Petunjuk dalam masalah agama dan masalah duniawi

0
135

Hukum asal masalah ibadah atau agama secara umum adalah tauqifiyah, yaitu jalankan sesuai yang diperintahkan syariat. Jangan mengada-ada dalam urusan agama (bid’ah) meskipun seolah baik. Agama ini bukan buatan manusia. Allah ta’ala yang menurunkan agama ini dari langit lewat rasulNya yang mulia. Tidak boleh seseorang berinovasi dalam urusan agama. Allah sendiri yang menyatakan bahwa agama Islam ini telah disempurnakan. Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. “ (QS. Al Maidah: 3)

 

Yang namanya sempurna maka tidak memerlukan penambahan maupun pengurangan. Orang yang mengada-ada dalam masalah agama maka seolah-olah dia menuduh agama ini belum sempurna! Seolah-olah ada yang kurang dari agama ini sehingga perlu ditambah yang baru. Apakah dia merasa lebih tahu dari Allah dan RasulNya dalam masalah agama??

 

Dengan tegas Rasulullah menyatakan bahwa barangsiapa membuat sesuatu yang diada-adakan dalam urusan agama maka hal tersebut tertolak. Dari Ummul mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

 

Hadits diatas jelas keshahihan riwayatnya dan jelas pula maknanya. Sesuatu yang diada-adakan dalam masalah agama maka dia tertolak. Berbeda dengan masalah-masalah duniawi yang mana hukum asalnya adalah mubah (boleh) kecuali yang dilarang oleh syariat. Kita boleh membuat inovasi dalam masalah duniawi seperti inovasi dalam alat transportrasi, alat komunikasi dan lainnya. Rasulullah bersabda,

 

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim no. 2363)

 

Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh para ulama dalam kaidah fiqih: “hukum asal dari ibadah adalah tawaquf (diam)” dan juga kaidah: “hukum asal dari adat kebiasaan manusia adalah mubah”. Sungguh indah apa yang disampaikan Syaikh Sa’diy rahimahullah dalam mandhzumah qawa’idul fiqhiyah-nya:

والأصل في عاداتنا الإباحــــة           حـتى يجـيء صـارف الإباحـة

                وليس مشـروعا مـن الأمــــور         غيرُ الذي فـــي شرعنا مذكور

Asal dari adat kebiasaan kita (manusia) adalah mubah sampai ada (dalil) yang memalingkan kemubahan tersebut. Dan tidaklah disyariatkan dari urusan (agama) ini kecuali yang disebutkan dalam syariat.”

 

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 22/11/1437H.

Ukhuwahislamiah.com