Ramadhan #22: I’tikaf

0
43

 

Diantara pentunjuk Rasulullah dibulan Ramadhan adalah melakukan i’tikaf. Beliau beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Beliau pernah meninggalkannya sekali kemudian menggantinya di bulan syawal. Diriwayatkan pula beliau pernah beri’tikaf di awal dan pertengahan Ramadhan, kemudian setelah itu beliau selalu i’tikaf di akhir Ramadhan sampai akhir hanyatnya. Dahulu Rasulullah memerintahkan untuk dibuatkan tenda di masjid kemudian beliau beri’tikaf, menyendiri fokus beribadah kepada Tuhannya.

Berikut ini beberapa poin penting terkait i’tikaf:

Pertama: i’tikaf disyariatkan berdasar dalil-dalil dari Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ para ulama’. I’tikaf hukumnya sunnah kecuali bagi yang bernadzar untuk mengerjakannya maka menjadi wajib. Allah berfirman:

ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (QS al Baqarah: 187)

Kedua: i’tikaf hanya dikerjakan di masjid

I’tikaf hanya boleh dikerjakan di masjid yang dipakai sholat berjama’ah. Sebagaimana hal ini disinggung dalam ayat 187 surat al Baqarah diatas: “sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid”.Jika dikerjakan di masjid jami’ (yang dipakai untuk sholat Jum’at) maka lebih baik. Tidak boleh i’tikaf di tempat selain masjid misal di rumah atau yang lainnya.

Ketiga: menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama tidak ada batasan lama i’tikaf.

Durasi i’tikaf bisa lama maupun sebentar. Yang penting dia berdiam diri di masjid. Jadi jika seseorang berdiam diri di masjid selama beberapa jam dengan niat i’tikaf maka sudah termasuk i’tikaf menurut pendapat jumhur ulama’.

Keempat: i’tikaf boleh dikerjakan di dalam bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan.

Lebih ditekankan di akhir bulan Ramadhan sebagaimana hal ini di lakukan Rasulullah. Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

“Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam ber-i’tikaf di sepuluh hari terakhir pada bulan Romadhon.” (HR Bukhari 2025 dan Muslim 1171)

 

Kelima: wanita juga disunnahkan beri’tikaf dengan syarat aman dari fitnah. Sebagaimana hal ini juga dikerjakan oleh istri-istri Rasulullah. Aisyah radhiyallahu anha berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam dahulu biasa beri’tikaf di sepuluh terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Kemudian para istrinya juga beri’tikaf setelahnya.” (HR Bukhari 2026 dan Muslim 1172)

Sekian beberapa hal terkait i’tikaf. Ada beberapa hal yang diperselisihkan oleh para ulama terkait i’tikaf ini. Saya menyampaikan secara ringkas agar mudah difahami.

 

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 1438H.

Info detail dan dokumentasi kajian KUI: http://ukhuwahislamiah.com/kui/

Join channel Telegram: telegram.me/ukhuwahislamiahcom

IG: ukhuwahislamiahcom

FB: https://www.facebook.com/ukhuwahislamiahcom

Materi spesial Insyaallah diposting tiap hari selama bulan Ramadhan. Silahkan dishare!