Ramadhan #13: Ihsan dan muraqabatullah

0
77

Salah satu pelajaran penting dari puasa dan ibadah di bulan Ramadhan lainnya adalah agar dapat dapat mencapai derajat ihsan atau menjadi pribadi yang muhsin. Ihsan adalah derajat keislaman yang paling tinggi, setelah Islam dan Iman.

Yang mengetahui persih kondisi orang yang berpuasa adalah Allah dan diri mereka sendiri. Andaikata mereka makan atau minum tempat yang tersembunyi maka tidak ada orang lain yang mengetahui. Karena hal inilah Allah mengkhususkan puasa untuk diriNya dan menjanjikan pahala yang besar.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Seluruh amalan bani Adam adalah baginya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah bagiKu dan Saya yang akan memberinya pahala.” (HR. Bukhari 1904 dan Muslim 1151)

Puasa mengajarkan sifat ihsan dan juga muraqabatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah). Seorang muhsin (yang berbuat ihsan) beribadah hanya semata-mata karena Allah dan dia akan melakukan ibadah itu dengan sebaik-baiknya karena merasa diawasi oleh Allah.

Keutaman Ihsan

Ihsan adalah tingkatan agama yang tertinggi setelah Islam dan iman sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril.  Saat Rasulullah ditanya tentang arti Ihsan beliau menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Muslim 102)

Seorang yang muhsin selalu berusaha melakukan yang terbaik baik dalam ibadah kepada Allah maupun dalam muammalah dengan makhluq yang lainnya karena dia sadar betul selalu diawasi oleh Allah. Syaikh Abdurrahman as Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ihsan mencakup dua macam: (1) ihsan dalam beribadah kepada Allah dan (2) ihsan dalam menunaikan hak sesama makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya atau merasa diawasi olehNya. Sedangkan ihsan terhadap makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka. (Bahjatu Qulubil Abraar)

Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Allah befirman,

وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah: 195)

Allah memerintahkan manusia untuk berbuat ihsan kepada kedua orang tuanya, kerabat, tetangga, dan yang lainnya. Allah befirman yang artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An Nisa’: 36)

Suatu hari ada seorang salafush shalih yang sangat marah terhadap budaknya dan sudah bertekad untuk menghukumnya. Si budak kemudian mengatakan (mengutip QS. Ali Imran 134), “Dan orang-orang yang menahan amarahnya”. Orang tersebut kemudian mengatakan, “Saya tahan amarahku.” Si budak melanjutkan, “Yang memaafkan orang lain.” Orang tersebut mengatakan, “Saya maafkan kamu.” Si budak berkata lagi, “Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Orang tersebut pun mengatakan, “Pergilah, kamu merdeka demi wajah Allah ta’ala!” Ini adalah contoh sikap ihsan yang luar biasa. Dia tidak sekedar menahan amarahnya tetapi juga memaafkan dan bahkan memerdekakan budaknya.

Mari kita gunakan momen Ramadhan ini untuk menjadi pribadi-pribadi muhsinin yang beribadah semata-mata hanya karena mengharap ridha Allah dan juga melakukan amal kebaikan untuk membantu orang lain baik dengan perbuatan, harta atau yang lainnya.

 

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 1438H.

Info detail dan dokumentasi kajian KUI: http://ukhuwahislamiah.com/kui/

Join channel Telegram: telegram.me/ukhuwahislamiahcom

IG: ukhuwahislamiahcom

FB: https://www.facebook.com/ukhuwahislamiahcom

Materi spesial Insyaallah diposting tiap hari selama bulan Ramadhan. Silahkan dishare!