Perjalanan Hidup Nabi Muhammad (4)

0
70

(Bagian ke-4: Perang Khaibar sampai Wafatnya Rasulullah)

Perang Khaibar (Muharram 7H)

Tiga usur penting dari pasukan koalisi (ahzab) yang sebelumnya mengepung Madinah adalah: (1) kafir Quraisy, (2) yahudi (Khaibar) dan (3) kabilah-kabilah Najd lainnya. Setelah kaum muslimin membuat perjanjian damai di Hudaibiyah dengan musuhnya yang paling kuat yaitu suku Quraisy maka sudah waktunya membuat perhitungan dengan musuh yang lainnya.  Rasulullah pun menyiapkan pasukan untuk menyerang yahudi Khaibar (perlu diingat mereka yang pertama-tama menghimpun pasukan koalisi/ahzab untuk mengepung Madinah). Rasulullah keluar ke menuju Khaibar bersama sekitar 1400 pasukan dan melarang kaum munafiqin untuk ikut berperang. Kaum yahudi Khaibar pun berusaha bertahan di benteng mereka yang berlapis-lapis. Dengan izin Allah benteng itu satu persatu dapat diterobos dan akhirnya yahudi menyerah. Kaum muslimin mendapat harta rampasan yang sangat banyak sekali. Kaum yahudi tetap diperbolehkan tinggal di khaibar untuk menggarap tanah dan hasilnya (seperti kurma) dibagi.

 

Dalam perjalanan pulang ke Madinah kaum muslimin juga mengadakan peperangan dengan yahudi di Wadi Qura. Yahudi di Wadi Qura pun dengan mudah dapat dikalahkan. Setelah itu kaum muslimin juga membuat perjanjian damai dengan yahudi di Taima’.

 

Peperangan dan Ekspedisi Militer di Tahun 7 H

Setelah perjanjian damai dengan Quraisy di Hudaibiyah dan ditakhlukannya yahudi di Khaibar maka waktunya membuat perhitungan dengan kabilah-kabilah Arab di Najd (Qathafan). Karena kekuatan kabilah-kabilah tersebut terpencar-pencar dan ada di badwi (pedalaman) maka Rasulullah pun mengurus ekspedisi-ekspedisi militer yang berpencar.

  • Perang Dzatur Riqa’ yang dipimpin Rasulullah sendiri .
  • Ekspedisi Ghalib bin Abdullah AlLaitsi ke bani Muluh di Qudaid
  • Ekspedisi Hasma
  • Ekspedisi Umar bin Khatab ke Turbah
  • Ekspedisi Basyir bin Saad AlAnshory ke bani Murrah di sisi Fadak
  • Ekspedisi Ghalib bin Abdullah AlLaitsy
  • Ekspedisi Abdullah bin Rawahah ke Khaiar
  • Ekspedisi Basyir bin Saad AlAnshory ke Yamn dan Jabar
  • Ekspedisi Abi Hadarah AlAslamiy ke Ghabah

 

Umroh Qadha’ (Dzulqa’dah 7H)

Pada bulan Dzulqa’dah Rasulullah bersama sekitar 2000 sahabat (selain wanita dan anak-anak) berangkat ke Mekah untuk menunaikan umrah. Ini sebagai pengganti (qadha’) dari umrah tahun sebelumnya tidak jadi karena perjanjian Hudaibiyah. Mereka menunaikan umrah sambil membawa senjata untuk jaga-jaga kalau sewaktu-waktu Quraisy mengingkari perjanjian damai.

 

Setelah umrah qadha’ terjadi beberapa ekspedisi militer, diantaranya:

  • Ekspedisi Abi Awja’ ke bani Sulaim (Dzulhijjah 7H)
  • Ekspedisi Ghalib bin Abdillah ke daerah Fadak untuk membantu ekspedisi sebelumnya (Safar 8H)
  • Ekspedisi Dzatu Athlah (Rabi’ Awal 8H)
  • Ekspedisi Dzatu ‘Irq ke bani Hawazin (Rabi’ Awal 8H)

 

Peperangan Mu’tah (Jumadil Awal 8H/Agustus atau September 629M)

Ini adalah perang besar menghadapi pasukan Ramawi di daerah Mu’tah (dekat Syam). Penyebabnya adalah dibunuhnya utusan Rasulullah, Harits bin Umair AlAsdiy. Akhirnya 3000 pasukan kaum muslimin diberangkatkan untuk menghadapi sekitar 200.000 pasukan Romawi. Berdasarkan wasiat Rasulullah pemimpin pasukan kaum muslimin adalah Zaid bin Haritsah, jika tebunuh maka penggantinya adalah Jafar bin Abdilmuthallib kemudian Abdullah bin Rawahah. Tiga pemimpin ini kemudian gugur syahid dan digantikan oleh Khalid bin Walid. Meskipun tidak bisa mengalahkan pasukan musuh tetapi perang ini sangat berarti bagi kedudukan kaum muslimin di seluruh jazirah Arab.

