Strategi Dakwah Rasulullah

0
2278

Tidak ada satu pun yang meragukan keberhasilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdakwah. Hanya dalam kurun waktu 23 tahun beliau bisa menyebarkan dakwah dan risalah yang beliau bawa ke seluruh penjuru jazirah Arab. Terjadi transformasi (perubahan) yang begitu besar di jazirah Arab baik dari sisi keagamaan, sosial bahkan juga tatanan politik. Masyarakat yang dulunya diliputi kesyirikan, kejahiliyahan (kebodohan)  dan konflik berkepanjangan antar suku berubah menjadi masyarakat yang mentauhidkan Allah, tercerahkan, stabil dan bersatu dibawah panji agama Islam. Kalau kita cermati hal ini tentu tidak terlepas dari pertolongan Allah kemudian juga karena strategi Rasulullah yang begitu luar biasa dalam berdakwah. Apa saja strategi itu? Berikut diantaranya:

Totalitas dalam Dakwah (Dakwah adalah jalan Hidup)

Diantara faktor utama keberhasilan dakwah Rasulullah adalah totalitas beliau dalam berdakwah. Rasulullah gunakan hidup beliau secara total untuk berdakwah, dakwah adalah jalan hidup beliau. Jadi dakwah bukan sekedar sambilan atau pengisi waktu luang! Beliau juga berdakwah secara total hanya untuk menyeru di jalan Allah (fi sabilillah) dan untuk menegakkan agama Allah. Bukan untuk mengejar kekuasaan atau ambisi duniawi lainnya.

Allah berfirman,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Hiasi Dakwah dengan Pribadi dan Akhlak yang Agung

Diantara faktor diterimanya dakwah Rasulullah adalah karena pribadi dan akhlak beliau yang agung. Beliau adalah orang yang jujur, menepati janji, memiliki integritas, lembut, amanah dan seterusnya. Hal ini tidak diragukan baik oleh kawan maupun lawan.

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al Qolam: 4)

 

Jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul, orang-orang Quraish mengakui keluhuran pribadi dan akhlak Rasulullah, beliau digelari al amin (orang kepercayaan). Pribadi dan akhlak yang luhur ini yang menyebabkan bahwa orang menerima Islam. Bahkan orang-orang yang awalnya memusuhi bahkan memerangi beliau akhirnya menerima bahkan berbalik membela dakwah beliau. Andaikata beliau berkepribadian rendah dan berperilaku kasar kira-kira apakah dakwah beliau akan diterima? Tentu tidak. Ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi orang-orang yang terjun di dunia dakwah.

Bertahap Dalam Dakwah

Dakwah bukan hal mudah, perlu proses dan tahapan. Rasulullah bertahap dalam berdakwah, baik dari sisi materi yang disampaikan, cara berdakwah, maupun mad’u (orang yang didakwahi). Dari sisi materi beliau bertahap memulai dari yang paling mendasar yaitu masalah tauhid dan dasar-dasar keimanan baru kemudian masalah halal-haram dan seterusnya.  Beliau juga bertahap dalam metode dan orang di dakwahi. Beliau berdakwah 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah, masing-masing memiliki tahapan tersendiri. Sebagai contoh,  secara garis besar ada tiga tahapan fase dakwah di Mekah:

  • Dakwah sembunyi-sembunyi (sirriyah) pada kerabat dan orang-orang dekat, sekitar 3 tahun
  • Dakwah terbuka untuk ahli Mekah, tahun ke3 sampai tahun ke-10
  • Dakwah untuk sekitar ahli Mekah, setelah tahun ke-10 sampai hijrah ke Madinah

Jadi jelas bahwa dakwah beliau tidak asal-asalan. Melainkan melalui tahapan-tahapan yang penting baik dari dari sisi materi yang didakwahkan, metode dakwah dan juga sasaran (mad’u) dalam dakwah.

