Sebab Penyimpangan Aqidah dan Solusi Mengatasinya

0
302

Penyimpangan aqidah memiliki sebab-sebab, diantara yang paling utama:

  1. Jahil terhadap aqidah yang shahih

Karena berpaling dari belajar dan pembelajaran aqidah serta kurang perhatian terhadapnya maka munculah generasi yang tidak memahami aqidah yang lurus. Mereka tidak mengetahui aqidah yang benar dan tidak mengetahui hal-hal yang menyelisihi atau bertentangan dengannya. Sehingga mereka meyakini sesuatu yang haq (benar) sebagai sesuatu yang batil (salah) dan sebaliknya, menyakini yang batil sebagai sesuatu yang haq. Sebagaimana perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu :

إنما تنقض عرى الإسلالم عروة عروة إّا نشأ في الإسلام من لم يعرف الجاهلية

Sesungguhnya akan terlepas ikatan-ikatan Islam jika tumbuh di dalam Islam orang-orang yang tidak mengetahui perkara jahiliah

 

  1. Ta’ashub (fanatik) dengan ajaran nenek moyang meskipun diatas kesalahan

Allah berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS Al Baqarah: 170)

 

  1. Taqlid buta

Salah sebab penyimpangan aqidah adalah taqlid buta, yaitu mengambil pendapat manusia tanpa mengetahui dalil-dalilnya dan tidak tahu apakah hal tersebut benar atau salah. Dan ini yang terjadi dalam kelompok-kelompok menyimpang seperti jahmiyah, mu’tazilah, asya’iroh, shufiyah dan selainnya. Mereka taqlid kepada imam-imam yang menyimpang sehingga keluar dari aqidah yang lurus.

 

  1. Ghuluw terhadap orang shalih

Ghuluw (berlebihan) terhadap orang shalih dan mengangkat mereka melebihi kedudukan yang semestinya yaitu dengan meyakini pada mereka sesuatu yang tidak mampu kecuali hanya Allah seperti mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan. Termasuk juga menjadikan mereka sebagai wasilah (perantara) antara Allah dan makhluq-Nya. Sampai akhirnya mereka disembah selain Allah dan kuburnya diagungkan. Ini juga yang terjadi di kaum nabi Nuh ‘alaihissalam, mereka menyembah orang-orang sholih. Allah berfirman,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدّاً وَلَا سُوَاعاً وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْراً

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS Nuh: 23)

 

  1. Lalai dari mentadaburi ayat-ayat Allah

Lalai dari metadaburi (merenungi) ayat kauniah (alam semesta) dan ayat qur’aniyah serta silau dengan kemajuan materialistis. Mereka mengira semua itu karena kemampuan dan kepandaian manusia semata.

إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِّنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ

Apabila Kami berikan kepadanya ni’mat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku.”  (QS Az Zumar: 49)

 

Mereka lalai dari merenungi keagungan Dzat yang telah menciptakan alam semesta, yang menciptakan manusia dan memberinya kemampuan untuk mengambil manfaat dari alam semesta itu. Allah berfirman,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS Ash Shaffat: 96)

 

  1. Banyak rumah (keluarga) yang kosong dari taujih (arahan) yang lurus

Rasulullah telah bersabda,

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithroh, maka kedua orang tuanya yang menjadikan yahudi, nasrani atau majusi” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Kedua orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam memberi arahan anak-anaknya.

 

  1. Pendidikan dan sarana informasi yang tidak perduli dengan agama dan aqidah

Metode pendidikan yang tidak mementingkan masalah agama atau bahkan tidak peduli sama sekali. Ditambah lagi sarana informasi (media massa) yang secara umum malah menjadi media yang merusak dan menyebabkan penyimpangan atau sekedar mementingkan materi duniawi dan kesenangan. Tidak peduli dengan penguatan akhlaq dan aqidah yang lurus.

Lalu bagaimana metode mengatasinya? Berikut diantaranya:

  1. Kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah

Kembali kepada kitabullah dan sunnah rasulullah untuk mengambil aqidah yang lurus dari keduanya. Hal ini sebagaimana dilakukan para salafush shalih zaman dahulu dimana mereka menyandarkan aqidah mereka pada keduanya (Al Qur’an dan As Sunnah). Akhir umat ini tidak akan kembali baik kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya. Bersamaan dengan itu juga mengenali aqidah kelompok-kelompong yang menyimpang dan mengetahui syubhat-syubhat mereka untuk membantah dan memperingatkan darinya. Barangsiapa tidak mengetahui kejelekan maka ditakutkan akan terjatuh kedalamnya.

 

  1. Perhatian terhadap pendidikan aqidah yang lurus

Perhatian terhadap pembelajaran aqidah yang lurus – yaitu aqidah para salafush shalih – di seluruh jenjang pendidikan. Hendaknya masalah aqidah diberi porsi yang cukup dalam kurikulum pendidikan.

 

  1. Mempelajari kitab-kitab salafush shalih

Mempelajari kitab salafush shalih yang murni dan menjauhi kitab-kitab kelompok menyimpang seperti shufiyah, jahmiyah, mu’tazilah dan yang lainnya, kecuali untuk membantah dan memperingatkan darinya.

 

  1. Berdirinya para da’i yang menyeru pada aqidah salafus shalih dan membantah penyimpangan darinya.

Disarikan dari kitab “Aqidatut Tauhid” karya Syaikh Dr Saleh Al Fauzan hafidzahullah.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 3/4/1437H
| Web:Ukhuwahislamiah.com | FB:Ukhuwah Islamiah | Twitter:@ukhuwah_islamia |