Takjub dan Terperdaya Dengan Diri Sendiri

0
172

Ujub (takjub) dengan diri sendiri dan ghurur (terperdaya) dengan kenikmatan yang dimiliki adalah dua hal yang sangat berbahaya pada diri seseorang. Kelebihan dan nikmat yang dimiliki bisa jadi malah menjerumuskan dalam lembah kehinaan. Ujub menghalangi dari kesempurnaan akhlaq dan bahkan bisa menjatuhkan seseorang yang sebenarnya memiliki keutamaan. Lihat saat perang Hunain, ketika  sebagian pasukan kaum muslimin takjub dengan kekuatan mereka apa yang terjadi? Allah ta’ala befirman,

وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئاً

Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa’at kepadamu sedikitpun.”  (QS Taubah: 25)

Karena sifat congkak, sebagian sebagian pasukan kaum muslimin saat itu menjadi lalai dan akhirnya sempat tercerai berai di awal peperangan Hunain. Tetapi kemudian Allah menurunkan pertolongan kepada RasulNya dan kaum muslimin sehingga musuh dapat dikalahkan.

Sikap ujub pula yang memperdaya Iblis sehingga membangkang  dari perintah Allah untuk sujud kepada Adam yang dia pandang lebih rendah dari dirinya. Iblis yang awalnya menghuni surga yang penuh kenikmatan tetapi akhirnya diusir dari surga dan bahkan diancam akan dimasukkan kedalam neraka di hari kiamat kelak.

Keutamaan yang kita miliki sejatinya hanya karunia yang Allah berikan pada kita sebagai bahan ujian untuk kita. Tidak perlu kita merasa sombong atau takjub dengan diri kita sendiri. Allah dan RasulNya telah memperingatkan agar manusia tidak terperdaya dengan kenikmatan yang dimiliki. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?” (QS. Infithar: 6)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

ثَـلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga hal yang membinasakan: kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan takjub terhadap diri sendiri” (HR. Tabraniy dan Daruquthniy. Dihasankan Albani, lihat Silsilah Shahihah no. 1802)

Semoga kita bisa selalu bersifat tawadhu’ dan manjauhi sifat ujub. Amien.


| Web:Ukhuwahislamiah.com | FB:Ukhuwah Islamiah | Twitter:@ukhuwah_islamia |