 

Pengkaderan dan Pembinaan

Rasulullah sejak awal dakwah beliau fokus membina kader-kader dakwah. Rasulullah benar-benar memperhatikan kondisi mereka. Orang-orang yang awal-awal masuk Islam (as sabiqun al awwalun) akhirnya juga menjadi juru dakwah yang hebat. Mereka menjadi sahabat sekaligus pejuang yang membantu dan menyebarkan dakwah beliau. Dengan cara seperti ini dakwah menjadi cepat tersebar. Orang yang pertama-tama masuk Islam adalah Khadijah (istri), Zaid bin Haritsah (budak beliau), Ali bin Abi Thalib (ponakan) dan Abu Bakar Ash Shidiq (sahabat karib). Kemudian dengan perantara Abu Bakar masuk islamlah Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, dan Tholhah bin Ubaidillah.  Orang-orang yang awal dibina dan dikader Rasulullah ini kemudian ikut menyebarkan, menguatkan dan membesarkan dakwah beliau. Setelah Rasulullah wafat mereka kemudian meneruskan dakwah dan perjuangan. Ini kiranya yang Allah isyaratkan dalam firmanNya:

كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

“Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min).” (QS Al Fath: 48)

Delegasi dan Bagi Tugas

Diantara strategi dakwah Rasulullah adalah dengan mendelegasikan dan membagi tugas. Beliau tidak “monopoli” dalam dakwah. Beliau membagi tugas dalam dakwah. Beliau juga mengirim utusan dalam dakwah misal mengutus Mush’ab bin Umair ke Madinah (sebelum hijrah), mengutus para sahabat senior ke daerah-daerah yang ditaklukkan (misal Muadz bin Jabal ke Yaman) dan lainnya.

Pertimbangan dan Perencanaan yang Matang

Rasulullah tidak berdakwah dan berjuang secara asal-asalan. Dakwah beliau 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah memiliki tahapan-tahapan yang bertingkat dan perencanaan yang matang. Kalau kita cermati dalam banyak hal beliau melakukan pertimbangan dan perencanaan yang sangat matang. Beliau banyak bermusyawarah dengan para sahabat terutama untuk memutuskan dan merencanakan hal-hal penting. Misal peristiwa hijrah. Jauh sebelumnya Rasulullah telah mengirim utusan dulu ke Madinah (Mush’ab bin Umair), beliau juga mengamati kondisi perkembangan dakwah di Mekah dan Madinah. Setelah kondisi Mekah semakin tidak kondusif dan sebaliknya Madinah menunjukkan angin segar menerima dakwah beliau maka beliau kemudian melakukan perundingan dengan utusan dari Madinah. Kemudian berujung pada kesepakatan untuk hijrah ke Madinah (baiat Aqabah). Para sahabat mulai bertahap hijrah ke Madinah dan akhirnya Rasulullah setelah diizinkan oleh Allah kemudian juga hijrah ke Madinah.  Jadi peristiwa hijrah tidak datang begitu saja, tetapi melalui pertimbangan dan perencanaan yang matang. Dalam hal lainnya juga demikian, misal dalam perperangan Rasulullah banyak bermusyawarah dengan para sahabat.

 

Dakwah pada Seluruh Elemen Masyarakat

Rasulullah menjangkau seluruh elemen masyarakat dalam berdakwah. Mulai dari para tokoh sampai orang-orang biasa bahkan juga para budak. Beliau juga dakwahi keluarga, kerabat, sahabat dan juga yang lainnya baik yang dekat maupun yang jauh. Beliau tidak pilih-pilih atau membatasi golongan tertentu dalam dakwah.  Ini menyebabkan dakwah beliau merasuk ke seluruh unsur masyarakat.

 

Perhatian pada para tokoh

Dakwah Rasulullah menjangkau seluruh elemen masyarakat tetapi beliau juga menaruh perhatian pada para tokoh. Mendakwahi para tokoh sangat penting karena mereka memiliki peranan dan posisi strategis di tengah masyarakat. Jika para tokoh menerima dakwah maka diharapkan lebih mudah masyarakat akan mengikuti menerima dakwah. Abu Bakar dan Utsman bin Affan adalah tokoh Quraisy, mereka berdua orang dipandang dan juga kaya raya. Abu Bakar juga ahli nasab, bijaksana dan faham betul tentang masyarakat. Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdulmutallib juga demikian, mereka juga tokoh dan dikenal pemberani. Saat para tokoh Quraisy ini menerima dakwah maka semakin banyak yang menerima dakwah beliau. Di Madinah juga demikian, Rasulullah juga menaruh perhatian pada para tokoh Madinah. Rasulullah juga mengirim surat dan mendakwahi para raja.

Semoga kita bisa meneladani strategi dakwah beliau. Amien.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 3/7/1439H.