Adab Bertamu dan Menerima Tamu

0
2577
  1. Seorang muslim wajib memuliakan tamu. Rasulullah bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaknya memuliakan tamunya” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)

  1. Hendaknya mengundang untuk bertamu orang-orang yang bertaqwa bukan orang-orang yang fasiq atau fajir. Rasulullah bersabda, “Jangan engkau bersahabat kecuali orang mukmin dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa” (HR. Abu Dawud no. 4832 dihasankan Albani)
  2. Jangan mengkhususkan mengundang orang-orang yang kaya saja untuk bertamu dan melupakan orang yang kurang mampu. Rasulullah, “Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah (jamuan) yang diundang padanya orang-orang kaya saja dan meninggalkan orang-orang miskin” (HR. Abu Dawud no. 3742)
  3. Jangan memaksudkan mengundang tamu untuk berbangga-banggaan atau sombong. Tetapi niatkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah dan untuk mendatangkan kebahagiaan pada saudara mukmin yang lainnya. Jangan mengundang orang yang sekira sulit atau berat untuk datang seperti orang tinggal jauh dari kita.
  4. Hendaknya memenuhi undangan kecuali jika ada udzur. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa diundang maka penuhi” (HR. Abu Dawud). Jangan sekedar memenuhi undangan orang yang kaya dan malas mendatangi undangan orang yang kurang mampu.
  5. Jamulah tamu sesuai dengan kemampuan. Jangan kurang karena termasuk kurang adab dan tidak memuliakan tamu. Dan sebaliknya jangan berlebihan karena itu bisa membebani diri sendiri dan bahkan bisa termasuk sombong.
  6. Jika memungkinkan hendaknya segera menyuguhkan hidangan karena itu termasuk memuliakan tamu. Hendaknya menemani tamu saat makan, jangan menyuruh dia makan sendiri sehingga merasa sungkan.
  7. Jika bertamu jangan lebih dari tiga hari karena bisa jadi hal tersebut memberatkan tuan rumah. Kecuali kalau diminta oleh tuan rumah untuk tinggal lebih lama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ

Bertamu itu (yang normal) tiga hari, adapun yang lebih dari itu maka sedekah atasnya” (HR. Bukhari no. 6019)

  1. Hendaknya menemani tamu saat keluar rumah (misal saat mau pulang) karena hal ini termasuk adab dan diamalkan juga oleh para salafusshalih.
  2. Hendaknya seorang muslim memiliki tempat tidur yang cukup dirumahnya termasuk untuk tamu. Jangan kurang atau berlebihan. Rasulullah bersabda,

فِرَاشٌ لِلرَّجُلِ، وَفِرَاشٌ لِامْرَأَتِهِ، وَالثَّالِثُ لِلضَّيْفِ، وَالرَّابِعُ لِلشَّيْطَانِ

Satu tempat tidur untuk laki-laki, satu tempat untuk istrinya, yang ketiga untuk tamu dan yang keempat untuk setan” (HR. Muslim no. 2084)

 

Disarikan dari kitab Minhajul Muslim karya syaikh Abu Bakar Jazairiy rahimahullah.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 19/12/1437H


| Web:Ukhuwahislamiah.com | FB:Ukhuwah Islamiah | Twitter:@ukhuwah_islamia |

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here