Sepuluh (10) Petunjuk Rasulullah di Bulan Ramadhan

0
265

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Seorang muslim hendaknya meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mengikuti petujuknya dalam segala sendi kehidupannya. Jangan malah menyelisihi. Allah befirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS Al Ahzab: 21)

Allah juga berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS Al Hasyr: 7)

Tidak terkecuali dalam masalah amalan di bulan Ramadhan. Rasulullah telah memberikan teladan dan berbagai petunjuk bagi umatnya dalam masalah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan syariatkan di tahun kedua hijriyah, dan beliau telah berpuasa sembilan kali Ramadhan. Diantara petunjuk Rasulullah di bulan Ramadhan adalah sebagai berikut.

Pertama: memperbanyak amalan shalih di bulan Ramadhan

Diantara petunjuk Rasulullah di bulan Ramadhan adalah memperbanyak ibadah baik dari sisi jenis maupun jumlahnya.  Dahulu malaikat Jibril mengajari (memuraja’ah) beliau al Qur’an di bulan Ramadhan, dan jika bertemu Jibril beliau lebih dermawan dari angin yang berhembus. Ibnu Abbas berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari 6 dan Muslim 2308)

Beliau memperbanyak bersedekah, berbuat kebaikan, tilawah al Qur’an, sholat, dzikir dan juga iktikaf di bulan Ramadhan.

Kedua: larangan wishol (menyambung puasa) dan petunjuk untuk menyegerakan berbuka

Beliau melarang umatnya untuk melakukan wishol, yaitu menyambung puasa satu dengan lainnya tanpa berbuka atau bersahur. Beliau sendiri pernah melakukan wishol tetapi ini adalah kekhususan beliau. Saat para sahabat menanyakan akan hal tersebut maka beliau menjawab,

لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ إِنِّي أَظَلُّ أُطْعَمُ وَأُسْقَى

Saya tidak seperti keadaan kalian, sesungguhnya saya bermalam (tetapi) diberi makan dan minum.” (HR Bukhari 1922 dan Muslim 1102)

Beliau memberi petunjuk umatnya untuk menyegerakan berbuka. Beliau bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ

Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka mensegerakan dalam berbuka.” (HR Bukhari 1957 dan Muslim 1098)

Ketiga: awal berpuasa dan berbuka berdasarkan ru’yat (melihat) hilal

Diantara petunjuk beliau adalah tidak berpuasa Ramadhan kecuali setelah benar-benar melihat hilal (Ramadhan) atau atas persaksian seorang yang melihat hilal. Beliau pernah puasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa berdasarkan persaksian Ibnu Umar dan juga pernah berdasar persaksian seorang Arab badui. Jika tidak terlihat hilal dan tidak pula ada yang bersaksi melihat hilal maka menggenapi Sya’ban 30 hari. Rasulullah bersabda,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

“Berpuasalah karena melihatnya (yaitu hilal) dan berbukalah karena melihatnya, jika kalian terhalangi maka sempurnakan bilangan Sya’ban tiga puluh (hari).” (HR Bukhari 1909 dan Muslim 1081)

Beliau melarang untuk mendahului puasa atau melakukan puasa di hari yang diragukan menjelang Ramadhan. Beliau bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ، فَلْيَصُمْ ذَلِكَ اليَوْمَ

Janganlah salah seorang diantara kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali jika seseorang biasa melakukan puasa tertentu maka hendaknya dia berpuasa.” (HR Bukhari 1914 dan Muslim 1082)

Keempat: petujuk dalam berbuka

Diantara petunjuk beliau adalah berbuka dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka dengan kurma, jika tidak ada maka dengan air. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,”Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berbuka dengan ruthab sebelum sholat, jika tidak ada ruthab maka dengan kurma, jika tidak ada maka beliau meneguk beberapa tegukan air.” (HR Abu Dawud 2356, dishahihkan Albani)

Kelima: berdoa ketika berbuka

Diantara pentujuk Rasulullah saat berpuasa adalah berdo’a ketika berbuka. Diantara do’a yang diriwayatkan dari Nabi yaitu:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, insya Allah.” (HR Abu Dawud 2357, dihasankan Albani)

