Secarik Catatan dari Perjalanan Haji

0
56

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن

“mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah “(Al Imran : 97)

Adalah suatu nikmat yang sangat besar disaat Allah memudahkan kita untuk melaksanakan ibadah haji di kota Makah al Mukaromah tercinta. Tidak semua orang diberi kemampuan dan kesempatan untuk melaksanakan ibadah yang agung tersebut.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa haji adalah salah satu diatara rukun islam, dan dia yang paling akhir disyariatkan atas umat ini daripada rukun-rukun islam yang lainnya. Didalam setiap urutan ibadah haji (manasik) terkadung berbagai macam pelajaran mulai dari tauhid, ibadah, muammalah dan lainnya bagi umat islam. Secara tidak langsung saat seseorang berhaji ia tengah diuji tentang syahadat dan keimanannya pada Allah. Ia tengah diuji bagaiman tetap dapat mendirikan sholat dalam kondisi yang serba sulit baik sulit dari sisi waktu maupun tempat. Ia tengah diuji bagaimana tetap dapat berbuat baik pada orang lain sedangkan dirinya sendiri juga dalam kesulitan dan kesibukan. Ia tengah diuji menahan jiwanya, dengan berpakaian ihram yang ala kadarnya dan menjauhi larangan-larangan ihram padahal ia mampu melakukan  larangan-larangan tersebut. Badan pun tak luput dari ujian, jalan kaki puluhan kilometer (arafah-mudzalifah -mina- jamarat – masjidil haram sekitar 20 km), melepar  jumrah, thowaf,  sa’I sambil berdesakan tentu sangat menguras tenaga. Panasnya terik matahari disiang hari, hawa dingin yang menyelimuti malam kadang semakin membuat badan ini tidak berdaya. Karena demikian berat keadaannya , Rosulullah mengabarkan begitu besarnya pahala haji. Beliau Bersabda,
ألْعُمْرَةُإلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌلِمَابَيْنَهُمَا, وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُلَيْسَ لَهُ جَزَاءٌإلاَّ الْجَنَّةُ
“Umrah ke Umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang paling utama diuji adalah kesabaran.. dimusim haji, berjuta manusia berkumpul melakukan aktivitas yang sama diwaktu dan tempat yang sama. Kadang situasi serba sulit, terutama hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan pokok, makan, MCK, istirahat dan lainnya menjadi sulit karena padatnya jamaah haji yang ada. Tak jarang kita harus antri sekian puluh baris untuk menggukan kamar mandi, antri sekian jam untuk membeli makanan. Tentu yang namanya menunggu bukanlah hal yang menyenangkan bagi sebagian besar kita, andai kita tidak pandai-pandai menahan diri sering kali kita mengeluh atau melakukan tindakan yang dapat memicu percekcokan sesama jama’ah. Karena hal itu Alah menasehati siapa saja yang menjalankan haji agar senantiasa  mengendaikan nafsunya, menahan lisannya dari mengucapkan ucapan-ucapan yang kotor dan berbantah-bantahan yang tidak ada manfaatnya. Allah berfirman,

فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ

“..barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats , berbuat fasik dan berbantah bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”(al Baqarah: 197)

Selain kesabaran, hal utama juga yang harus kita perhatikan adalah ilmu tentang manasik. Urutannya, waktu dan tempat pelaksanaanya serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Kadang kita miris dengan banyaknya jama’ah haji yang tidak tahu manasik yang benar sehingga ia terjerumus pada kesalahan-kesalahan yang fatal yang dapat mengurangi kesempurnaan atau bahkan membuat ibadah hajinya sia-sia. Atau paling tidak, ketidaktahuaan akan membuat kita bingung disaat tengah menjalankan manasik. Ada sebagian jama’ah haji yang ingin sa’i tetapi tidak tahu mana Shofa mana Marwa, padahal itu di hari ke 10 disaat masjidil haram penuh-penuhnya oleh jama’ah, alhasil merekapun kebingungan. Selain itu berdasar pengalaman yang penulis lihat sendiri banyak diantara jama’ah haji yang melakukan hal-hal yang sia-sia. Menghabiskan waktu untuk berfoto-foto, menaiki bukit/gunung yang tidak disyariatkan dan lain sebagainya. Padahal kalau kita renungi mungkin hanya sekali seumur hidup kita dapat melaksanakannya, itupun dengan pengorbanan yang tidak sedikit baik waktu, tenaga maupun materi.

Allahu A’lam.

Semoga Allah menjadikan haji yang kita atau saudara-saudara kita lakukan sebagai amal yang diterima dan menjadi haji yang mabrur..

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(al Baqarah: 127)

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosulullah serta keluarga dan sahabatnya.

Selesai ditulis di Riyadh, 18 Dzulhijjah 1431 H (24 Nov 2010)

Abu Zakariya Sutrisno

Artikel: www.ukhuwahislamiah.com

SHARE
Previous articleSejarah jazirah arab dari zaman ke zaman..
Next articleSyarat La ilaha illallah
Beliau saat ini adalah kandidat Doktor sekaligus peneliti di King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga belajar kepada beberapa ulama’ diantaranya Syaikh Dr. Saleh Fauzan dan Dr Sa’ad Syistry. Selain itu beliau juga merintis Pesantren Masyarakat Hubbul Khoir di Sukoharjo (Solo) Jawa Tengah.