Perjalanan Hidup Nabi Muhammad

1
186

(Bagian 1: Dari kelahiran sampai menjelang Hijrah)

 

Pada tulisan ini kami ingin membahas secara singkat sirah (perjalanan hidup) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya sertakan tahun Hijriyah dan Masehi untuk memudahkan memahami kronologi perjalanan hidup beliau.  Tidak dipungkiri ada beberapa perbedaan pendapat para ulama dan ahli sejarah tentang penetapan tanggal untuk beberapa peristiwa  dalam sirah Nabi Muhammad. Namun, agar ringkas dan mudah dicerna disini saya menyampaikan sesuai yang dikuatkan oleh syaikh Shofiyurrahman Mubarakfuri dalam kitab sirah beliau Ar Rahiqu Al Makhtum. Semoga bermanfaat.

 

Kelahiran Nabi Muhammad (9 Rabi’ul Awwal /20 atau 22 April 571 M)

Nabi Muhammad dilahirkan di tahun gajah, tahun dimana Abrahah dengan pasukan bergajahnya gagal menyerang Ka’bah. Lahir pada hari Senin berdasarkan sabda Nabi tatkala ditanya tentang puasa hari Senin (HR Muslim 1162). Adapun bulan dan tanggal kelahirannya terjadi perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat pada tanggal 12 dari bulan Rabi’ul Awal dan sebagian ulama’ berpendapat pada tanggal 9 dari bulan yang sama. Bapak beliau bernama Abdullah bin Abdilmuthallib bin Hasyim dari suku Quraisy, sedang ibu beliau bernama Aminah. Bapak beliau meninggal di Yatsrib (Madinah) saat beliau masih dalam kandungan.

 

Diasuh Halimah (sampai umur 4 atau 5 tahun)

Salah satu kebiasaan kaum Quraisy adalah menitipkan dan menyusukan bayi-bayi mereka kepada wanita-wanita di daerah badwi (pedalaman) agar fasih lisan Arabnya dan terhindar dari penyakit yang biasa tersebar di kota. Nabi Muhammad dititipkan kepada seorang wanita bernama Halimah dari bani Saad. Keberadaan Nabi Muhammad membawa keberkahan di keluarga Halimah. Muhammad dirawat Halimah sampai umur 4 atau 5 tahun. Kemudian terjadi peristiwa dibelahnya dada Rasulullah oleh malaikat Jibril kemudian hatinya dicuci dengan air zamzam.

 

Diasuh kembali oleh Ibunya (sampai umur 6 tahun)

Setelah terjadi peristiwa pembelahan dada oleh malaikat Jibril maka Halimah khawatir kemudian mengembalikan Nabi Muhammad pada ibunya. Nabi Muhammad pun diasuh ibunya sampai sekitar umur 6 tahun. Ibunya meninggal di daerah Abwa’ (antara Madinah dan Mekah) saat perjalanan balik dari menziarahi kuburan suaminya (bapak Nabi Muhammad) di Madinah.

 

Diasuh kakeknya (sampai umur 8 tahun) kemudian pamannya

Kemudian Nabi Muhammad diasuh oleh kakeknya Abdulmuthallib. Abdulmuthallib wafat saat nabi Muhammad menginjak usia sekitar 8 tahun. Kemudian beliau diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Abu Thalib mengasuh dan melindungi beliau dengan baik. Bahkan sampai dewasa, hampir sekitar 40 tahun terus melindungi beliau.

 

Diajak ke Syam (umur 12 tahun)

Abu Thalib mengajak Muhammad ke Syam saat umurnya sekitar 12 tahun. Ketika hampir sampai di Syam mereka bertemu dengan seorang rahib (pendeta) dikenal dengan Buhaira, namanya aslinya Jarjisy. Rahib ini mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad. Dia menyarankan Abu Thalib untuk membawa kembali Muammad muda ke Mekah karena takut nanti akan diganggu orang-orang Yahudi. Abu Thalib pun mengikuti saran tersebut.

 

Perang Fijar dan Perjanjian Fudhul (umur 15 tahun)

Saat umur Nabi Muhammad sekitar 15 tahun terjadi perang Fijar, perang antara Quraisy bersama Kinanah melawan Aus Aylan. Disebut perang Fijar karena melanggar kehormatan daerah haram (Mekah) dan terjadi di bulan-bulan Haram juga. Awalnya di pagi hari kemenangan ada di pihak bani Aus tetapi di siang hari keadaan berbalik, kemenangan di pihak Kinanah. Diantara rentetan perang Fijar ini kemudian terjadi perjanjian Fudhul. Pada perjanjian Fudhul ini suku-suku Quraisy berkumpul dan sepakat untuk menolong siapa saja yang dizhalimi di daerah haram (Mekah) baik penduduk aslinya maupun kaum pendatang.

