Tiga Landasan Dasar bagi Seorang Muslim

Mar 15, 2011 by

Tiga Landasan Dasar bagi Seorang Muslim

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

Berikut ini, kami meringkas pembahasan tentang tiga landasan pokok seorang muslim dari kitab Al Ushuulu ats Tsalaatsah oleh Syaikh Muhammad at Tamimi rahimahullah. Kami memberi beberapa tambahan penjelasan supaya lebih mudah difahami.

Empat Kewajiban Pokok seorang Muslim

Untuk menggapai keberhasilan dan kebahagiaan serta terhindar dari kerugian  di dunia dan akhirat, wajib bagi seorang muslim untuk memperhatikan dan membekali dirinya dengan empat hal, yaitu :

1.  Ilmu, ialah mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalil yang benar.

2.  Amal, ialah menerapkan ilmu.

3.  Da’wah, ialah mengajak orang lain kepada ilmu.

4.  Sabar, ialah tabah dan tangguh menghadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan berda’wah kepadanya.

Allah berfirman,

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, melakukan segala amal shalih dan saling nasihat-menasihati untuk (menegakkan) yang haq, serta nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar. (QS. Al-’Ashr : 1-3)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah Ta’ala, mengatakan :”Seandainya Allah hanya menurunkan surah ini saja sebagai hujjah buat makhluk-Nya, sungguh telah cukup surah ini sebagai hujjah bagi mereka“.  Maksud perkataan Imam Syafi’i tersebut bahwa, secara global dalam surat ini Allah telah menjelaskan sebab keselamatan bagi manusia, sehingga di hari kiamat kelak tidak ada yang dapat berhujah bahwa, dia tidak tahu jalan keselamatan itu bagaimana. Bukan berarti hanya dengan surat ini saja cukup sebagai pegangan manusia, karena Al Qur’an dan Sunnah secara keseluruhan adalah penjelas yang merinci jalan keselamatan tersebut [1].

Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Seorang Muslim :

Pertama, Allah telah mengutus para Rasul untuk membimbing kita kepada jalan keselamatan. Barangsiapa mentaati rasul pasti akan masuk surga dan barangsiapa menyalahinya pasti akan masuk neraka. Allah Ta’ala berfirman :”Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang rasul yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus kepada Fir’aun seorang rasul, tetapi Fir’aun mendurhakai rasul itu, maka Kami siksa ia dengan siksaan yang berat“. (Al-Muzammil : 15-16)

Kedua,  Allah tidak rela jika dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Baik itu dengan seorang malaikat yang terdekat atau pun dengan seorang nabi yang mulia yang diutus manjadi rasul. Allah Ta’ala berfirman : “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah seorang-pun di dalamnya disamping (menyembah) Allah“. (Al-Jinn : 18)

Ketiga,  Hendaknya seorang muslim tidak berwala’(loyal) dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu keluarga dekat. Allah Ta’ala berfirman : “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka..“. (Al-Mujaadalah : 22)

Definisi Agama yang Lurus (Hanifiyah):

Hanifiyah (agama yang lurus) yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim adalah ibadah kepada Allah semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya [2]. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyaat : 56).

Ibadah dalam ayat ini artinya adalah tauhid dan itulah perintah Allah yang paling agung. Sebaliknya, larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu menyembah selain Allah di samping menyembah-Nya.

Tiga Landasan Utama Seorang Muslim

Tiga landasan utama yang wajib diketahui oleh manusia yaitu, mengenal Allah ‘Azza wa Jalla, mengenal agama Islam, dan mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenapa kita harus mengenal tiga hal ini? Karena ketiganya adalah asas agama Islam yang dengannya agama ini dibangun. Ketiganya juga akan ditanyakan setelah meninggal, yaitu saat mayit diletakkan di kuburnya [3].

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Allah adalah Dzat yang telah menciptakan dan memberikan rezeki pada kita, Dia pula yang menciptakan alam semesta dan yang memeliharanya. Dan semua yang ada didunia ini, baik berupa makhluk ataupun ayat-ayatNya, menunjukkan keberadaanNya.Dialah satu-satunya Dzat yang patut kita sembah, Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (QS. al Baqarah: 21)

Ibnu Katsir rahimahullah ta’ala, mengatakan :”Hanya Pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak disembah dengan segala macam ibadah”.

Hendaknya setiap muslim berusaha mengenal Rabbnya dengan sebaik-baiknya dan mentauhidkanNya dengan sebenar-benarnya baik tauhid rububiyah, uluhiyah, maupun asma wa sifat [4].

Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam

Islam ialah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya  dengan penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat syirik. Agama Islam, dalam pengertian tersebut, mempunyai tiga tingkatan yaitu : Islam, Iman dan Ihsan, masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukunnya. Dijelaskan dalam banyak ayat Al Qur’an dan hadist Rasulullah rincian tentang rukun-rukun tersebut, sebagaimana hadist jibril yang masyhur yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu.

“Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya, tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menyandarkan kelututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata : ‘Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam‘, maka beliau menjawab :’Yaitu : bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta  Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana’. Lelaki itu pun berkata : ‘Benarlah engkau’. Kata Umar :’Kami merasa heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau. Lalu ia berkata : ‘Beritahulah aku tentang Iman’. Beliau menjawab :’Yaitu : Beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk’. Ia pun berkata : ‘Benarlah engkau’. Kemudian ia berkata : ‘Beritahullah aku tentang Ihsan‘. Beliau menjawab : Yaitu : Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu’. Ia berkata lagi. Beritahulah aku tentang hari Kiamat. Beliau menjawab : ‘Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya’. AKhirnya ia berkata :’Beritahulah aku sebagian dari tanda-tanda Kiamat itu’. Beliau menjawab : Yaitu : ‘Apabila ada hamba sahaya wanita melahirkan tuannya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna melarat lagi, pengembala domba saling membangga-banggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi’. Kata Umar : Lalu pergilah orang laki-laki itu, semantara kami berdiam diri saja dalam waktu yang lama, sehingga Nabi bertanya : Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ? Aku menjawab : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau pun bersabda : ‘Dia adalah Jibril, telah datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian [5].

Landasan Ketiga: Mengenal Rasulullah

Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah, bin ‘Abdul Muthallib, bin Hasyim. Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedang bangsa Arab adalah termasuk keturunan Nabi Isma’il, putera Nabi Ibrahim Al-Khalil. Beliau berumur 63 tahun, diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi nabi dan 23 tahun  sebagai nabi dan rasul. Beliau diangkat sebagai nabi dengan “Iqra” (surah Al-’Alaq : 1-5) dan diangkat sebagai rasul dengan surah Al-Mudatstsir.

Asal beliau dari Makkah, selama 10 tahun disana beliau dengan gigih mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu, beliau di mi’rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun. Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Setelah Nabi Muhammad menetap di Madinah, disyariatkan kepada beliau zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta syariat-syariat Islam lainnya. 10 tahun sesudah itu beliau wafat, sedangkan agamanya tetap dalam keadaan lestari. Agama Islam inilah yang beliau bawa, tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan kepada umatnya supaya di jauhi [6].

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulallah serta keluarga dan sahabatnya.

Selesai ditulis di Riyadh, 9 Rabi’ul Tsaani 1432 H (14 Maret 2011)

Abu Zakariya Sutrisno

Artikel: www.thaybah.or.id / www.ukhuwahislamiah.com

Notes:

[1].  Lihat Syarah Utsulu ats Tsalasah oleh Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al Fauzan hafidzahullah.

[2].  Berkata syaikh Fauzan hafidzahullah : “Disini terkumpul dua hal yaitu ibadah dan keikhlasan (pemurnian niat). Ibadah tidak akan diterima andaikata tidak ikhlas kepadaNya, sehingga meskipun seseorang shalat, puasa, zakat, haji  tetapi dilandasi riya’ atau sum’ah maka tidak diterima ibadah tersebut. Begitu juga ibadah tidak akan diterima ibadah jika tercampur dengan kesyirikan”.

[3].  Dikeluarkan Bukhari (1338) dan Muslim (2870) dari Sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu. Abu Dawud  dari sahabat Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu (4753).

[4].  Untuk pembasan lebih lanjut tentang tauhid dapat dilihat di Kitabu Tauhid oleh syaikh Muhammad at Tamimi rahimahullah,al Aqidah al Watsitiyah (dalam asma’ wa sifat) oleh Syaikhul Islam ibn Taimiyah rahimahullah, maupun kitab-kitab tauhid  yang lainnya.

[5].  Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Iman (8). Dan diriwayatkan juga hadits dengan lafadz seperti ini dari Abu Hurairah oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-Iman (50)

[6].  Untuk mengenal pribadi beliau lebih lanjut dapat dilihat di kitab-kitab sirah nabawiyah seperti Zaadul Ma’ad oleh Ibnu Qoyyim rahimahullah.

Related Posts

Share This

468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


eight − 2 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>