Perjalanan Hidup Nabi Muhammad (3)

0
75

(Bagian ke-3: Perang Uhud sampai perjanjian Hudaibiyah)

Perang Uhud (Syawal 3H)

Setelah kekalahan yang telak di perang Badar dan kafilah dagang mereka yang dicegat pasukan kaum muslimin maka kaum Quraisy bersiap melakukan peperangan total dengan Madinah. Dengan kekuatan sekitar 3000 pasukan dan di dalamnya disertakan beberapa wanita. Mereka kemudian bergerak menuju Madinah dan berhenti di dekat Uhud. Pimpinan tertinggi di tangan Abu Sufyan Al Harbi dan dibantu oleh Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abi Jahal. Mereka membawa sekitar 3000 ekor onta, 200 ekor kuda, 700 baju besi dan perlengkapan lainnya.

 

Rasulullah menyiapkan pasukan kaum Muslimin di Madinah. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat akhirnya Rasulullah sepakat untuk menghadapi pasukan musuh di luar Madinah. Kekuatan kaum muslimin saat itu sekitar 1000 pasukan, dengan 50 ekor kuda dan 100 baju besi.Pasukan dibagi tiga katibah (batalion): (1)katibah Muhajirin bendera perang dipegang Mush’ab bin Umair, (2) katibah Anshor dari suku Aus bendera dibawa Usaid bin Hudhair, (3) Katiah Anshor dari suku Khazraj bendera dibawa AlHabab bin Mundzir.

 

Menjelang terjadi peperangan tiba-tiba Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang munafiq yang ada di barisan kaum muslimin memutuskan untuk balik ke Madinah. Jumlah mereka sekitar 300 orang. Sisa pasukan kaum muslimin, sekitar 700 orang sahabat, terus menuju ke daerah Uhud untuk menghadapi musuh.  Perang pun mulai berkecamuk dengan diawali lawan tanding. Awal peperangan dengan jelas keunggulan ada di pihak kaum muslimin hingga pasukan kaum musyrikin mundur. Tetapi ketika sebagian pasukan pemanah yang ditugasi berjaga di atas bukit Rumah melanggar perintah Rasulullah (untuk tetap diatas bukit apa pun kondisinya) maka pasukan kaum musyrikin yang dibawah pimpinan Khalid bin Walid berhasil menyerang balik dari belakang. Peperangan pun kembali berlangsung dengan sengit. Banyak diantara para sahabat rasul yang gugur, terutama dari kalangan Ashor.

 

Rasulullah dan pasukannya sempat terdesak ke bukit atau celah-celah di kaki gunung Uhud. Tetapi pasukan kaum Quraisy tidak berhasil menyerang lebih jauh dan kemudian mundur dan akhirnya balik ke Mekah. Setelah kaum musyrikin mundur kemudian Rasulullah dan pasukan kaum muslimin turun dan selanjutnya mengumpulkan serta mengubur para syuhada yang gugur di lembah Uhud. 70 pasukan madinah gugur, termasuk di dalamnya Mush’ab bin Umair dan Hamzah bin Abdilmutholib. Rasulullah sendiri juga mendapat luka yang serius dalam peperangan ini hingga patah gigi gerahamnya. Dari kaum Quraisy tewas sekitar 22 orang, ada yang mengatakan 37 orang.

 

Perang Hamra’ Al Asad (3H)

Setelah perang Uhud Rasulullah dan pasukan kaum muslimin balik ke Madinah (awal Syawal 3H). Tetapi karena khawatir pasukan Mekah balik menyerang kembali maka Rasulullah dan para sahabat pun keluar dari Madinah menghadang kaum musyrikin sampai daerah Hamra’ Al Asad, sekitar 8 mil dari Madinah, dan mendirikan laskar militer disana. Ternyata benar awalnya kaum musyrikin ingin balik menyerang Madinah kembali tetapi akhirnya mengurungkan niatnya dan terus ke Mekah. Pasukan kaum muslimin pun balik ke Madinah. Peristiwa perang Uhud ini mengandung pelajaran yang berharga bagi kaum Muslimin Diataranya pelajaran yang paling utama adalah pentingnya mentaati perintah Allah dan Rasulnya dalam seluruh kondisi. Allah menurunkan ayat-ayat Al Qur’an berkaitan perang Uhud ini, diantaranya 60 ayat dari surat Ali Imran (mulai ayat 121).