 

Menikah dengan Khadijah (umur 25 tahun)

Sekitar umur 25 tahun Nabi Muhammad ke Syam membawa dagangan Khadijah, seorang wanita terpandang dan kaya dari kaum Quraisy. Saat itu Khadijah berstatus janda dan umurnya sekitar 40 tahun, banyak pemuka Quraisy yang ingin menikahinya tetapi ditolak. Nabi Muhammad kembali dari Syam dengan keuntungan yang cukup banyak. Mendengar penuturan Maisarah, budak yang menyertai Nabi Muhammad ke Syam, tentang pribadi Muhammad yang sangat jujur dan amanah maka hati Khadijah pun tertarik. Nabi Muhammad kemudian menikah dengan Khadijah dan beliau tidak menikahi wanita lain sampai wafatnya Khadijah. Seluruh anak Nabi Muhammad – selain Ibrahim – berasal dari Khadijah.   Anak yang pertama Qasim -karenanya beliau berkunyah Abul Qasim-, kemudian Zainab, Ruqayah, Ummul Kultsum, Fathimah, dan Abdullah. Seluruh putranya wafat diusia kecil dan sedang putrinya tumbuh dewasa kemudian masuk Islam. Tetapi kemudian putri-putri beliau pun meninggal mendahului beliau kecuali Fathimah yang mana meninggal enam bulan setelah beliau wafat.

 

Peristiwa perbaikan Ka’bah (umur 35 tahun)

Kaum Quraisy melakukan perbaikan Ka’bah setelah sebelumnya Mekah diterjang banjir sehingga menyebabkan beberapa kerusakan di ka’bah. Hal ini terjadi sekitar 5 tahun sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Suku-suku Qurasih pun bahu-membahu membangun ka’bah dan mereka bersepakat tidak memasukan harta haram untuk pembangunan ka’bah karena kedudukannya yang begitu mulia. Menjelang peletakan Hajar Aswad ketempatnya semua terjadi perselisihan. Perselisihan berlanjut sampai 4 atau lebih hampir-hampir mereka saling menumpahkan darah karenanya. Kemudian mereka bersepakat untuk menjadikan orang yang pertama kali masuk pintu Masjidil Haram sebagai hakim atas perselisihan mereka. Allah menakdirkan Nabi Muhammad sebagai orang yang pertama kali masuk pintu Masjidil Haram. Mereka mengatakan, “Telah datang al amin (yang terpercaya), maka kami pun ridha dia sebagai penengah atas perselisihan kita.” Nabi Muhammad pun membentangkan surbannya, meletakkan hajar aswad di tengahnya, kemudian meminta seluruh pemuka kaum Quraisy memegang ujung-ujungnya. Setelah dekat tempat peletakkan maka beliau sendiri yang mengangkat hajar aswadnya.

 

Uzlah di gua Hira’ dan turun wahyu (umur 40 tahun)

Menjelang umur 40 tahun Muhammad sering ber-uzlah (menyendiri) ke gua Hira’ yang terletak di gunung Nur, sekitar  2 mil dari Mekah. Hal ini beliau lakukan hampir sekitar 3 tahun. Beliau beruzlah memikirkan keadaan kaumnya yang diliputi kejahiliyahan (kebodohan) dan kesyirikan. Menjelang nubuwah beliau mimpi melihat ufuk yang sangat terang dan hal ini terjadi selama hampir 6 bulan berturut-turut. Kemudian datanglah malaikat Jibril mewahyukan kepada beliau surat yang pertama kali turun dari al Qur’an yaitu surat al Alaq (“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”… dst).  Berdasar penelitian, turunnya wahyu ini terjadi pada hari Senin setelah berlalu 21 hari di bulan Ramadhan (di malam hari). Bertepatan 10 Agustus 610M.

 

Setelah turun wahyu yang pertama Nabi Muhammad ketakutan kemudian balik ke rumah dan minta dikemuli Khadijah sampai hilang rasa takutnya. Setelah mereka menceritakan apa yang terjadi pada Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nashrani, dia mengatakan bahwa itu adalah Namush (Jibril) yang dulu datang memberi wahyu pada Musa.  Setelah berselang beberapa hari kemudian turun wahyu kedua. Saat itu Rasulullah sedang berjalan, kemudian terdengar suara dari langit. Saat beliau mengangkat kepala ternyata ada malaikat yang dia lihat di gua hira’ sebelumnya (yaitu Jibril). Beliau pun pulang kemudian minta diselimuti oleh keluarganya lalu turunlah surat al Mudatsir (“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!” ..dst).  Dengan demikian telah jelas bagi beliau bahwa beliau mengemban amanah yang baru yang begitu agung, yaitu amanah kenabian dan kerasulan. Beliau diperintahkan untuk menyampaikan risalah dari Tuhan semesta alam untuk manusia seluruhnya.

