Ramadhan #01: Sambut Ramadhan dengan penuh kebahagiaan dan niat yang lurus

1
150

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Alhamdulillah, kita wajib besyukur dapat dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang penuh berkah ini. Bulan yang memiliki begitu banyak keutamaan dan disyariatkan di dalamnya berbagai amalan yang utama  mulai dari puasa, qiyamullail dan lainnya. Mari kita sambut bulan yang mulia ini dengan penuh kebahagiaan dan semangat. Selain itu, mari kita juga sejak dini meluruskan niat kembali untuk semata-mata mengharap ridha Allah dalam menjalankan ibadah-ibadah yang disyariatkan di bulan yang mulia ini.

Bahagia Menyambut Ramadhan

Kaum muslimin rahimakumullah,

Orang yang beriman selalu merasa bahagia dengan keutamaan yang Allah berikan. Allah berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus: 58)

Dahulu Rasulullah memberi kabar gembira para sahabat dengan datangnya bulan Ramadhan. Sebagaimana hal ini diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam memberi kabar gembira kepada para sahabatnya saat datang bulan Ramadhan dengan bersabda,

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ, شَهْرٌ مُبَارَكٌ, كَتَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ, فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةُ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ. فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Telah datang kepadamu Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan atas kalian puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa terhalangi dari kebaikannya maka ia telah terhalangi (dari kebaikan).” (HR. Ahmad dan an-Nasa`i. Dishahihkan Syaikh Albani)

Kita harus berbahagia dengan kedatangan bulan Ramadhan. Jangan sampai seperti sebagian orang yang merasa “biasa saja” atau bahkan merasa “berat” dengan datangnya bulan Ramadhan. Mereka merasa berat karena diperintahkan untuk berpuasa sebulan penuh dan juga diperintah ibadah yang lainnya.

Seorang yang berakal lagi beriman tidak melihat sesuatu hanya berdasar dhohirnya saja, tetapi juga melihat manfaat dan hikmah yang ada di dalamnya.  Orang yang beriman bahagia menjalani puasa karena dia mengetahui di dalamnya terdapat berbagai manfaat baik jasmani maupun rohani. Dia juga sadar bahwa puasa itu hanya sementara, hanya di siang hari dan hanya dalam hari-hari yang terbatas kemudian dia bisa menikmati kembali makan, minum dan lainnya seperti biasa. Dia juga yakin bahwa Allah akan memberi pahala bagi orang-orang yang berpuasanya karenaNya. Semua hal ini akan membuat orang yang beriman merasa bahagia dan senang dalam menjalani puasa. Sebagaimana hal ini juga disinggung dalam hadits Qudsi:

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Luruskan Niat

Kaum muslimin rahimakumullah,

Selain menyambut Ramadhan dengan penuh kebahagiaan kita juga harus berusaha meluruskan kembali niat kita. Mari kita jalankan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan ini atas dasar keimanan dan semata-mata mengharap ridha Allah. Niat yang benar sangat penting dalam setiap ibadah karena dia menjadi tolok ukur utama diterima atau tidak ibadah tersebut. Rasulullah bersabda:

إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى

Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya”. (HR. Bukhari 1 dan Muslim 1907)

Orang yang menjalankan puasa dan juga qiyamul lail semata-mata atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau. Rasulullah bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Romadhon karena iman dan mengharap pahala dari Alloh maka diampuni dosanya yang telah berlalu.” (HR Bukhari 38, Muslim 760).

Beliau juga bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berdiri (shalat) dibulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka diampuni dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari 37 dan Muslim 759).

Hati-hati dengan niat yang tidak benar dan juga hal-hal lainnya yang dapat merusak ibadah kita. Jangan sampai kita menjalankan puasa kemudian hanya mendapatkan lapar dan haus saja dan tidak bernilai kebaikan di sisi Allah. Rasulullah bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

“Bisa jadi seorang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya kecuali sekedar lapar. Dan bisa jadi seorang yang berdiri (sholat malam) tidak mendapat kecuali sekedar bergadang tidak tidur.” (HR Ibnu Majah: 1690. Syaikh Albani mengatakan hasan shahih)

Mari kita jalankan setiap ibadah dengan penuh keikhlasan dan semata-mata mengharap ridha Allah. Jangan sampai hanya karena ikut-ikutan atau karena riya’ (pamer) agar mendapatpujian manusia.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Semoga materi singkat ini bermanfaat bagi saya sendiri dan kaum muslimin sekalian. Sekali lagi mari kita sambut bulan Ramadhan ini dengan penuh kegembiraan dan juga niat yang lurus. Semoga Allah memudahkan kita menjalankan puasa dan ibadah puasa dan lainnya serta menerimanya disisiNya. Amien.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 1438H.

Info detail dan dokumentasi kajian KUI: http://ukhuwahislamiah.com/kui/

Join channel Telegram: telegram.me/ukhuwahislamiahcom

IG: ukhuwahislamiahcom

FB: https://www.facebook.com/ukhuwahislamiahcom

  • uztadz…
    perbedaan antara hisab (sprti muhamadiyah) dn rukyat (NU) yg sering menjadikan perbedaan pnentuan 1ramadhan,
    trmasuk khilaf furu’ atw ushul tadz?
    dn apakah kita bleh berlapang2 dlm khilaf tsb?

    Jawab:
    Terlepas ini masalah furu’ atau ushul yang benar/ yg shahih awal dan akhir bulan (Ramadhan atau yg lainnya) adalah dengan ru’yah (melihat) hilal. Namun yg berwenang menetapkan awal Ramadhan atau yg lainnya adalah pemerintah hendaknya mengikuti pemerintah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan.

    Tetapi jika ada yg menyelisihi maka kewenangan pemerintah untuk menegur. Kita tidak perlu ikut2 mempermasalahkan. Cukup menasehati dan mendakwahkan yg benar jika memungkinkan. Allahu a’lam.