Pertanyaan tentang nasab dan orang tua Nabi Muhammad

0
163
Ustadz, ada dalil bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam terlahir dari nasab yang suci. Sementara ada dalil juga yang menyatakan bahwa orang tua Nabi shallallahu’alaihiwasallam di neraka. Bagaimana menyikapinya?
 
Jawab:
Sebelumnya perlu ditekankan dahulu bahwa kita sebagai seorang muslim wajib mencintai dan memuliakan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, serta para sahabatnya. Kita juga wajib membenarkan seluruh apa yang beliau sampaikan karena beliau adalah utusan Allah dan beliau tidak menyampaikan kecuali dari wahyu yang Allah berikan pada beliau. Beliau tidak menyampaikan dari hawa nafsu. Kita juga yakin seyakin-yakinya bahwa tidak ada pertentangan dari apa yang beliau sampaikan baik dari Al Qur’an maupun dari as Sunnah karena semuanya pada asalnya adalah dari Allah.
 
Adapun tentang nasab, Nabi Muhammad dilahirkan dari keturunan orang-orang pilihan dan dihormati kaumnya. Rasulullah bersabda,
بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ، قَرْنًا فَقَرْنًا، حَتَّى كُنْتُ مِنَ القَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ
“Aku diutus dari sebaik-baik kurun (generasi) bani Adam, kurun yang satu lalu yang berikutnya, hingga sampai pada kurun dimana aku ada padanya.” (HR. Bukhari 3557)
 
Beliau juga bersabda,
إِنَّ اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ
“Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il, dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy, dan memilih aku dari keturunan Bani Hasyim.” (HR. Muslim 2276)
 
Kedua hadits telah menunjukkan dengan jelas bahwa beliau dilahirkan dari keturunan orang-orang yang dihormati dan pilihan. Bukan keturunan orang-orang bejat dan hina di tengah masyarakat. Namun perlu diperhatikan bahwa hadits-hadits ini tidak menunjukkan bahwa seluruh nenek moyang Rasulullah (termasuk kedua orang tua beliau) adalah orang-orang yang beriman atau muslim. Bahkan Rasulullah sendiri telah menjelaskan tentang kondisi kedua orang tua beliau.
 
Yang pertama tentang ayah beliau, disebutkan dalam sebuah riwayat shahih:
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِيْ؟ قَالَ: فِي النَّارِ. فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ
“Dari Anas, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka” (HR. Muslim 203)
 
Adapun tentang ibu beliau, diriwayatkan dari Abu Hurairah:
زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: «اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ»
“Nabi pernah menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis dan membuat orang yang berada di sampingnya juga turut menangis kemudian beliau bersabda, ‘Saya tadi meminta izin kepada Rabbku untuk memohon ampun baginya (ibunya) tetapi saya tidak diberi izin, dan saya meminta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya (ibunya) kemudian Allah memberiku izin. Berziarahlah karena (ziarah kubur) dapat mengingatkan kematian.’” (HR. Muslim 976)
 
Kedua hadits shahih ini menunjukkan dengan jelas tentang kondisi kedua orang tua Rasulullah. Pada hadits yang pertama Rasulullah mengabarkan bahwa ayah beliau di neraka. Dan pada hadits yang kedua Rasulullah mengabarkan bahwa beliau tidak diizinkan memohonkan ampun untuk ibunya. Dijelaskan dalam riwayat bahwa peristiwa ini yang menjadi asbabu nuzulnya firman Allah ta’ala:
مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At Taubah: 113).
 
Tidak boleh menolak dalil-dalil ini hanya bersadar pada logika atau perasaan semata. Atau menolaknya dengan dalil-dalil yang lemah atau mengikuti pendapat yang aneh dari sebagian ulama’. Kedua hadits yang terakhir ini juga tidak bertentangan kedua kedua hadits shahih sebelumnya. Allahu A’lam.
Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com