Tauhid Prioritas Utama dalam Dakwah

0
247

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku (Alloh) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadat (semata-mata) kepada-Ku. (QS adz-Dzariyat: 56)

Tujuan utama diciptakan manusia adalah untuk bertauhid atau beribadah kepada Allah semata. Oleh karena itu tauhid menjadi prioritas utama dakwah para Nabi dan Rasul. Bahkan kalau kita cermati perjuangan dakwah Rasulullah maka kita akan dapati penuh dengan dakwah kepada tauhid. 13 tahun beliau berdakwah di Makah memfokuskan pada tauhid. Demikian pula setelah hijrah ke Madinah beliau tetap menaruh perhatian besar pada dakwah tauhid disamping juga mengajarkan masalah ibadah, muammalah, akhlaq dan lainnya.

Anehnya kita dapati di zaman ini sebagian kelompok yang menamai diri mereka dengan “kelompok atau organisasi dakwah” kurang memperhatikan masalah tauhid. Sebagian sibuk dengan masalah akhlaq semata, sebagian sibuk masalah politik, sebagian sibuk dengan penegakkan Negara Islam, masalah khilafah dan lainnya. Tidak diragukan lagi bahwa masalah-masalah tersebut juga penting, tetapi menjadikannya sebagai inti dari dakwah dan mengesampingkan masalah tauhid adalah kesalahan besar. Sebagian terkesan meremehkan dan mengkerdilkan dakwah tauhid.  Bahkan sebagian mengatakan dakwah tauhid sudah tidak relevan dengan zaman atau mengatakan bahwa dakwah tauhid akan memecah belah umat(???). Oleh karena itu, tulisan yang singkat ini mencoba membahas betapa pentingnya dakwah kepada tauhid dan aqidah yang benar.

Pertama: Tauhid adalah dakwah Para Nabi dan Rasul

Para Nabi dan Rasul adalah teladan utama dalam berdakwah ilallah. Mereka diutus kepada umatnya masing-masing dengan syariat yang berbeda-beda. Tetapi inti dakwah mereka sama yaitu tauhidullah (menjadikan ibadah hanya kepada Allah semata). Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS An Nahl: 36)

Allah juga berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS Al Anbiyaa’: 25)

Bahkan dalam beberapa tempat dalam surat Huud Allah menyebutkan seruan para RasulNya kepada kaumnya untuk mengesakan Allah. Diantaranya adalah tentang nabi Huud, Allah berfirman,

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ مُفْتَرُونَ

Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (QS Huud: 50)

 

Kedua: Tauhid Prioritas dakwah Nabi Muhammad

Sebagaimana telah disebutkan diawal bahwa fokus utama dakwah Rasulullah adalah pada tauhid. Allah berfirman,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik“. (QS Yusuf: 108)

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya berkaitan dengan ayat ini, “Allah memerintahkan NabiNYa untuk mengabarkan kepada manusia bahwa ini adalah jalan, metode dan sunnahnya yaitu berdakwah kepada persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali hanya Allah semata dan tidak ada sekutu bagiNya. Menyeru kepada hal tersebut dengan ilmu, yaqin dan hujah yang nyata…”. Tidak diragukan lagi bahwa dakwah beliau telah berhasil mengeluarkan manusia dari zaman kejahiliahan (dengan segala macam problematika dan kebobrokkannya) ke zaman Islam yang cemerlang. Kita sebagai umatnya sudah sepantaskan meneladani beliau dalam berdakwah. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (QS Al Ahzab: 21)

Ketiga: Tauhid adalah Pondasi Islam

Tauhid adalah pondasi dan rukun yang paling penting dalam agama Islam. Rasulullah bersabda, “Islam didirikan diatas lima perkara yaitu bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah secara benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke baitullah dan berpuasa pada bulan ramadhan” [HR Bukhari dan Muslim]. Tidak akan diterima suatu amal ibadah kecuali harus dilandasi dengan tauhid. Jika tauhid seseorang baik maka insyaallah masalah ibadah, muammalah, akhlaq dan perkara lainnya juga akan baik.

