Sikap Seorang Muslim Terkait Musim Hujan

0
1494

Diantara nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah turunnya hujan. Dengan turunnya hujan, air yang kita butuhkan dapat ditemukan dimana-mana, udara yang awalnya panas menjadi dingin, tanah yang awalnya kering kerontang menjadi hijau oleh rerumputan dan pepohonan.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الأرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat: 39)

Berikut ini beberapa sikap yan hendaknya dimiliki seorang muslim terkait dengan hujan:

Pertama, meyakini bahwa Allahlah yang menurukan hujan, bukan yang selainnya. Allah berfirman,

وما أنزل الله من السماء من ماء فأحيا به الأرض بعد موتها

Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya.” (QS Al-Baqarah: 164)

Kedua, mensyukuri nikmat hujan tersebut tersebut. Mensyukuri baik dengan lisan maupun dengan perbuatan. Allah berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS Ibrahim: 7)

Ketiga, mengikuti sunnah atau petunjuk Rasulullah terkait hujan. Diantara petunjuk beliau adalah berdo’a saat turun hujan. Diantara do’a yang diriwayatkan dari Nabi,

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

Allahumma shoyyiban naafi’an (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat).” [HR Bukhari 1032]

Jika hujan turun begitu lebat sehingga mengkhawatirkan mendatangkan mudharat maka diantara petunjuk Rasulullah adalah membaca do’a berikut,

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” [HR Bukhari 1014]

Diantara petunjuk beliau juga, saat ada petir atau kilat membaca,

 

 

 

 

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ.

Maha Suci Allah yang halilintar bertasbih dengan memujiNya, begitu juga para malaikat, karena takut kepadaNya.” [Al-Muwaththa’ 2/992. Al-Albani berkata: Hadits di atas mauquf yang shahih sanadnya]

Diantara pejuntuk beliau juga adalah mengambil berkah dengan air hujan. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

Karena hujan ini (adalah nikmat) baru saja Allah ciptakan.”[HR Muslim 898]

Selanjutnya, diantara sikap muslim saat turun/musim hujan adalah tidak melakukan hal-hal yang bermudharat atau berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Diantara hal yang membahayakan adalah membuang sampah di aliran-aliran air sehingga dapat menyebabkan kebanjiran. Termasuk hal yang membahayakan juga adalah mengendarai kendaraan dengan kencang setelah turun hujan. Hal tersebut dapat menyebabkan kecelakaan atau setidaknya percikan air dapat mengotori pengguna jalan yang lainnya. Padahal Rasulullah bersabda,

من آذى المسلمين في طرقهم وجبت عليه لعنتهم

Barang siapa yang mengganggu orang-orang muslim di jalan mereka maka laknat mereka pasti akan menimpanya.” [HR Thabrani]

Sekian, semoga bermanfaat.

Disarikan dari khutbah Jum’at di Hay Ummul Hamam, Riyadh 6/2/1436.

Abu Zakariya Sutrisno. www.ukhuwahislamiah.com