5 Keistimewaan Umat Islam di Bulan Ramadhan

0
6097

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bawasanya Rasulullah shalallahu ‘alahi wassallam bersabda, “Umatku diberi 5 hal di bulan Ramadhan yang mana tidak diberikan pada umat sebelumnya, (yaitu: ) bau mulutnya orang berpuasa lebih harum disisi Allah daripada minyak misk/kesturi, malaikat memohonkan ampun untuk mereka sampai berbuka, tiap hari Allah menghiasi surgaNya dan mengatakan padanya: ‘hampir-hampir hambaKu yang shalih dibebaskan darinya beban dan gangguan dan serta mereka menuju kalian’, dan setan-setan dibelenggu sehingga tidak leluasa melakukan apa yang biasa mereka lalukan di luar Ramadhan, dan mereka diampuni di akhir malam. Para sahabat berkata: wahai Rasulullah, apakah itu malam lailatul qadar? Rasulullah menjawab: Tidak. Namun bagi orang yang beramal maka sesungguhnya ia diberi ganjaran setiap selesai mengerjakan amalannya ” [1]

Dalam hadits ini Rasulullah mengabarkan bahwa Allah memberi 5 kekhususan untuk umat Islam atas umat-umat sebelumnya.  Hal ini tidak lain merupakan salah satu bentuk keutamaan umat ini atas umat sebelumnya. Kelima hal tersebut yaitu:

Pertama, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari minyak kesturi [2]. Bau mulut muncul karena perut orang yang berpuasa kosong dari makanan. Secara umum bau ini dibenci oleh manusia, tetapi disisi Allah lebih harum dari minyak kesturi karena merupakan atsar/bekas dari ibadah kepadaNya. Segala sesuatu yang muncul karena pengaruh ibadah atau ketaatan kepada Alllah maka Allah mencintainya dan menggantinya dengan yang lebih baik. Sebagaimana bekas darah orang yang mati syahid fi sabilillah. Begitu juga pakaian yang kumal dan berdebu bagi seorang yang menunaikan haji [3].

Kedua, malaikat beristighfar bagi orang yang puasa sampai berbuka. Malaikat adalah makhuq yang mulia, mereka tidak pernah bermaksiat kepadaNya dan senantiasa patuh terhadap perintahNya. Allah mengizinkan para malaikat untuk beristiqfar untuk orang yang berpuasa tidak lain merupakan bentuk pemuliaan atas mereka (yakni orang-orang yang berpuasa).   Makna istighfar adalah memohon maghfirah yaitu ditutupinya dosa di dunia dan akhirat dan diampuni darinya. Setiap bani Adam memiliki salah dan sering berbuat yang melewati batas, maka mereka sangat butuh maghfirah dari Allah azza wa jalla.

Ketiga, tiap hari Allah menghiasi surga yang disiapkan untuk orang hambaNya yang shalih. Hal ini tidak lain merupakan kabar gembira sekaligus motivasi bagi hambaNya yang shalih agar bersemangat untuk memasukinya. Allah mengabarkan bahwa mereka sebentar lagi terlepas dari kesusahan dan gangguan hidup di dunia dan mereka akan memasuki surgaNya yang penuh kesenangan dan kemuliaan.

Keempat, setan-setan dibelenggu sehingga mereka tidak leluasa untuk mengganggu hamba-hambaNya. Mereka tidak leluasa untuk menyesatkan manusia dari kebenaran atau menghalangi mereka dari kebaikan. Ini merupakan salah satu pertolongan Allah bagi hambaNya atas musuhnya. Tidak aneh jika kita dapati orang-orang yang shalih bersemangat untuk beramal di bulan yang mulia ini.

Kelima, Allah mengampuni umat Nabi Muhammad tiap akhir malam jika mereka mengerjakan apa yang diperintahkan atas mereka seperti puasa, sholat dan lainnya.

Sekian. Semoga bermanfaat.

Abu Zakariya Sutrisno. Sukoharjo, 28 Sya’ban 1434 H (7 Juli 2013).

www.ukhuwahislamiah.com

Maraji: Majalis Syahri Ramadhan karya syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah.

Catatan:

[1]    Diriwayatkan Bazar dan Baihaqy di dalam kitabnya Ats Tsawaab dan isnadnya sangat lemah. Tetapi sebagiannya memiliki syawahid yang shahih.

[2]    Diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim tanpa menyebutkan kekhususan atas umat Islam.

[3]    Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban dalam shahihnya. Hadits ini shahih dengan syawahidnya.

 

SHARE
Previous articleKhutbah Jum’at Menyambut Bulan Ramadhan
Next articleKeutamaan-Keutamaan Puasa
Beliau saat ini adalah kandidat Doktor sekaligus peneliti di King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga belajar kepada beberapa ulama’ diantaranya Syaikh Dr. Saleh Fauzan dan Dr Sa’ad Syistry. Selain itu beliau juga merintis Pesantren Masyarakat Hubbul Khoir di Sukoharjo (Solo) Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here