Tauhid Ibadah

0
1022

Bismillah,

Syaikh Muhammad bin Abdilwahab rahimahullah berkata:

Ketahuilah – semoga Allah merahmati Anda – sesungguhnya tauhid yang mana Allah wajibkan atas hambaNya sebelum sholat dan puasa adalah tauhid ibadah. Janganlah menyeru kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Jangan engkau menyeru Nabi shallahu ‘alaihi wasallam, jangan pula yang selainya, sebagaimana Allah berfirman,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.”   (QS Aj-Jin: 18)

Dan firman Allah,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi: 110)

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang musyrik yang Rasulullah shallahu ‘alahi wasallah perangi, sifat kesyirikan mereka yaitu mereka menyeru Allah dan juga menyeru patung-patung dan orang-orang shalih seperti ‘Isa dan Ibunya, serta para malaikat. Mereka berkata bahwa mereka (orang-orang shalih tersebut) adalah pemberi syafaat disisi Allah. Padahal mereka mengikrarkan bahwasanya Allah subhana wa ta’ala adalah yang memberi manfaat, yang mendatangkan kemudharatan, yang mengatur.  Sebagaimana Allah telah menyebutkan tentang mereka dalam firmanNya,

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS Yunus: 31)

 

Jika Engkau telah mengetahui hal ini, Engkau mengetahui bahwa mereka menyeru dan bergantung pada orang-orang shalih dan mereka mengatakan bahwa tidak menginginkan kecuali hanya sekedar syafaat. Rasulullah memerangi mereka agar supaya mereka mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan menjadikan agama seluruhnya milik Allah semata. Dan Engkau telah mengetahui bahwa ini adalah tauhid yang mana lebih wajib dari sholat dan puasa. Allah mengampuni orang-orang yang datang di hari kiamat membawa tauhid dan tidak mengampuni orang yang jahil darinya meskipun dia seorang ahli ibadah. Engkau juga mengetahui bahwa syirik yang mana Allah tidak akan mengampuni bagi orang yang melakukannya dan syirik itu disisi Allah lebih besar (dosanya) dari zina dan membunuh meskipun pelakunya berniat taqarrub/mendekatkan diri kepada Allah.

Kemudian Engkau juga mengetahui hal lainnya yaitu kebanyakan manusia yang tidak mengetahui hal ini. Bahkan diantara mereka ada ulama yang mereka sebut sebagai ulama …. Mereka berkata, “Kami mentauhidkan Allah. Kami mengetahui yang memberi manfaat dan mudharat adalah Allah dan bahwa orang-orang shalih tidak bermanfaat dan tidak bermudharat.” Mereka tidak mengetahui kecuali tauhid itu (yaitu) tauhid orang-orang kafir, (sebatas) tauhid rububiyah.

Engkau menyadari betapa besarnya karunia Allah atasmu. Apalagi jika engkau benar-benar memahami bahwa orang yang berusaha menuju Allah tetapi tidak mengetahui tauhid atau mengetahui tauhid tetapi tidak beramal dengannya maka mereka kekal di neraka meskipun mereka paling ahli beribadah. Sebagaimana firman Allah,

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS Al Ma’idah: 72)

Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad, keluarga serta sahabatnya.

Diterjemahkan dari risalah beliau berjudul “Tauhid Al Ibadah”.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 13/3/1436H.

www.ukhuwahislamiah.com

 

SHARE
Previous articleFaedah Khutbah: Kerjakan Sebaik-Baiknya
Next articleMakna Thagut
Beliau saat ini adalah kandidat Doktor sekaligus peneliti di King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga belajar kepada beberapa ulama’ diantaranya Syaikh Dr. Saleh Fauzan dan Dr Sa’ad Syistry. Selain itu beliau juga merintis Pesantren Masyarakat Hubbul Khoir di Sukoharjo (Solo) Jawa Tengah.