 

Peperangan antara Uhud dan Ahzab (4-5H)

Setelah perang Uhud terjadi beberapa ekspedisi militer dan peperangan yang dilakukan kaum muslimin. Diantaranya:

 

–  Ekspedisi Abu Salamah (Muharram 4 H)

Setelah terjadi perang Uhud maka yang pertama kali mempersiapkan diri menyerang kaum muslimin adalah Banu Asad Al Khuzaimah. Rasulullah mengutus Abu Salamah beserta sekitar 150 pasukan muhajirin dan anshor. Musuh pun lari sebelum berperang sehingga kaum muslimin mendapat harta rampasan yang mereka tinggalkan.

 

Peristiwa utusan Raji’ dan Bi’r Ma’unah (Safar 4 H)

Dua peristiwa memilukan ini hampir mirip dan terjadi di bulan yang sama. Dimana ada kabilah yang pura-pura masuk Islam dan meminta kepada Rasulullah untuk dikirimi utusan untuk mengajari mereka tentang Islam. Rasulullah pun mengirimkan para sahabatnya untuk menjadi da’I yang mengajari mereka Islam. Tetapi ternyata mereka dikhianati dan dibunuh. Pada peristiwa Raji’ ada sekitar 6 sahabat yang dibunuh, sedang para bi’ir maunah ada sekitar 40-70 sahabat. Rasulullah sangat bersedih dengan peristiwa ini dan melakukan qunut hampir selama satu bulan.

 

  • Perang bani Nadhir (Rabi’ Awal 4H/Agustus 635M)

Yahudi bani Nadhir yang sebenarnya memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin ternyata merencanakan makar yang sangat keji. Mereka berencana membunuh Nabi Muhammad saat beliau bersama beberapa sahabatnya berkunjung ke bani Nadhir karena suatu urusan. Jibril memberitahukan tentang makar mereka sehingga Nabi Muhammad pun segera balik dari kampung bani Nadhir dan mengumpulkan para sahabat untuk mengepung mereka. Setelah dikepung beberapa hari akhirnya bani Nadhir pun menyerah dan kemudian diusir dari kampung mereka menuju Khaibar. Allah menurunkan surat Al Hasyr berkaitan peristiwa ini.

 

  • Perang Najd (Rabi’ Tsani 4H)

Pada perang ini Rasulullah ingin membuat perhitungan dengan para baduwi dan kabilah-kabilah yang melakukan makar dan berusaha menyusun kekuatan menyerang Madinah. Mereka akhirnya melarikan diri saat mendengar kedatangan Rasulullah dan pasukan kaum muslimin.

 

  • Perang Badar kedua (Sya’ban 4H/Januari 626M)

Diakhir perang Uhud, kaum kafir Quraisy dan kaum muslimin saling menantang/berjanji untuk berperang kembali di daerah Badar tahun depannya. Rasulullah dan pasukan kaum muslimin pun datang ke Badar sesuai dengan perjanjian. Adapun kaum Quraisy awalnya sempat berangkat meninggalkan kota Mekah untuk menuju Badar, tetapi kemudian ketakutan menyelimuti mereka sehingga balik lagi ke Mekah.

 

  • Perang Daumatul Jandal (Rabi’ Awal 5H)

Setelah perang Badar kedua kondisi agak kondusif dan aman. Kaum muslimin berdiam di Madinah sekitar 6 bulan tanpa ada peperangan. Sampai kemudian terdengar kabar ada sekawanan pasukan di daerah Daumatul Jandal (dekat Syam) melakukan kekacauan dan bersiap menyerang Madinah. Rasululah pun menyerang mereka bersama sekitar 1000 pasukan. Musuh pun dengan mudah dapat di kalahkan dan sebagian mereka melarikan diri.

