SEPUTAR ARAB SAUDI (2): MUHAMMAD BIN SALMAN

0
779

Pangeran Muhammad bin Salman atau sering disingkat MBS mungkin adalah sosok yang paling banyak disorot terkait Saudi saat ini.  Dia diyakini sebagai “power” dibalik tahta ayahnya, Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud dan juga sebagai motor penggerak perubahan-perubahan yang terjadi di Saudi saat ini. Berikut ini beberapa info terkait MBS.

Pertama, MBS lahir tahun 1985 jadi umurnya saat ini sekitar 32 tahun, cuma lebih tua dua tahun dari saya. Umur yang masih cukup muda. Tetapi perlu diketahui bahwa MBS ini mewakili mayoritas penduduk Saudi saat ini, disebutkan 60% penduduk Saudi dibawah 30 tahun. Ada yang mengatakan munculnya MBS ini sebagai bentuk “penyegaran” di pemerintahan dan juga masyarakat Arab Saudi. Dia digadang-gadang untuk menjadi figur teladan bagi generasi muda Saudi untuk lebih giat dan juga memberikan kontribusi yang terbaik untuk masyarakat.

Kedua, MBS adalah lulusan pendidikan Hukum di King Saud University, Riyadh. Satu almamater dengan saya berarti, hehe. Setelah lulus KSU kemudia dia sempat kerja di private sector kemudian menjadi penasehat pribadi ayahnya yang saat itu masih menjabat gubernur Riyadh. Jadi tidak benar jika ada yang memberitakan bahwa dia lulusan Barat.

Ketiga, dia digelari “Mr. Everything” karena memengang banyak jabatan penting. Selain sebagai putra mahkota dia juga sebagai menteri pertahanan, wakil perdana menteri (Di Saudi, Raja juga sekaligus perdana menteri), ketua Council for Economic and Development Affairs (CEDA) yang menentukan kebijakan-kebijakan ekonomi Saudi, dan jabatan yang lainnya. Perlu diketahui bahwa Saudi bukan negara demokrasi, Saudi adalah negara absolute monarchy dimana Raja adalah pemengang kekuasaan tertinggi pemerintahan. Jadi bukan sesuatu yang aneh kalau Raja atau putra mahkotanya memegang atau mengendalikan banyak posisi penting. Kelihatannya memang telah menjadi kebijakan Raja Salman, yang saat ini usianya sudah 81 tahun, untuk memberi kesempatan yang lebih muda untuk berkarya lebih. Hal serupa juga dilakukan di negara-negara tetangga, bahkan di Qatar raja sebelumnya turun tahta dan menyerahkan kekuasan pada anaknya (Tamim bin Hamad Al Thani) yang saat itu usianya masih sekitar 33 tahun.

Keempat, reformist atau ambisius? Banyak yang memuji dan bangga dengan gebrakan-gebrakan yang dilancarkan MBS seperti meluncurkan Saudi Vision 2030, intervensi militer di Yaman atas permintaan pemerintah Yaman, meluncurkan proyek-proyek besar seperti NEOM, pemberantasan korupsi besar-besaran (beberapa pangeran dan menteri ditangkap), dan lainnya. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa dia adalah orang ambisius dan “power hungry”. Saya kira ini adalah masalah yang sangat subjektif dan orang bisa saja mengatakan apa yang dia mau. Misalnya seorang penjuang kemerdekaan di suatu bangsa, bisa saja dia disebut “pahlawan” tetapi disatu sisi lain disebut “pemberontak”.  Daripada sibuk dengan “melabeli” seseorang hendaknya berusaha menganalisa apa yang dilakukan.

Sebagian orang juga mengatakan MBS adalah orang yang “liberal” karena beberapa kebijakan yang diambil. Hal ini mirip tuduhan pada ayahnya dulu, Raja Salman, sebelum menjadi raja. Akhirnya orang-orang pun tahu bahwa Raja Salman ternyata cukup religius dan konservatif. Mungkin terlalu dini kalau ingin menyimpulkan tentang jati diri MBS. Tetapi yang jelas sampai saat ini dia termasuk dekat dengan para ulama dan sebaliknya tegas terhadap beberapa figur yang dikenal liberal (baik di kalangan pangeran maupun tokoh di masyarakat).

Kiranya, ini dulu tentang MBS. Allahu A’lam.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 02/03/1439H.