 

Marhalah dakwah

Secara global marhalah (fase) dakwah Nabi Muhammad dapat dibagi menjadi dua:

1). Fase dakwah di Mekah (sekitar 13 tahun)

2). Fase dakwah di Madinah (10 tahun)

 

Fase dakwah di Mekah dapat diperinci lagi menjadi tiga:

  • Dakwah sembunyi-sembunyi (sirriyah), sekitar 3 tahun
  • Dakwah terbuka untuk ahli Mekah, tahun ke3 sampai tahun ke-10
  • Dakwah untuk sekitar ahli Mekah, setelah tahun ke-10 sampai hijrah ke Madinah

 

Dakwah personal dan sembunyi-sembunyi (tahun ke 1-3 dari kenabian)

Beliau pun mulai berdakwah kepada keluarga dan orang-orang terdekat secara personal dan sembunyi-sembunyi. Beliau mengajak pada tauhid, iman pada hari akhir, dan yang lainnya dari pokok-pokok aqidah. Orang yang pertama-tama masuk Islam adalah Khadijah (istri), Zaid bin Haritsah (budak beliau), Ali bin Abi Thalib (ponakan) dan Abu Bakar Ash Shidiq (sahabat karib). Kemudian dengan perantara Abu Bakar masuk islamlah Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, dan Tholhah bin Ubaidillah. Kemudian masuk Islam pula beberapa sahabat yang lainnya yang termasuk dalam as sabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam)-semoga Allah meridhai mereka semua-.

 

Dakwah terbuka untuk ahli Mekah (tahun ke 3-10 dari kenabian)

Setelah dakwah secara personal dan sembunyi-sembunyi kemudian Allah memerintahkan RasulNya untuk menyeru manusia secara umum dan terang-terangan. Diantaranya Allah menurunkan surat Asy Syu’ara’ 214, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” Rasulullah mengundang kerabat terdekatnya, bani Hasyim dan bani Abdilmuthallib, dan menyeru mereka untuk masuk Islam. Rasulullah juga menyeru kaum Quraisy secara umum di bukit Shofa dan mengajak mereka bertauhid. Rasulullah juga mulai terang-terangan menjelaskan batilnya berhala-berhala yang disembah kaum musyrikin. Kaum musyrikin pun marah dan menghalang-halangi manusia untuk masuk agama Islam yang haq yang dibawa oleh nabi Muhammad. Bahkan kaum musyrikin juga menyakiti orang-orang yang baru masuk Islam terutama orang-orang yang lemah.  Namun, meskipun kondisinya sulit dan penuh tekanan ternyata makin banyak orang yang masuk Islam, diantaranya Hamzah bin Abdilmuthollib dan Umar bin Khattab (sekitar tahun ke 6 kenabian). Kaum musyirikn Qurasih memboikot bani Hasyim hampir selama tiga tahun penuh (tahun 8-10 kenabian). Pada tahun 10 kenabian paman beliau Abu Thalib dan istri beliau Khadijah meninggal. Rasulullah kemudian menghibur diri dengan berdakwah keluar Mekah, yaitu ke daerah Tha’if.  Rasulullah kemudian menikah dengan Saudah binti Zam’ah.

 

Dakwah untuk sekitar ahli Mekah (setelah tahun ke-10 kenabian sampai hijrah)

Setelah sebelumnya Nabi Muhammad fokus menyeru kaumnya, suku Qurash Mekah, kemudian beliau menyeru suku-suku Arab yang lainnya.  Beliau menyeru penduduk Tha’if  untuk masuk Islam (Syawal tahun ke-10 kenabian/tahun 619 masehi). Tidak sekedar menolak, penduduk Tha’if malah melempari batu saat beliau kembali sehingga kaki beliau berdarah-darah. Beliau tetap sabar dan mendoakan agar kaumnya mendapat hidayah. Beliau menyeru kabilah-kabilah Arab yang datang ke Mekah di musim haji. Pada fase ini terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dimana Rasulullah dibawa ke Baitul Maqdis di Palestina dan kemudian diangkat ke atas langit. Pada peristiwa isra’ mi’raj ini Rasulullah di perintahkan sholat lima waktu langsung oleh Allah ta’ala. Rasulullah menikah dengan Aisyah pada bulan Syawal tahun ke 11 kenabian, tetapi baru tinggal serumah setelah hijrah ke Madinah.

 

Pada fase ini juga terjadi baiat Aqabah, baiat antara Rasulullah dan orang-orang Madinah yang masuk Islam. Baiat Aqabah pertanya terjadi pada musim haji tahun ke-12 kenabian (621M). Diantara hasil baiat Aqabah yang pertama adalah Rasulullah mengirim utusan, yaitu Mush’ab bin Umair, untuk mengajari dan mengajak penduduk Madinah masuk Islam. Dakwah Mush’ab di Madinah pun membawakan hasil yang gemilang, apalagi setelah dua pemuka Madinah masuk Islam (Saad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair). Pada baiat Aqabah kedua (musim haji tahun ke-13 kenabian/ Juni 622 masehi), terjadi kesepakatan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah.

(bersambung insyaallah)

  • Tansa Gasira

    terimakasih.. semoga kajiannya bersambung lagi.. barakallah