 

Perang Ahzab/Perang Khandaq (Syawal-Duzqa’dah 5H)

Kondisi jazirah Arab relatif stabil hampir selama setahun penuh. Sampai kemudian orang-orang Yahudi (bani Nadhir) merencanakan sebuah makar untuk menghimpun kekuatan melawan kaum muslimin di Madinah. Mereka menghasut kaum kafir Quraisy, kabilah Qathafan dan yang lainnya untuk bersama-sama menyerang kaum muslimin. Mereka pun bersepakat mengepung Madinah, dengan total kekuatan sekitar 10.000 pasukan. Mengetahui hal ini maka Rasulullah pun berdikusi dengan para sahabat untuk mempersiapakan pertahanan di kota Madinah. Akhirnya mereka setuju dengan usul sahabat Salman Al Farisi untuk membuat parit (khandaq) disekitar kota Madinah. Hampir sebulan penuh pasukan musuh mengepung Madinah, tetapi mereka tidak bisa menerobos masuk karena terhalangi parit dan pengamanan yang dilakukan kaum muslimin. Allah pun mengirimkan angin yang memporak-porandakan kemah serta perlengkapan pasukan musuh. Pasukan musuh pun kembali ke negeri masing-masing dan gagal total menaklukkan Madinah.

 

Perang bani Quraidzah  (5H)

Pada kondisi perang Ahzab yang begitu sulit bagi kaum muslimin di Madinah ternyata yahudi bani Quraidzah melakukan pengkhianatan dari belakang. Mereka membuat kesepakatan bersekongkol dengan pasukan musuh. Setelah pasukan ahzab bercerai-berai maka Rasulullah dan kaum muslimin pun mengepung benteng bani Quraidzah. Mereka kemudian menyerah dan meminta Sa’ad bin Muadz yang memutuskan hukuman bagi mereka, hal ini disetujui Rasulullah. Sa’ad bin Muadz memutuskan bahwa laki-laki mereka dibunuh sedang wanita dan anak-anak mereka ditawan.

 

Antara perang Ahzab dan Perjanjian Hudaibiyah (6H)

Terjadi beberapa peristiwa atau ekspedisi militer penting setelah perang Ahzab. Diantaranya:

  • Ekspedisi Muhammad bin Maslamah ke bani Bakr (Muharram 6H)
  • Perang bani Lahyan (Rabi’ Awal/Jumadil Awal 6H). Mereka yang membunuh para sahabat yang diutus sebagai da’i dalam peristiwa Raji. Mereka kabur saat Rasulullah dan pasukan kaum muslimin menyerang kampung mereka.
  • Ekspedisi Ukasyah bin Mihran ke Ghamr (Rabi’ Awal/Jumadil Awal 6H)
  • Ekspedisi Mumammad bin Maslamah ke Dzu Qushah (Rabi’ Awal/Akhir 6H)
  • Ekspedisi Abu Ubaidah bin Jarrah ke Dzu Qushah. Untuk membantu ekspedisi sebelumnya.
  • Ekspedisi Zaid bin Haritsah ke Jumum (Rabi’ Akhir 6H), ke ‘Aish (Jumadil Awal 6H), ke Tharf/Tharq (Jumadil Akhir 6H), dan ke Wadi Qura (Rajab 6H).
  • Ekspedisi ke Khabath. Dipimpin Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menghalau kafilah dagang Quraisy. Pada ekspedisi ini pasukan kaum muslimin kelaparan dan kemudian menemukan ikan paus dan mengkonsumsinya hampir setengah bulan.

 

Perang bani Musthaliq atau Perang Muraisi’ (Sya’ban 6H)

Rasulullah keluar bersama kaum muslimin memerangi bani Musthaliq pada bulan Sya’ban 6H. Musuh dengan mudah dapat dikalahkan. Pada peperangan ini tertawan Juwairiyah binti Harits radhiyallahu anha, yang kemudian menjadi istri Rasulullah. Pada perang ini juga orang-orang munafiq, yang ikut dalam barisan pasukan kaum muslimin banyak membuat fitnah dan kerisauan. Diantaranya fitnah terhadap ummahatul mukminin Aisyah radhiyallahu anha.

