Ramadhan #17: Perang Badar

0
76

Tahun itu tahun 2 Hijriyah tepatnya di bulan Ramadhan, Rasulullah dan sahabatnya keluar dari Madinah menuju sebuah peperangan yang sangat agung.  Peperangan besar pertama dalam Islam. Peperangan yang membedakan antara al haq dan al batil. Iya, itulah peperangan Badar Al Kubra. Peperangan besar pertama antara pasukan kaum muslimin dari Madinah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam – dengan kaum musyrikin Quraisy dari Mekah yang dipimpin oleh Abu Jahal dan yang lainnya. Allah menyebut peperangan ini dengan Yaum Al Furqan atau hari pembeda (lihat QS Al Anfal: 41), yang membedakan al Haq dengan yang batil.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya saat Rasulullah dan para sahabat masih tinggal di Mekah mereka mendapatkan tekanan yang luar biasa dari kaum musyrikin. Kaum musyrikin tidak sekedar menolak ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad tetapi juga menghalangi, mengganggu, dan bahkan menyiksa orang-orang yang beriman. Akhirnya Rasulullah dan para sahabat pun terpaksa hijrah ke Madinah meninggalkan rumah dan harta yang mereka miliki. Setelah hijrah permusuhan dan gangguan orang-orang musyrik tidak pula berhenti. Allah pun mengizinkan kaum muslimin untuk berperang. Allah berfirman,

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ. الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”.”    (QS Al Haj 39-40)

Kekuatan Masing-Masing Pasukan

Rasulullah keluar Madinah bersama sekitar tiga ratus dan belasan orang sahabat (313, 314, atau 317 orang). Mereka hanya membawa 2 ekor kuda dan sekitar 70-an onta. Rasulullah membagi pasukannya menjadi dua katibah (battalion): katibah Muhajirin dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib dan katibah Anshor dipimpin Saad bin Muadz. Adapun liwa’ (bendera perang) dibawa oleh Mush’ab bin Umair.

Adapun pasukan kaum musyrikin Mekah maka jumlah mereka sekitar 1000 pasukan. Mereka membawa 100 ekor kuda, 600 baju perang dan onta yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Pasukan kaum musyrikin dipimpin oleh Abu Jahal dan pemuka-pemuka Quraisy yang lainnya. Tidak tersisa pemuka Quraisy di Mekah kecuali Abu Lahab dan juga Abu Sufyan yang masih dalam perjalanan dari Syam.

Jalannya Perang

Kedua pasukan bertemu di lembah Badar (daerah antara Mekah dan Madinah). Meskipun jauh lebih sedikit dari sisi personil dan materiil kaum muslimin tidak gentar sedikitpun. Sebelum terjadi perperangan turun hujan di malam hari, hal ini semakin menguatkan langkah kaum muslimin dan meneguhkan hati-hati mereka. Malam itu malam 17 Ramadhan (Rasulullah dan para sahabat berangkat dari Madinah sekitar 10 atau 12 Ramadhan). Esok harinya kedua pasukan pun berhadap-hadapan, peperangan dimulai dengan lawan tanding. Dari Kaum muslimin diwakili tiga orang: Hamzah bin Abdulmuthallib, Ali bin Abi Thalib dan Ubaidah bin Harits. Adapun dari kaum musyrikin diwakili oleh tiga jagoan sekaligus pemuka mereka: Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan Walid bin Utbah. Dengan mudah Hamzah mengalahkan Syaibah dan begitu juga Ali mengalahkan Walid. Adapun Ubaidah sempat bertarung sengit dengan Utbah dan keduanya sama-sama terluka, kemudian Hamzah dan Ali membantu Ubaidah dan membunuh Utbah.

Melihat tiga wakil mereka terkalahkan dan terbunuh maka kaum musyrikin pun marah dan akhirnya perperangan sengit diantara dua pasukan pun tidak terelakkan lagi. Kaum musyrikin menyerang secara serentak, adapun kaum muslimin dalam posisi bertahan dan menyerang secara teratur. Rasulullah mengomandoi pasukannya dan juga terus berdo’a pada Allah. Diantara do’a yang beliau ucapkan:

اللهم إن تهلك هذه العصابة اليوم لا تعبد، اللهم إن شئت لم تعبد بعد اليوم أبدا

Ya Allah, seandainya pasukan (kaum muslimin) ini dibinasakan hari maka Engkau tidak akan disembah. Ya Allah, andaikata Engkau mau tidak disembah selamanya!

Allah menurunkan pertolongan dengan mengirim para malaikat. Rasulullah pun menginstruksikan pasukan kaum muslimin untuk menyerang balik. Pasukan kaum muslimin pun dengan semangat melakukan penyerangan balik dan berhasil membunuh banyak sekali pasukan kaum musyrikin. Pemimpin kaum musyrikin, Abu Jahal, pun terbunuh ditangan dua pemuda Anshor. Pasukan kaum musyrikin akhirnya tercerai berai dan melarikan diri.

Akhir peperangan

Kaum kafir quraisyh mengalami kekalahan yang telak, 70 orang diantara mereka terbunuh dan 70 orang ditawan. Termasuk yang terbunuh adalah Abu Jahal dan pemuka-pemuka Quraisy lainnya.  Adapun dari pihak kaum muslimin, 14 orang sahabat mati syahid (6 dari muhajirin dan 8 dari anshor) -semoga Allah meridhai mereka-. Selesai perang Rasulullah dan para sahabat berdiam di lembah Badar tiga hari sebagai pertanda kemenagan mereka.

Kabar kekalahan pun akhirnya sampai ke Mekah sehingga membuat orang-orang kafir Quraisy yang di Mekah takut dan bersedih dengan kesedihan yang luar biasa. Begitu juga, kabar kemenangan pun sampai ke Madinah sehingga kaum muslimin gembira dan semakin kuat posisinya. Rasulullah dan para sahabat pun kembali ke Madinah disambut penduduk Madinah dengan penuh kebahagiaan. Banyak diantara penduduk Madinah pun akhirnya masuk Islam dan kaum muslimin pun semakin ditakuti oleh musuh.

Pelajaran dari perang Badar

Perang Badar adalah perang pertama antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Meskipun jumlah pasukan kaum muslimin lebih sedikit tetapi berkat pertolongan Allah dan kemudian berkat keteguhan iman kaum muslimin maka mereka pun meraih kemenangan yang gemilang. Peperangan ini menjadi tonggak sejarah baru dalam perkembangan Islam. Berkaitan perang Badar Allah menurunkan surat Al Anfal yang mana di dalamnya disebutkan arahan-arahan dan hukum-hukum yang berkaitan dengan perperangan seperti rampasan perang dan lainnya. Allah juga memberi nasehat kaum muslimin untuk tidak berbangga diri, tetapi sebaliknya hendaknya banyak berdzikir pada Allah, mengintropeksi diri dan menyempurnakan kekurangan yang ada. Allah juga memerintahkan kaum muslimin untuk selalu taat pada Allah dan RasulNya dan menjaga persatuan, Allah berfirman:

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Anfal: 45)

Disarikan dari kitab Rahiqul Makhtum karya Syaikh Shofiyurrahman Al Mubarakfuriy rahimahullah.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 1438H.

Info detail dan dokumentasi kajian KUI: http://ukhuwahislamiah.com/kui/

Join channel Telegram: telegram.me/ukhuwahislamiahcom

IG: ukhuwahislamiahcom

FB: https://www.facebook.com/ukhuwahislamiahcom

Materi spesial Insyaallah diposting tiap hari selama bulan Ramadhan. Silahkan dishare!