Urgensi Dakwah Kepada Allah

Oct 16, 2010 by

Urgensi Dakwah Kepada Allah

Terbit Tiap Jum’at

Edisi Ketiga Puluh Tiga

16 Rabi’uts Tsani 1428 H

04 Mei 2007 M

Dakwah menyeru manusia ke jalan Allah merupakan perkara yang dharuri (sangat penting) di jaman ini. Terutama dengan kondisi umat yang kebanyakan terjatuh ke dalam berbagai penyelewengan dalam beragama serta arus penyebaran fitnah dan kemaksiatan yang cukup deras. Sedangkan dakwah itu sendiri merupakan pekerjaan yang sangat mulia dikarenakan beragam keutamaan dan keistimewaan yang dimilikinya.

Tidak tersembunyi bagi seorang muslim, kedudukan yang agung dan derajat yang tinggi yang terdapat pada dakwah dalam syariat Islam. Bahkan dakwah merupakan tugas yang mulia, cukuplah didalam kemuliaan dan kedudukannya, bahwa keberadaan dakwah itu sebagai tugas para rasul.

Allah I berfirman:

) ???????? ????????? ???? ???? ??????? ????????? ???? ????????? ????? ?? ??????????? ??????????? (

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu“. (Q.S An-Nahl: 36)

)???? ?????? ???????? ???????? ????? ????? ????? ????????? ??????????? ??????????? ??????????? ????? ?????????? ???? ?????????????? (

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

{???????? ????????????? ???????????? ???????? ??????? ????????? ????? ????? ???????? ?????? ????????? ??????? ????? ???????? ????????}

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 165)

Maka tugas mereka para rasul adalah menyeru manusia kepada Allah I untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangn-larangan-Nya

Sungguh Rasulullah e telah memberikan motifasi dan dorongan untuk berdakwah kepada Allah. Beliau  mengutus para da’i (shahabat) kepada umat manusia untuk mengajari, memahamkan dan membimbing mereka kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Bahkan para shahabat y, telah memahami bahwa dakwah merupakan kewajiban yang pokok, maka mereka bersegera untuk meminta Rasulullah e mengajarkan dan memahamkan mereka supaya mereka dapat berdakwah kepada kaum mereka. Sehingga dahulu salah seorang dari mereka yang baru masuk Islam, pertama kali yang ia ketahui adalah pentingnya dakwah kepada Allah, serta menyampaikan dakwah adalah wajib hukumnya.

Dari Ibnu Abbas  radhiyallahu ‘anhuma dalam hadits Wafd bin Qais di dalamnya: Para shahabat y berkata: Wahai Rasulullah perintahkanlah kami dengan suatu perkara yang kami beramal dengannya dan menyeru manusia yang berada di belakang kami kepadanya. (Muttafaq ‘Aliah). Berdasarkan hadits ini telah dibuat bab dalam Shahih Muslim Bab Perintah Beriman Kepada Allah, Rasul-Nya dan Syariat Agama, Berdakwah Kepadanya, Bertanya Tentangnya, Menjaga dan Menyampaikannya Kepada Orang Yang Belum Sampai Kepadanya.

Hal ini dikarenakan Manusia harus memiliki para da’i yang menyeru kepada Allah I untuk megeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, kegelapan syirik dan kufur kepada cahaya Islam, kegelapan bid’ah kepada cahaya sunnah, kegelapan maksiat kepada cahaya ta’at dan petunjuk, dan dari kegelapan kebodohan kepada cahaya ilmu. Semuanya sesuai dengan kondisinya.

Orang yang memperhatikan akan kondisi manusia, ia akan mendapati mereka sangat membutuhkan dakwah kepada Allah dan hidayah. Bahkan terkadang melebihi kebutuhan mereka kepada makan dan minum. Maka tidak akan tegak kondisi alam ini secara keseluruhan kecuali dengan dakwah kepada Allah, karena ia merupakan sumber kemaslahatan dan kebaikan. Bila tidak ada dakwah maka jadilah bumi ini penuh pergolakan dan manusia hidup dalam keadaan kacau laksana binatang.