 

Setelah perang bani Musthaliq ini kemudian terjadi beberapa ekspedisi militer, diantaranya:

  • Ekpedisi Abdurrahman bin Auf ke bani Kalb di Daumatul Jandal (Sya’ban 6H)
  • Ekspedisi Ali bin Abi Thalib ke bani Saad bin Bakr di Fadak (Sya’ban 6H)
  • Ekspedisi Abu Bakar (atau Zaid bin Haritsah) ke Wadi Qura (Ramadhan 6H)
  • Ekspedisi Kurz Al Fihriy ke Urnayain (Syawal 6H)

 

Perjanjian Hudaibiyah (Dzulqa’dah 6H)

Setelah melihat kondisi yang mulai kondusif maka Rasulullah melihat sudah saatnya kaum muslimin untuk dapat melakukan umrah kembali setelah hampir 6 tahun meninggalkan Mekah. Terlebih lagi Rasulullah juga melihat dalam mimpi melakukan manasik ke masjidil haram dan kemudian mencukur rambut. Maka pada bulan Dzulqa’dah 6H Rasulullah dan kaum muslimin pun bersiap-siap melakukan perjalanan ke Mekah untuk umrah, bukan untuk berperang. Pada awalnya kaum Quraisy berupaya sekuat tenaga untuk menghalangi mereka hingga hampir terjadi perang. Namun setelah dilakukan negosiasi akhirnya dicapai kesepakatan untuk mencari jalan tengah dan menghindari terjadinya pertumpahan darah. Sempat ada isu bahwa Utsman bin Affan yang dikirim oleh pihak kaum muslimin masuk ke kota Mekah terbunuh. Terjadilah peristiwa Bai’atur Ridwan sebagaimana diabadikan dalam surat Al Fath ayat ke-18. Setelah diskusi beberapa kali akhirnya tercapailah butir-butir penjanjian, diantaranya sepakat untuk gencatan senjata selama 10 tahun. Sesuai dengan salah satu butir perjanjian Rasulullah dan kaum muslimin tidak jadi umrah pada tahun tersebut lalu balik ke Madinah.

 

Perkembangan baru setelah perjanjian Hudaibiyah

Dalam butir-butir perjanjian ini seolah-olah kaum muslimin dalam posisi yang lemah/kalah tetapi sesungguhnya di dalamnya ada kemenangan yang nyata. Perjanjian Hudaibiyah ini juga disebut dengan fathan mubiina atau kemenangan yang nyata (lihat surat Al Fath). Banyak kabilah yang menyatakan masuk Islam atau menjalin aliansi dengan Madinah setelah perjanjian ini. Beberapa pemuka Quraisy pun masuk Islam diantaranya Khalid bin Walid dan Amr bin Ash. Melihat kondisi yang kondusif maka dari sisi dakwah Rasulullah menulis surat kepada para pemimpin dan para raja untuk masuk Islam. Diantaranya:

  • Surat ke Najasyi raja Habasyah dibawah oleh Amr bin Umayah Dhamary. Najasyi pun masuk Islam.
  • Surat ke Muqauqis raja Mesir dibawa Hatib bin Balta’ah. Muqauqis belum bersedia masuk Islam tetapi membalas surat dengan baik.
  • Surat ke Kisra raja Persia dibawah Abdullah bin Hudzafah As Suhamiy. Kisra tidak sekedar menolak bahkan dia marah dan merobek surat tersebut. Tidak selang beberapa lama dia kemudian dikudeta dan dibunuh oleh anaknya sendiri.
  • Surat ke Kaisar raja Rumawi dibawa Duhaiyah bin Khalifah Al Kalbiy
  • Surat ke Mundzir bin Sawiy pemimpin Bahrain dibawa oleh Ala’ bin Hadramiy
  • Surat ke Haudzah di Yamama
  • Surat ke Harits bin Abi Syamr di Damaskus
  • Surat ke raja Oman

Dari sisi militer pada fase ini kaum muslimin melakukan perang Ghabah atau Dzu Qard.  Kemudian setelah itu terjadi perang Khaibar.

(Bersambung insyaallah)