Sekilas Tentang Penamaan Surat Dalam Al Qur’an (Bag.1: Al Baqarah-Thaha)‎

0
1430

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah,

Ada begitu banyak dalil yang menyebutkan keutamaan membaca dan mempelajari al Qur’an. Salah satunya disebutkan dalam shahih Bukhari dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya.”

Salah satu cara untuk mempelajari al Qur’an adalah dengan mentadaburi makna yang terkandung pada setiap surat dan ayat-ayat di dalamnya. Berikut ini Kami ringkaskan alasan penamaan surat dalam al Qur’an. Semoga tulisan sedehana ini bisa menjadi tambahan ilmu bagi kita semua dan semakin mendekatkan diri kita dengan al Qur’an. (Lebih lanjut tentang keutamaan membaca al Qur’an bisa dibaca disini)

Surat Ke-1: Al Fatihah

Dinamakan surat “Al Fatihah” (pembukaan ) karena dengan surat inilah dibuka dan dimulai Al Qur’an. Disebut juga dengan “Ummul  Qur’an” (induk Al Qur’an) atau “Ummul Kitab” (induk al Kitab) karena ia adalah induk dari semua isi al Qur’an dan dia adalah intisarinya. Dinamakan pula “as Sab’ul Matsaany” (tujuh yang berulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang dalam sholat.

Surat Ke-2: Al Baqarah

Dinamakan surat “Al Baqarah” (sapi betina ) karena didalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan oleh Allah kepada Bani Isra’il (ayat 67-74). Dinamai juga “Fusthaatul-Qur’an” (puncak al Qur’an) karena mengandung  beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain. Dinamai juga dengan surat “Alif Lam Mim” karena dimulai dengannya.

Surat Ke-3:  Ali Imran

Dinamakan surat “Ali Imran” (keluarga Imran ) karena di dalamnya disebutkan kisah keluarga Imran, diantaranya kelahiran Nabi ‘Isa ‘alahissallam. Surat ini dan surat al Baqarah dinamai dengan “Az Zahrowaani” (dua yang cemerlang) karena keduanya memuat beberapa hal yang disembunyikan ahli kitab seperti kelahiran Nabi Isa alahissallam dan kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wassallam.

Surat Ke-4: An Nisa’

Dinamakan surat “An Nisa’” (wanita) karena dalam surat ini banyak disebutkan hal-hal yang berkaitan dengan wanita. Selain surat ini, surat yang banyak menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan masalah wanita adalah surat At Thalaq. Karenanya surat An Nisa sering disebut dengan “Surat An Nisa’ Kubra”, sedang surat al Thalaq disebut “surat An Nisa’ Shughra”.

Surat Ke-5: Al Ma’idah

Dinamakan surat “Al Ma’idah” (hidangan) karena di dalamnya disebutkan kisah pengikut Isa, yang mana mereka meminta kepada Nabi ‘Isa agar Allah menurunkan hidangan dari langit (ayat 112). Dinamakan pula “Al Uqud” (perjanjian) karena kata tersebut terdapat dalam ayat pertama surat ini.

Surat Ke-6: Al An’aam

Dinamakan surat “Al An’aam” (binatang ternak ) karena dalam surat ini sebutkan kata “An’aam” yang berhubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin yang mempergunakannya sebagai wasilah untuk mendekatkan diri pada tuhan mereka. Dalam surat ini juga disebutkan beberapa hukum yang berkaitan dengan binatang ternak.

 

Surat Ke-7: Al A’raaf

Dinamakan surat “Al A’raf” (tempat yang tinggi) karena  di dalamnya disebutkan tentang keadaan orang yang berada di A’raf yaitu tempat yang tinggi di batas surga dan neraka. Mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya sama beratnya.

Surat Ke-8: Al Anfaal

Dinamakan surat “Al Anfaal” (rampasan perang) karena disebutkan dalam surat ini beberapa hal yang berkaitan dengannya. Disebutkan dalam surat ini pula hukum-hukum seputar peperangan secara umum.

Surat Ke-9: At Taubah

Dinamakan surat “At Taubah”(pengampunan) karena kata tersebut disebutkan berulang kali dalam surat ini. Disebut juga dengan surat “Bara’ah” (berlepas diri) karena banyak membicarakan tentang penyataan berlepas diri/memutus hubungan damai dengan kaum musyrikin (karena mereka mengkhinati perjanjian damai). Surat ini tidak diawali dengan bacaan basmallah sebagaimana pada umumnya surat al Qur’an diawali dengannya.

Surat ke-10: Yunus

Dinamakan surat Yunus karena di dalamnya disebutkan kisah Nabi Yunus ‘alaihisalam dan pengikutnya yang beriman.