Manusia sangat membutuhkan perintah dan larangan, karena mustahil mereka dengan sendirinya mengenal kebenaran dan kebaikan secara lengkap dan sempurna. Sekalipun terkadang mereka mengetahui secara global kejelekan dan kebaikan tapi mereka tidak akan mengetahui hakekat semua urusan secara terperinci kecuali dengan wahyu Allah I. Oleh karena itu manusia membutuhkan akan diutusnya para rasul, diturunkannya kitab-kitab dan ditegakkannya hujjah.

Dahulu Nabi e memotifasi para shahabatnya untuk berdakwah kepada Allah I dan mengobarkan semangat mereka untuk itu, serta menjelaskan pahala yang dikandungnya dan akan diangkat derajatnya di sisi Allah I bila mereka menegakkannya.

???? ?????? ???? ?????????? ?????: ????? ???????? ????? e????????? ???? ????? ???????: ((?????? ???????? ????? ???? ??????? ???????? ?????? ???? ???? ?????? ?????????))

Dari Sahal bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah e bersabda kepada Ali bin Abi Thalib t: “Allah memberikan petunjuk kepada seseorang disebabkan engkau labih baik bagimu dari pada unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

???? ????? ?????????? ???????? ???? ??????? ?? ???????????? ?????: ????? ???????? ?????e : ((???? ????? ????? ?????? ?????? ?????? ?????? ?????????))

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari t, ia berkata: Rasulullah e bersabda: “Barangsiapa yang menunjukan satu kebaikan maka baginya pahala yang serupa dengan orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

???? ????? ?????????? ?????: ????? ???????? ?????e : ((???? ????? ????? ????? ????? ???? ???? ????????? ?????? ???????? ???? ????????, ??? ???????? ???? ???????????? ???????))

Dari Abu Hurairah t, ia berkata: Rasulullah e bersabda: “Barangsiapa yang menyeru kepada satu petunjuk maka baginya pahala yang serupa dengan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Sungguh para shahabat y telah meyakini Rabb mereka dengan perkataan dan perbuatan, menegakkan dakwah kepada Allah dengan penegakkan yang sangat sempurna dan menunaikannya dengan sebaik-baik penunaian. Mereka benar-benar mempersenjatai diri mereka ketika berdakwah dengan keikhlasan yang sempurna, tawakkal yang murni dan pemahaman tentang Allah I dan Rasul-Nya. Mereka menjadikan sabar sebagai senjata dan pahala yang dijanjikan sebagai nikmat dan hadiyah yang teragung. Maka meninggilah pohon dakwah mereka mencapai padatnya bintang di ketinggiannya dan memunculkan buahnya dalam bentuk yang indah. Kaum muslimin tetap berteduh di bawah naungan dakwah mereka yang penuh berkah dan ia akan kekal hingga Allah I mewarisi bumi dan manusia yang ada di atasnya. Semoga Allah I meridhai mereka .

Andaikan kita berkeinginan menyebut keutamaan dan keistimewaan dakwah, maka sungguh banyak jumlahnya. Karakteristik dan keberkahan dakwah tidak mungkin dibatasi. Dengan meneliti nash-nash Qur’an maupun Hadits dan peninggalan Salafush Shalih (generasi terdahulu dari para shahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik), seseorang akan berhenti pada posisi bahwa betapa banyak nash-nash syariat yang mengisyaratkan kepada keutamaan dan kebaikan ibadah yang mulia ini. Dan saya (penulis makalah) akan mengisyaratkan kepada yang paling urgens darinya yang menyerupai pokok-pokok yang umum.

Pertama: Bahwasanya dakwah kepada Allah merupakan sebaik-baik perkataan bagi orang yang menyibukkan diri dengannya serta melakukan amal shalih.