 

Setelah perang mu’tah ini Rasulullah mengutus ekspedisi militer dibawah Amr bin Ash (Jumadil Akhir 8H) untuk menyerang kabilah yang bersekongkol dengan pasukan Romawi pada perang mu’tah. Karena mendengar jumlah musuh yang besar maka Amr bin Ash minta tambahan pasukan. Kemudia diutus ekspedisi tambahan dibawah Abu Ubaidah bin Jarrah.

 

Fathu Mekah (Ramadhan 8H)

Rasulullah memimpin sebuah pasukan kaum muslimin yang sangat besar, terdiri kurang lebih 10.000 sahabat.  Mereka keluar menuju Mekah untuk membuat perhitungan dengan kaum musyrikin Quraisy dan sekutunya yang telah melakukan pengkhianatan terhadap perjanjian Hudaibiyah yang disepakati sebelumnya. Bani Bakr (sekutu kaum Quraisy) melanggar perjanjian dengan melakukan penyerangan terhadap bani Khuza’ah (sekutu kaum muslimin). Abu Sufyan, pemuka kaum Quraisy, berusaha melakukan negosiasi untuk memperbarui perjanjian tetapi ditolak oleh Rasulullah, akhirnya dia kembali dengan tangan kosong. Abu Sufyan pun akhirnya masuk Islam saat Rasulullah dan para sahabat sudah mendekati Mekah. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa masuk rumah Abu Sufyan makan dia aman. Barangsiapa menutup pintu rumahnya maka dia aman. Barangsiapa masuk Masjidil Haram maka dia aman.”

 

Rasulullah memerintahkan Khalid bin Walid memimpin pasukan sayap kanan (terdiri dari pasukan kabilah Aslam, Sulaim dan kabilah Arab lainnya) untuk memasuki Mekah dari daerah atas (arah bukit Shofa) dan memerintahkan Zubair memimpin pasukan sayap kiri untuk memasuki dari daerah bawah (daerah Kida’). Adapun Abu Ubadah bin Jarrah berserta pasukannya diperintahkan menyisir lewat tengah lembah. Kaum kafir Quraisy tidak mampu melakukan perlawanan yang berarti. Rasulullah dengan dikawal pasukan kaum muslimin kemudian memasuki Masjidil Haram. Beliau mengusap hajar aswad kemudian berthowaf dan menghancurkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah sambil membaca firman Allah ta’ala: “Telah datang kebenaran dan hancurlah kebathilan, sesungguhnya kebathilan itu pasti hancur.” (QS Al Isra’: 81).

 

Beliau kemudian sholat lalu berkhutbah di hadapan orang-orang Quraisy yang telah memenuhi masjidil Haram. Rasulullah memberi ampunan pada mereka. Setelah fathu Mekah Rasulullah tinggal di Mekah selama 19 hari. Beliau juga mengirim utusan untuk menghancurkan berhala di sekitar Mekah. Beliau memerintahkan Khalid bin Walid untuk menghancurkan Uzza, memerintahkan Amr bin Ash untuk menghancurkan Suwa’ dan memerintahkan Saad bin Zaid Al Asyhaliy untuk menghancurkan Manat.  Fathu Mekah telah membuka lembaran baru sejarah perkembangan Islam. Dengan dibebaskannya Ka’bah dan ditaklukkannya Quraisy maka kabilah-kabilah Arab pun berduyun-duyun menyatakan keislamannya.

 

Perang Hunain dan Pengepungan Tho’if (Syawal 8H)

Setelah fathu Mekah kabilah Hawazin dan Tsaqif berkumpul untuk memerangi kaum muslimin. Rasulullah pun keluar bersama sekitar 12.000 kaum muslimin menghadapi mereka di Hunain. Diawal peperangan pasukan kaum muslimin sempat bercerai berai tetapi kemudian bersatu kembali dan dapat mengalahkan musuh dengan telak (Lihat QS Taubah: 25-26). Kaum muslimin pun mendapat harta rampasan yang sangat banyak, 24 ribu ekor onta, 40 ribu kambing dan lainnya. Sebagian besar musuh lari ke Thoif sehingga Rasulullah pun memerintahkan pasukan kaum muslimin untuk mengepungnya. Setelah melakukan pengepungan beberapa lama akhirnya Rasulullah memutuskan untuk kembali ke Mekah. Di kemudian hari nanti banyak penduduk Tha’if yang akhirnya menyatakan masuk Islam

 

Kembali ke Madinah

Setelah dari pengempungan Tho’if, Rasulullah menunaikan Umrah kembali ke Mekah kemudian balik ke Madinah (akhir Dzulhijjah 8H). Rasulullah kemudian tinggal beberapa waktu di Madinah menerima utusan dari kabilah-kabilah yang berkunjung ke Madinah. Beliau terus berdakwah dan mengajari kaum muslimin tentang Islam. Beliau juga mengutus utusan-utusan untuk mengambil jizyah dari non-muslim, zakat dari kaum muslimin dan lainnya.   Beliau juga mengutus beberapa ekspedisi militer, diantaranya: ekspedisi Uyainah bin Hishan Al Fazariy (Muharram 9H), ekspedisi Qathabah bin Amir (Safar 9H), ekspedisi Dhahak bin Sufyan ke bani Kilab (Rabi’Awal 9H), ekspedisi Alqamah ke sekitar Jedah (Rabi’ Tsani 9H), ekspedisi Ali bin Abithalib ke patung di Tha’i.