Keenam: puasa ketika safar

Rasulullah pernah melakukan safar (perjalanan jauh) saat Ramadhan, diantaranya saat perang Badar dan Fathul Makkah. Kadang beliau berbuka (tidak puasa) saat safar dan kadang beliau berpuasa, beliau memberi pilihan para sahabat pada dua hal tersebut.  Saat perang badar dan fathul Makah beliau dan para sahabat tidak berpuasa, sebagaimana Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,”Kami berperang di bulan Ramadhan bersama Rasulullah dua kali peperangan, yaitu perang Badar dan Fathul Makah, kami  berbuka pada keduanya.”  Disisi lain Rasulullah tidak melarang untuk berpuasa jika orang yang melakukan safar kuat dan puasa tidak berat baginya. Diriwayatkan dari Hamzah bin Amr Al Aslami radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendapatkan ada kekuatan dalam diri saya untuk berpuasa saat bersafar apakah ada larangan untuk saya?” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab,

هِيَ رُخْصَةٌ مِنَ اللهِ، فَمَنْ أَخَذَ بِهَا، فَحَسَنٌ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصُومَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ

Itu adalah keringanan dari Allah, barangsiapa mengambilnya maka baik dan barangsiapa suka untuk berpuasa maka tidak mengapa.” (HR Muslim 1121)

Ketujuh: junub saat terbit fajar dan mencium istri saat puasa

Diriwayatkan pernah suatu ketika terbit fajar dan Rasulullah dalam keadaan junub, kemudian beliau mandi setelah itu dan berpuasa. Rasulullah juga pernah mencium sebagian istrinya saat beliau berpuasa, sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha (HR Bukhari 1928).  Tetapi bagi yang dikhawatirkan syahwatnya bangkit saat mencium atau memeluk istrinya maka hendaknya menghidari akan hal ini.

Kedelapan: hal-hal yang membatalkan dan tidak membatalkan puasa

Telah diriwayatkan dari Rasulullah tentang hal-hal yang membatalkan puasa, diantaranya: makan, minum, berbekam, dan muntah (dengan sengaja).  Al Qur’an juga menunjukkan bahwa jima’ (bersetubuh) juga membatalkan puasa seperti makan dan minum, dan tidak diketahui ada khilaf dalam hal ini. Adapun orang yang makan dan minum karena lupa maka tidak membatalkan puasanya. Rasulullah bersabda,

مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا، وَهُوَ صَائِمٌ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

“Jika diantara kalian lupa padahal sendang berpuasa lalu makan dan minum maka hendaknya menyempurnakan puasanya karena Allah sedang memberinya makan dan minum.” (HR Bukhari 6669 dan Muslim 1155)

Telah diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersiwak dalam keadaan puasa, hal ini menunjukkan hal tersebut tidak membatalkan puasa. Begitu juga diriwayatkan bahwa beliau mengguyur kepalanya dengan air saat beliau puasa. Beliau juga berkumur dan menghirupkan air kehidung saat berwudhu dalam keadaan berpuasa, tetapi beliau melarang untuk berlebihan dalam hal ini (yaitu berkumur dan menghirupkan air ke hidung saat berwudhu).   

Kesembilan: bulan Ramadhan dan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa)

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk mensucikan jiwa dan Rasulullah telah memberikan kita teladan yang sebaik-baiknya dalam hal ini. Diantara hal yang mengotori jiwa adalah berlebihan dalam empat perkara: (1) berlebihan dalam makan dan minum, (2) berlebihan dalam tidur, (3) berlebihan dalam berbicara dan (4) berlebihan bergaul dengan manusia. Disyariatkan puasa untuk menghindari berlebihan dalam makan dan minum. Disyariatkan qiyamul lail untuk menghindari berlebihan dalam tidur. Dalam hal menghindari berlebihan dalam berbicara maka disyariatkan untuk menjaga dan menahan lisan dari setiap perkataan yang tidak bermanfaat.  Demikian pula disyariatkan iktikaf untuk menghindari berlebihan bergaul dengan manusia sehingga lalai beribadah kepada Allah dan lalai merenungi hakekat kehidupan.

Kesepuluh: iktikaf

Diantara pentunjuk Rasulullah dibulan Ramadhan adalah melakukan iktikaf. Beliau berikfikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Beliau pernah meninggalkannya sekali kemudian menggantinya di bulan syawal. Diriwayatkan pula beliau pernah beriktikaf di awal dan pertengahan Ramadhan, kemudian setelah itu beliau selalu iktikaf di akhir Ramadhan sampai akhir hanyatnya. Dahulu Rasulullah memerintahkan untuk dibuatkan tenda di masjid kemudian beliau beriktikaf, menyendiri fokus beribadah kepada Tuhannya.

Demikianlah diantara petujuk Rasulullah di bulan Ramadhan, semoga kita bisa mengikutinya. Amien.

Disarikan dari kitab Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad karya Ibnu Qayyim rahimahullah.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 11/8/1437H.

| Web:Ukhuwahislamiah.com | FB:Ukhuwah Islamiah | Twitter:@ukhuwah_islamia |