Karena pentingnya kedudukan tauhid maka sudah sepantasnya ia menjadi prioritas dalam dakwah. Oleh karena itu saat Rasulullah mengutus Muadz bin Jabbal ke Yaman beliau berpesan agar yang pertama kali didakwahkan adalah tauhid, jika diterima maka lanjutkan dengan syariat Islam yang lainnya. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka bersaksi sesungguhnya tidak ada sesembahan yang haq kecuali hanya Allah dan Muhammad adalah utusanNya…dst” [HR Bukhari dan Muslim  (19)].

Keempat: Umat Masih Jauh dari Tauhid yang Benar

Sebagian orang mencoba menyepelekan dakwah tauhid dengan mengatakan bahwa sekarang ini kebanyakan orang sudah masuk Islam dan mereka telah bersyahadat la ilaha illallah, jadi tidak perlu lagi dakwah tauhid (???). Ini adalah ucapan yang batil. Nyatanya sekarang ini kebodohan masih meliputi segelap lapisan masyarakat. Banyak yang tidak memahami tauhid dengan benar baik dalam masalah tauhid rububiyah (ketuhanan), uluhiyah (peribadatan) apalagi masalah asma wa sifat (nama dan sifat-sifat Allah). Bahkan makna la ilaha illallah pun banyak yang tidak memahaminya dengan benar. Sehingga tidak jarang kita dapati seorang yang mengaku muslim, mengucapkan la ilaha illallah dengan lisannya tetapi bersamaan dengan itu dia tetap melakukan kesyirikan seperti menyembah kuburan, berdo’a dan bertawasul dengan orang-orang yang sudah mati, menyembelih untuk selain Allah dan kesyirikan yang lainnya. Ini menunjukkan masih perlu banyak dakwah kepada tauhid.

Kelima: Syirik adalah penyakit utama Umat Manusia

Seorang da’I ibarat seorang dokter dalam masyarakat. Seorang dokter tentu akan memulai mengobati penyakit yang paling berbahaya terlebih dahulu dari pasiennya. Begitu juga seorang da’I, saat ia melihat begitu banyak problematikan dan penyakit yang ada dalam masyarakat maka hendaknya ia memulai dari yang paling penting. Tidak diragukan lagi bahwa kesyirikan adalah penyakit yang paling berbahaya yang ada dalam masyarakat. Bahkan ia adalah sumber kemaksiatan dan kerusakan yang lainnya. Jika seseorang mati diatas kesyirikan maka ia tidak akan diampuni dan kekal di neraka. Allah befirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

 Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS An Nisa’: 48).

Obat dari kesyirikan adalah dengan dakwah tauhid. Jika kesyirikan ini telah terobati maka penyakit yang lain akan lebih mudah diobati. Oleh karena itu diawal dakwah Islam, ayat-ayat al Qur’an yang turun banyak bekaitan dengan masalah tauhid dan peringatan terhadap kesyirikan. Bukan masalah halal dan haram seperti larangan minum khamr, judi dan lainnya. Ummul Mu’mini Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Sesungguhnya yang pertama kali turun darinya ialah satu surat dari al-Mufashshal (surat-surat pendek) yang berisi penjelasan tentang surga dan neraka; sehingga apabila manusia telah mantap dalam Islam, maka turunlah (ayat-ayat tentang) halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun (kepada mereka) adalah “jangan minum khamr (minuman keras),” tentu mereka akan menjawab “kami tidak akan meninggalkan khamr selama-lamanya”. Seandainya yang pertama turun adalah “jangan berzina,” tentu mereka akan menjawab “kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya“. [HR Bukhari (4993)]

 

Sekian, semoga bermanfaat.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 29 Shafar 1435H (1 Januari 2014)