Allah I berfirman:

?????? ???????? ??????? ??????? ????? ????? ????? ???????? ???????? ??????? ???????? ???? ??????????????

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.” (QS. Fushilat: 33)

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Ayat ini mencakup setiap orang menyeru kepada kebaikan, sedang dia sendiri adalah orang yang mendapat petunjuk. Dan Rasulullah e lebih utama dengan gelar ini.”

Kedua: Dakwah kepada Allah merupakan di antara sebab umat ini mendapat sebutan al-khairiyah (sebaik-baik umat).

Allah I berfirman:

??????? ?????? ??????? ?????????? ????????? ??????????? ?????????????? ???????????? ???? ?????????? ????????????? ???????

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Maka siapa saja dari umat ini bersifat dengan sifat-sifat ini, ia tergolong bersama mereka dalam sanjungan dan pujian kepada mereka tersebut. Sebagaimana yang dikatakan Abu Qatadah: “Telah sampai kepada kami bahwa Umar bin Al-Khaththab t ketika musim haji yang diikutinya, ia melihat manusia terburu-buru lalu ia membaca ayat ini “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, ” Kemudian ia berkata: Barangsiapa yang senang ia termasuk umat yang terbaik tersebut maka hendaklah menunaikan syarat Allah di dalamnya. Dan barangsiapa yang tidak bersifat dengan sifat-sifat tersebut, ia serupa dengan ahli kitab (yahudi dan nashrani) yang Allah I telah mencela mereka dengan firman-Nya:

??????? ???????????????? ??? ???????? ????????? ???????? ??? ??????? ???????????

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Ma’idah: 79)

Ketiga: Tercapainya keberuntungan dan kemenangan akan terrealisasi dengan izin Allah bagi siapa yang menegakkan sendi-sendinya, menanggung beban-bebannya dan menunaikannya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah I dan Rasul-Nya.

Allah I berfirman:

????????? ???????? ???????? ????????? ????? ????????? ????????????? ?????????????? ???????????? ???? ?????????? ????????????? ???? ??????????????

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: ”Maksud dari ayat ini adalah: Hendaknya ada satu kelompok dari umat ini yang mengurusi perkara ini sekalipun ia merupakan kewajiban bagi setiap individu dari umat ini sesuai dengan keadaannya.” Ayat-ayat dan hadits-hadits yang berbicara tentang masalah ini cukup banyak untuk dibatasi dan cukup masyhur untuk disebut.

(Diterjemahkan dari makalah berjudul Fadhail Ad-Da’wah ilallah wa Mazayaha oleh Aziz bin Farhan Al-‘Anazi yang dimuat dalam majalah “ummati” Kuwait edisi Shafar 1427 H hal: 13)*


* Ralat edisi 31 dan 32:

Pada edisi 31 Hal: 3, sub bahasan urgensi dan keutamaan takwa:

-          Poin pertama,teks ayat kurang. Seharusnya:{ ???? ???????? ????}

-          Poin ketiga, teks ayat: {??????? ????? ??? ??????? ?????????????} seharusnya: {??????? ????? ??????? ?????????????}tanpa huruf ( ??? ).

-          Poin kedelapan, terjemahan ayat (QS. Ath-Thalaq: 2-3) kalimat :Mereka akan dst tidak masuk dalam terjemahan ayat.

-          Poin kesepuluh, teks ayat kurang. Seharusnya: {?????????????????}

Pada edisi 32,

-          Hal: 2, terjemahan hadits: …Wahai fulan sesungguhnya semalam engkau telah…seharusnya: …Wahai fulan sesungguhnya semalam aku telah…

-          Hal: 3, teks arab pada (QS Thaha: 82) seharusnya berada pada hadits berikutnya, sedangkan teks ayat tersebut: {???????? ?????????? ?????? ????? ????????? ???????? ???????? ????? ????????}

Kami mohon maaf sebesar-besarnya atas kekeliruan ini.

Related Posts

Tags

Share This

468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


six + = 9

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>