Ramadhan #24: Menjaga lisan

0
59

Orang yang berpuasa tidak sekedar diperintah menahan diri dari makan dan minum. Namun juga diperintahkan untuk menahan diri dari berkata dan berperilaku kotor. Rasulullah bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan yang kotor dan berperilaku dengannya maka Allah tidak membutuhkan mereka meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR Bukhari 1903, dari sahabat Abu Hurairah)

 

Kalau Ramadhan ini diibaratkan dengan sebuah madrasah atau sekolah maka perlu ada evaluasi. Sekarang kita sudah berada di hari-hari akhir bulan Ramadhan, kita perlu mengevaluasi diri kita. Dalam hal ini coba kita evaluasi diri kita dalam menjaga lisan. Dengan berlalunya hari-hari Ramadhan atau hari-hari puasa sudahkan kita lebih baik dalam menjaga lisan kita?? Jangan-jangan sama sekali tidak ada perubahan!!

 

Pentingnya menjaga lisan

Setiap ucapan yang keluar dari lisan kita akan dicatat oleh Allah. Oleh karena itu hendaknya kita berusaha menjaga lisan kita. Allah berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaaf: 18)

Rasulullah juga memerintahkan kita berkata yang baik atau diam. Beliau bersabda,‎

من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت

‎”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” ‎‎(Bukhari no. 6018, Muslim no. 47)

Dalam beberapa hadits Rasulullah juga memperingatkan bahwa seseorang dapat terjerumus kedalam ‎api neraka karena sebab lisannya. Beliau bersabda dalam hadits yang diriwayat Tirmidzi,

إن الرجل ليتكلم بالكلمة لا يرى بها بأسا يهوي بها سبعين خريفا في النار

Sesungguhnya ada seseorang yang mengucapkan ‎sebuah kalimat yang mana ia anggap biasa tetapi karenanya ia terjun selama 70 tahun ke dalam ‎neraka.”

Dahulu para salafush shalih sangat takut dari penyakit lisan.  Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata,

من كثر كلامه كثر سقطه، ومن كثر سقطه كثرت ذنوبه، ومن كثرت ذنوبه كانت النار أولى به

Barangsiapa banyak bicara maka akan banyak salah. Barangsiapa banyak salah maka banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya maka neraka lebih utama baginya.”

 

Diantara Peyakit-Penyakit Lisan:

Pertama, berbicara dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Orang yang baik Islamnya akan berusaha berbicara untuk hal-hal yang bermanfaat saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

من حسن إسلام المرء ترك ما لا يعنيه

‎”Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna ‎baginya.” (Tirmidzi dan Ibnu Majah)‎

Kedua, membicarakan kemaksiatan dan kekejian sehingga menyebar di tengah manusia. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS An Nuur: 19)

Ketiga, suka mencela dan melaknat. Sebagian orang terbiasa mencela atau melaknat orang lain, tempat atau kendaraan. Padahal Rasulullah bersabda,

ليس المؤمن بالطعان واللعان ولا الفاحش ولا البذيء

Bukanlah orang mukmin yang suka mencela, melaknat, berkata keji dan berkata kotor.”  (HR Tirmidzi)

Keempat, banyak mazh (bersendau gurau atau bercanda). Berlebihan dan terus menerus bercanda adalah perkara yang terlarang. Adapun candaan yang sederhana dalam batasan yang normal maka tidak mengapa sebagaimana Rasulullah juga melakukannya.

Kelima, istihza’ (mengejek) dan sukhriyah (merendahkan) orang lain.  Mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain kemudian menjelekkannya. Allah berfirman,

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (QS Al Humazah: 1)

Keenam, penyakit lisan yang berikutnya adalah ghibah (menggunjing). Ghibah termasuk dosa besar. Ghibah adalah menyebut tentang seseorang yang dia tidak sukai. Diriwayatkan dari Rasulullah,

إياكم والغيبة فإن الغيبة أشد من الزنا، إن الرجل قد يزني ويتوب، ويتوب الله عليه، وإن صاحب الغيبة لا يغفر له حتى يغفر له صاحبه

Waspadalah kalian dari ghibah karena (dosa) ghibah lebih dari zina! Sesungguhnya seseorang melakukan zina kemudia bertaubat maka Allah menerima taubatnya. Dan sesungguhnya seorang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh yang dighibahi.

Ketujuh, termasuk penyakit lisan juga adalah namimah (mengadu domba). Rasulullah mengabarkan tentang seseorang yang diadzab di kubur karena namimah. Beliau juga mengabarkan bahwa orang yang melakukan namimah tidak akan masuk surga. Rasulullah bersabda,

لا يدخل الجنة نمام

Tidak akan masuk surga tukang mengadu domba.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sekian, semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang mampu menjaga lisan kita. Amien.

 

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 1438H.

Info detail dan dokumentasi kajian KUI: http://ukhuwahislamiah.com/kui/

Join channel Telegram: telegram.me/ukhuwahislamiahcom

IG: ukhuwahislamiahcom

FB: https://www.facebook.com/ukhuwahislamiahcom

Materi spesial Insyaallah diposting tiap hari selama bulan Ramadhan. Silahkan dishare!