Surat ke-11: Huud

Dinamakan surat Huud karena disebutkan di dalamnya kisah Nabi Huud ‘alaihissalam dan kaumnya (kaum ‘Ad). Disebutkan juga kisah Nabi-Nabi yang lain dalam surat ini.

Surat ke-12: Yusuf

Dinamakan surat Yusuf karena sebagian besar isinya menceritakan kisah kehidupan Nabi Yusuf. Berbagai cobaan beliau hadapi (maker saudara-saudaranya, berpisah dengan orang tua yang dicintainya, dirayu wanita, dipenjara, dll). Namun, berkat kesabarannya maka Allah mengganti cobaan tersebut dengan kebaikan dan kenikmatan.

Surat ke-13: Ar Ra’d

Dinamakan surat “Ar Ra’d” (guruh) karena  disebutkan dalam ayat ke-13 dalam surat ini bahwa guruh bertasbih memujiNya. Hal ini tidak lain menunjukkan sifat kesucian dan kemuliaan Allah.  Berkaitan dengan hal ini juga bahwa salah satu sifat dari Al Qur’an adalah mengandung acaman dan harapan, demikian pula bunyi guruh, ia menimbulkan kecemasan dan harapan bagi manusia.

Surat ke-14: Ibrahim

Dinamakan surat Ibrahim karena pada ayat ke 35-41 dalam surat ini disebutkan do’a-do’a Nabi Ibrahim. Diantara isi doanya adalah agar dirinya dan anak keturunannya dijauhkan dari syirik, dijadikan sebagai orang yang mendirikan sholat, dan agar kota Mekah dan sekitarnya menjadi daerah yang aman dan diberkahi.

Surat ke-15: Al Hijr

Al Hijr adalah nama pegunungan yang teletak di pinggir jalan antara Madinah dan Syam (Syiria). Surat ini dinamai dengannya karena menyebutkan kisah kaum Tsamun yang mendiami daerah tersebut pada zaman dahulu. Kaum Tsamun dimusnahkan oleh Allah karena mendustakan Nabi Saleh ‘alaihissalam dan berpaling dari ayat-ayat Allah.

Surat ke-16: An Nahl

Dinamakan surat “An Nahl” (lebah) karena di dalamnya terdapat firman Allah yang artinya ”Dan Tuhanmu mewahyukan pada lebah” (lihat ayat 68). Lebah adalah makhluq Allah yang banyak memberikan manfaat bagi manusia.

Surat ke-17: Al Israa’

Dinamakan surat “Israa’” (memperjalankan diwaktu malam) karena  pada ayat pertama disebutkan peristiwa Israa’ Nabi Muhammad dari masjidil Haram di Makah ke masjidil Aqsha di Baitul Maqdis. Dinamai pula dengan surat “Bani Isra’il” karena disebutkan kisah tentang mereka di awal dan akhir surat ini.

Surat ke-18: Al Kahfi

Dinamakan surat “Al Kahfi” (gua) karena didalamnya disebutkan kisah Ashaabul Kahfi yang terdapat pada ayat 9 sampai 26. Ashaabul Kahfi adalah pemuda yang beriman yang tertidur dalam gua hingga bertahun-tahun lamanya. Banyak pelajaran berharga bagi manusia dari kisah mereka dan kisah-kisah yang lainya yang disebutkan dalam surat ini. Banyak hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam yang berisi keutamaan membaca surat ini.

Surat ke-19: Maryam

Dinamakan surat Maryam karena mengandung kisah Maryam yang melahirkan putranya, Nabi ‘Isa ‘alahissalam, padahal ia belum pernah menikah/dicampuri seorang laki-laki pun. Surat ini diawali dengan kejadian yang ajaib juga yaitu dikabulkannya do’a Nabi Zakariya agar diberi putra padahal beliau telah lanjut usia dan istrinya seorang yang mandul. Hal ini tidak lain menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Surat ke-20: Thaha

Dinamakan surat “Thaha” karena surat ini diawali dengan perkataan tersebut. Sebagaimana dalam surat-surat lainnya yang diawali dengan huruf-huruf abjad hijaiyah seperti ini, seolah merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya bahwa setelah huruf-huruf itu akan dikemukan hal-hal yang sangat penting.

–          Bersambung insyaallah

Keterangan: Pada tulisan diatas kami hanya meringkas dari muqadimah setiap surat yang ada dalam “Al Qur’an dan Terjemahannya” yang diterbitkan oleh kementrian Agama RI dan dicetak dan diteliti oleh Lembaga Percetakan Al Qur’an Raja Fadh (Saudi Arabia). Sebagian Kami kutip persis sebagaimana aslinya, sebagian Kami ringkas. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 10 Muharram 1435.

www.ukhuwahislamiah.com