 

Perang Tabuk (Rajab 9H)

Ramawi kembali menyiapkan pasukannya untuk menyerang kaum muslimin setelah tahun sebelumnya terjadi perang mu’tah.  Kekuatan pasukan Ramawi dan sekutunya Ghasan sekitar 40.000 ribu pasukan. Rasulullah pun menyiapkan pasukannya padahal saat itu baru masa paceklik dan perjalanan yang akan ditempuh sangat jauh. Kaum muslimin dari berbagai kabilah pun berduyun-duyun datang ke Madinah untuk ikut dalam jihad yang besar tersebut. Kaum muslimin pun berlomba-lomba menginfaqkan hartanya untuk persiapan perang. Dikatakan bahwa Utsman menginfaqkan hampir sekitar 700 onta, Abu Bakar menginfaqkan seluruh hartanya, Umar menginfaqkan separuh hartanya. Rasulullah pun keluar menuju Tabuk bersama sekitar 30.000 pasukan. Setelah Rasulullah dan pasukan kaum muslimin sampai di Tabuk dan berdiam disana ternyata pasukan musuh tidak berani menghadapi dan memilih kembali ke negerinya. Hal ini semakin menguatkan kembali kedudukan kaum muslimin di jazirah Arab. Setelah berdiam di Tabuk hampir sekitar 20 hari kemudian pasukan kaum muslimin balik dan sampai ke Madinah bulan Ramadhan 9H. Allah menurunkan surat al Bara’ah (At Taubah) berkaitan peperangan ini.

 

Haji yang dipimpin Abu Bakar Ash Shidiq (Dzulhijjah 9H)

Setelah pembebasan Mekah manusia kemudian berduyun-duyun masuk Islam. Kabilah-kabilah Arab pun menyatakan keislamannya. Jazirah Arab pun diliputi dengan keselamatan dan keamanan. Pada bulan Dzulqa’dah/Dzulhijjah Rasulullah memerintahkan Abu Bakar untuk memimpin kaum muslimin haji ke baitullah. Rasulullah juga memerintahkan Abu Bakar untuk mengumumkan pada manusia agar tidak ada lagi kaum musyrik yang haji setelah tahun itu dan tidak ada lagi yang thowaf dalam keadaan telanjang.

 

Haji Wada’ (Dzulhijjah 10 H)

Setelah sempurna dakwah, selesai misi risalah yang beliau bawa, dan selesai membangun asas masyarakat yang baru diatas tauhid (mengesakan ibadah hanya kepada Allah) maka muncul pada hati Rasulullah bahwa ajal beliau semakin dekat. Rasulullah pun memerintahkan untuk diumumkan bahwa beliau akan haji tahun itu (tahun 10 H). Kaum muslimin dari seluruh penjuru jazirah Arab pun berbondong-bondong menuju Mekah untuk haji bersama Rasulullah. Total ada sekitar 124 ribu atau 144 ribu kaum muslimin yang ikut wukuf di Arafah bersama beliau. Beliau menyampaikan khutbah dan wasiat-wasiatnya di Arafah. Kemudian setelah itu turunlah ayat: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al Ma’idah: 3). Setelah menyempurnakan manasiknya kemudian Rasulullah balik ke Madinah.

 

Rasulullah Wafat (12 Rabi Awal 11H)

Selesai haji wada’ Rasulullah pun kembali dan berdiam di Madinah. Beliau banyak member wasiat pada para sahabatnya. Beliau juga menyempatkan untuk menziarahi syuhada’ Uhud dan kuburan Baqi’. Rasulullah juga sempat mengutus pasukan dalam jumlah besar dibawah Usamah bin Zaid untuk menghadapi pasukan Romawi (bulan Safar 11H). Kemudian di akhir Safar Rasulullah mulai merasakan sakit. Sakit beliau pun semakin parah dan akhirnya setelah 13 atau 14 hari sakit beliau meninggal di hari Senin tanggal 12 Rabi Awal tahun 11 Hijriyah – inna lillahi wainna ilaihi raji’un -. Beliau meninggal di kamar ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anha. Kaum muslimin pun dilanda kesedihan yang luar biasa. Banyak diantara mereka, termasuk Umar bin Khatab, belum bisa percaya bahwa Rasulullah telah meninggal dunia. Hingga akhirnya Abu Bakar masuk mendatangi jenazah beliau dan kemudian berkhutbah dihadapan manusia: Amma Ba’du, barangsiapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam- sesungguhnya dia telah meninggal. Dan barangsiapa menyembah Allah sesungguhnya dia Maha Hidup dan tidak akan mati. Allah berfirman, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran: 144).

 

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, serta pengikutnya sampai hari kiamat kelak. Amien.

Selesai.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 7/12/1437H.