Ramadhan #25: Pentingnya Ikhlash dan Tauhid

0
20

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Satu pelajaran penting dari ibadah puasa Ramadhan adalah melatih keikhlasan, yaitu beramal hanya semata-mata mengharap ridha Allah. Tidak ada yang lebih mengetahui kondisi orang berpuasa kecuali hanya Allah kemudian yang bersangkutan sendiri.

Allah menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang berpuasa yang meninggalkan makan, minum dan syahwat yang lainnya karena semata-mata mengharap pahala dari Allah.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Alloh maka diampuni dosanya yang telah berlalu.” (HR Bukhari 38 dan Muslim 760)

Di dalam hadits ini disyaratkan adanya iman dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah) yang tidak lain adalah keikhlasan dalam mengerjalan amalan tersebut.

Antara Ikhlash dan Tauhid

Ikhlash dalam arti yang sederhana adalah beramal semata-mata mengharapkan ridha atau balasan dari Allah. Sedang tauhid adalah mengesakan Allah dalam beramal atau beribadah. Ikhlash dan tauhid adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan istilah ikhlash dan tauhid sering kali dijadikan sinomin atau pengganti satu dengan yang lainnya. Kalimat tauhid (la ilaha illallah) disebut juga kalimatul ikhlash. Surat Al Ikhlas dinamai “Al Ikhlash” karena surat ini sepenuhnya berisi tentang tauhid atau keesaan Allah.

Setiap ibadah harus didasari keikhlasan dan tauhid. Seorang beribadah harus hanya untuk Allah semata dan hanya semata-mata mengharap balasan dari Allah. Bukan untuk selainNya atau mengharap balasan dari selainNya. Jika seseorang beribadah kepada Allah dan juga pada selainNya maka dia terjatuh pada kesyirikan. Jika seseorang melakukan ibadah karena selain Allah misal karena mengharap pujian manusia maka dia terjatuh pada riya’ (pamer). Riya’ juga termasuk bentuk kesyirikan. Jika suatu ibadah kemasukan syirik atau riya’ maka ibadah tersebut rusak atau bahkan batal sama sekali. Manusia diperintahkan untuk mengikhlaskan dan mengesakan Allah dalam seluruh ibadahnya. Allah berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlashkan (memurnikan) ketaatan kepada-Nya dalam (hal menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al Bayyinat: 5)

Pentingnya tauhid

Tauhid sangat penting karena adalah inti dari agama. Dia adalah landasan diterimanya seluruh amalan atau ibadah.  Tujuan utama diciptakan manusia adalah untuk bertauhid atau beribadah kepada Allah semata. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku (Alloh) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadat (semata-mata) kepada-Ku.” (QS adz-Dzariyat: 56)

Tauhid adalah pondasi dan rukun yang paling penting dalam agama Islam. Tidak akan diterima suatu amal ibadah kecuali harus dilandasi dengan tauhid. Jika tauhid seseorang baik maka insyaallah masalah ibadah, muammalah, akhlak dan perkara lainnya juga akan baik. Rasulullah bersabda, “Islam didirikan di atas lima perkara yaitu bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah secara benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke baitullah dan berpuasa pada bulan ramadhan” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16).

Oleh karena itu, tauhid menjadi prioritas utama dakwah para Nabi dan Rasul. Mereka diutus kepada umatnya masing-masing dengan syariat yang berbeda-beda. Tetapi inti dakwah mereka sama yaitu tauhidullah (menjadikan ibadah hanya kepada Allah semata). Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An Nahl: 36)

Kita diperintahkan untuk mengesakan Allah dalam Ibadah dan dilarang mempersekutukannya dengan sesuatu apapun. Tauhid adalah perintah Allah yang paling agung dan sebaliknya kesyirikan adalah larangan Allah dan dosa yang paling besar.  Allah tidak akan mengampuni dosa syirik bagi yang tidak bertobat darinya. Allah befirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An- Nisaa’: 48)

Semoga Allah menjadikan untuk dapat menjaga tauhid dan keikhlasan dalam beribadah. Semoga Allah menjauhkan kita dari kesyirikan dan riya’. Amien.

 

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 1438H.

Info detail dan dokumentasi kajian KUI: http://ukhuwahislamiah.com/kui/

Join channel Telegram: telegram.me/ukhuwahislamiahcom

IG: ukhuwahislamiahcom

FB: https://www.facebook.com/ukhuwahislamiahcom

Materi spesial Insyaallah diposting tiap hari selama bulan Ramadhan. Silahkan dishare!