begitu cepat berjalan dan berlalu, mengingatkan kepada kita hakekat dunia ini bahwa tidak ada yang kekal di dalamnya. Hanya kehidupan akheratlah yang kekal lagi abadi. Maka beruntunglah orang-orang yang merenungi dan memahami hakekat kehidupan dunia ini. Mereka tidak lena dengan gemerlapnya dunia karena mereka yakin pasti semua itu akan berlalu, sebagaimana berlalunya hari-hari. Mereka juga tidak juga lengah untuk berbekal, berbekal untuk hari esok di alam akhirat karena mereka yakin pasti akan sampai padanya cepat atau lambat.

 

Sebagai seorang muslim hendaknya tidaklah setiap waktu berlalu kecuali kita senantiasa bersemangat dalam kebaikan. Berpindah dari suatu amalan/pekerjaan yang bermanfaat kepada amalan/pekerjaan yang lainnya. Sebagaiman Firman Allah ta’ala,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.  (QS Al Insyirah: 7)

Dengan berakhirnya bulan Dzulhijjah berarti kita akan memasuki bulan Muharram, yang mana juga termasuk salah satu bulan yang mulia dalam islam.

 

Kemuliaan dan Kautamaan bulan Al Muharram

Keutamaan dan kemuliaan bulan Al Muharram sangat banyak. Diantaranya sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi, Nabi menyebut bulan al Muharram dengan syahrullahi (bulan Allah), dan idhofah (penyandaran) dengan nama Allah ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan padanya, karena tidaklah disandarkan kepadaNya kecuali makhluq-makhluq yang memiliki keistimewaan. Sebagaimana disandarkannya nama Muhammad, Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, dan lainnya dari kalangan para nabi dengan istilah hambaNya, dan juga istilah baitullah, onta Allah [1]. Al Muharram termasuk satu diantara empat bulan yang dimuliakan dalam islam sebagaimana dalam hadist dari Abu Bakroh radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan yang diharamkan (disucikan). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Dan Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban. [2]

 

Keutamaan Puasa di Bulan al Muharram

Salah satu keutamaan bulan Al Muharram juga adalah bahwasanya puasa di dalamya adalah seutama-utama puasa setelah bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمِ

Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) bulan Allah yang bernama Muharram. [3]

Untuk itu hendaknya seorang muslim memperbanyak puasa di bulan al Muharram sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Terutama puasa di hari Asyura serta sehari sebelum dan sesudahnya.

 

Puasa hari Asyura (10 Muharram)

Puasa Asyura memiliki keistimewaan di kalangan orang-orang arab Quraisy sejak zaman jahiliyah. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, Dahulu di zaman jahiliyah orang-orang Quraisy berpuasa pada hari Asyura, dan Rasulullah juga berpuasa padanya di masa jahiliyah, saat hijrah ke Madinah Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa padanya. Saat datang kewajiban puasa Ramadhan maka beliau meninggalkan hari Asyura, barangsiapa mau maka silahkan berpuasa, bagi yang tidak maka tinggalkanlah [4]. Puasa Asyura memiliki banyak keutamaan. Diantaranya sebagaimana disebutkan dalam hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura, maka beliau menjawab, “Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu.” [5]

 

Puasa dihari Kesembilan (tashu’ah) dan Kesebelas

Tentang puasa di hari kesembilan bulan al Muharram terdapat hadist dari Rasulullah, beliau bersabda, Andaikata aku masih menjumpai tahun depan niscaya aku akan puasa dihari kesembilan [6]. Imam Syafi’I dan para sahabatnya serta Imam Ahmad, Ishaq, dan lainnya berkata, Disunnahkan puasa di hari kesembilan dan kesepuluh (di bulan al Muharram) karena Nabi puasa dihari kesepuluh dan berniat pula untuk puasa di hari kesembilan [7]. Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata, Tingkatan puasa (di bulan Muharram) ada tiga: Yang paling sempurna adalah berpuasa juga pada satu hari sebelum dan sesudahnya, lalu (tingkatan kedua) puasa di hari kesembilan dan sepuluh dan banyak hadist tentang hal ini, lalu (tingkatan ketiga) yaitu puasa hanya pada hari kesepuluh (hari Asyura) saja [8].

 

Penyimpangan di bulan al Muharram dan di hari Asyura

Bulan muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriah. Namun, perlu diketahui bahwa dalam islam tidak ada syariat memperingati tahun baru sebagaimana yang dikerjakan sebagaian orang Yahudi dan Nashara. Yang wajib dilakukan setiap muslim adalah hendaknya ia senantiasa semangat beramal sesuai dengan apa yang diajarkan Rosulullah tanpa perlu menambah atau mengurangi. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah seputar penyimpangan di hari Asyura’, Adapun semua perkara seperti membuat makanan tidak seperti pada hari-hari biasa seperti biji-bijian atau yang lainnya, atau memperbarui pakaian, atau membagi-bagikan sedekah, atau membeli keperluan dalam setahun pada hari itu, atau mengerjakan ibadah khusus seperti shalat khusus padanya, atau menyengaja menyembelih (karenanya), atau menghemat daging qurban untuk dimasak dengan biji-bijian, atau bercelak atau mewarnai, atau mandi, atau bersalam-salaman, atau saling berkunjung, atau menziarahi masjid, kuburan, dan yang semisalnya maka semua itu termasuk bid’ah yang mungkar yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah tidak pula Khalifah Ar Rasyidin dan juga disunnahkan oleh imam-imam kaum muslimin, tidak Malik, ats Tsaury, Laits bis Sa’ad, Abu Hanifah, Auza’I, Syafi’I, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, tidak pula yang semisal mereka dari kalangan imam dan ulama’ kaum muslimin [9].

 

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosulullah serta keluarga dan sahabatnya.

 

Artikel ini banyak mengambil faedah dari Kutaib Syahrullahi al Muharram Fadhluhu wa Ahkamuhu karya Sulaiman bin Jasir bin AbdulKarim al Jasir hafidzahullah.

 

Selesai ditulis di Riyadh, di 30 Dzulhijjah 1431 H (6 Des 2010). Direvisi 3 Muharram 1433 (28 Nov 2011)

Abu Zakariya Sutrisno

Artikel: www.ukhuwahislamiah.com

 

Notes:

[1]. Latho’if al Ma’arif (hal 90)

[2]. HR. Bukhari (3025), Muslim (4477)

[3]. HR. Muslim (747)

[4]. HR Bukhari (2002), Muslim (1125)

[5]. HR. Muslim (2804)

[6]. HR Muslim (2723) dari hadist Ibnu Abbas radhiyallhu anhu

[7]. Kutaib Syahrullahi al Muharram Fadhluhu wa Ahkamuhu hal.21

[8]. Zaadul Ma’ad, cet Ar Risalah (2/76) tahqiq Syu’aib dan Abdullqadir Al Arnauth

[9]. Majmu’ Fatawa (13/167)