Perjalanan Hidup Nabi Muhammad (2)

0
89

(Bagian ke 2: Awal hijrah sampai setelah perang Badar)

Hijrah ke Madinah (1 H/622M)

Setelah baiat Aqabah yang kedua maka kaum muslimin Mekah berbondong-bondong hijrah ke Madinah. Tidak lebih dari dua bulan dan beberapa hari setelah itu hampir seluruh sahabat sudah hijrah ke Madinah. Tinggal tersisa Rasulullah, Abu Bakar, Ali dan beberapa sahabat yang lainnya di Mekah. “Parlemen Quraisy” (Darul Nadwa) membuat kesepakatan untuk membunuh Nabi Muhammad. Mereka mengumpulkan pemuda dari masing-masing kabilah Quraisy untuk mengepung dan membunuh Nabi Muhammad di malam hari. Tetapi Allah Maha Mampu membalas makar mereka. Ali bin Abi Thalib menggantikan Nabi Muhammad tidur diatas ranjangnya. Allah menutupi pandangan mereka saat Nabi Muhammad keluar rumah. Nabi Muhammad kemudian ditemani Abu Bakar keluar dari Mekah. Mereka tinggal di sebuah gua di gunung Tsur selama kurang lebih 3 hari. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke arah tepi laut Merah kemudian ke utara menuju Madinah. Kaum Quraisy mengadakan sayembara dengan hadiah yang begitu besar (100 ekor onta) bagi siapa saja yang bisa menangkap Nabi Muhammad dan Abu Bakar baik hidup maupun mati. Suraqah bin Malik sempat mampu mengejar keduanya tetapi kemudian jatuh beberapa kali dan akhirnya masuk Islam. Nabi Muhammad dan Abu Bakar pun sampai di Madinah dengan selamat.

 

Marhalah dakwah di Madinah (1-11H)

Sebelum masuk kota Madinah beliau singgah dulu di daerah Quba’ beberapa hari dan mendirikan masjid disana (Masjid Quba’). Kemudian beliau masuk kota Madinah disambut kaum muslimin (Muhajirin dan Anshor) dengan penuh kebahagiaan. Hal pertama kali beliau lakukan adalah mendirikan masjid (Masjid Nabawi) kemudian mempersaudarakan sahabat Muhajirin dan Anshor. Beliau kemudian juga membuat pernjanjian dengan penduduk Madinah dan sekitarnya baik dari kalangan kaum muslimin, ahli kitab (yahudi) maupun yang lainnya. Secara umum marhalan (fase) dakwah di Madinah dapat diperinci menjadi tiga tahap:

  • Masa-masa awal hijrah(tahun 1-6H)
  • Antara perjanjian Hudaibiyah dan Fathu Mekah (6-8)
  • Setelah Fathu Mekah )8-11H)

 

Turun Izin berperang dan peperangan sebelum Badar (1-2 H)

Sebagaimana diketahui, sebelumnya saat Rasulullah dan para sahabat masih tinggal di Mekah mereka mendapatkan tekanan yang luar biasa dari kaum musyrikin Quraisy. Kaum musyrikin tidak sekedar menolak ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad tetapi mereka juga menghalangi, mengganggu orang-orang yang beriman dan bahkan menyiksa mereka. Akhirnya Rasulullah dan para sahabat terpaksa hijrah ke Madinah meninggalkan rumah dan harta yang mereka miliki. Setelah hijrah permusuhan dan gangguan orang-orang musyrik tidak pula berhenti. Allah pun mengizinkan kaum muslimin untuk berperang. Allah berfirma, “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS Al Hajj 39). Kaum Muslimin mulai menyusun kekuatan militer dan melakukan ekspedisi militer menghalau kafilah dagang kaum Quraisy ke Syam.

 

Diantara ghazwah/peperangan (dipimpin Nabi Muhammad secara langsung) dan sariyah (ekspedisi militer yang tidak dipimpin oleh Nabi Muhammad secara langsung) yang terjadi sebelum perang badar adalah:

 

Ekspedisi Saiful Bahr (Ramadhan 1 H/Maret 623M).

Rasulullah memerintahkan Hamzah bin Abdilmutholib memimpin sekitar 30 sahabat Muhajirin untuk menghalau kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Jahal bin Hisyam bersama sekitar 300 laki-laki Quraisy.  Ini adalah ekspedisi militer pertama dalam Islam. Kedua pasukan sempat berhadap-hadapan tetapi kemudian tidak jadi berperang karena ditengahi oleh Majdi bin Amr Al Juhaniy, dia adalah sekutu dari kedua belah pihak.

 

Ekspedisi Rabigh (Syawal 1H/April 623M)

Pasukan berkendaraan yang terdiri 60 sahabat Muhajirin yang dipimpin oleh Ubaidah bin Harits bin Abdilmutholib menghalau kafilah dagang Quraisy di daerah Rabigh yang dipimpin Abu Sufyan.

 

Ekspedisi Kharar (Dzulqa’dah 1H/Mei 623H)

Pasukan berkendaraan yang terdiri 20 sahabat yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash menghalau kafilah dagang Quraisy.

 

Perang Abwa’ (Safar 2H/Agustus 623H)

Rasulullah sendiri yang memimping sekitar 70 sahabat Muhajirin untuk menghalau kafilah dagang Quraisy. Rasulullah juga menjalin perjanjian damai dengan bani Dhamrah.

 

Perang Buwath (Rabi’ Awwal 2H/September 623M)

Rasulullah memimpin sekitar 200 orang sahabat untuk menghalau kafilah dagang Quraisy yang disana ada Umayah bin Khalaf bersama sekitar 100 orang laki-laki Quraisy. Tetapi kafilah Quraisy ternyata telah lewat.

 

Perang Safwan (Rabi’ Awwal 2H/September 623M)

Segelintir pasukan kafir Quraisy yang dipimpin Kurz bin Jabir Al Fihri merampok ternak penduduk Madinah. Rasulullah pun mengejarnya bersama sekitar 70 orang sahabat sampai sekitar daerah Badar. Tetapi kaum musyrikin berhasil kabur. Perang ini kadang disebut perang Badar pertama.

 

Perang Dzul Asyirah (Jumadil Awal-Jumadil Akhir 2H/Nov-Desember 623M)

Rasulullah bersama dengan sekitar 150 orang sahabat berusaha menghalau kafilah Quraisy yang berangkat ke Syam. Kafilah ternyata sudah lewat beberapa hari sebelumnya.

 

Ekspedisi Nakhlah (Rajab 2H/Januari 624M)

Rasulullah memerintahkan Abdullah bin Jahsy bersama 12 sahabat untuk mencari berita tentang kafilah Quraisy di daerah Nakhlah, antara Mekah dan Tho’if.  Kafilah Quraisy lewat di akhir bulan Rajab (salah satu bulan yang diharamkan), kalau dibiarkan sampai selesai Rajab maka mereka akan telah masuk Mekah (daerah yang diharamkan berperang juga). Akhirnya Abdullah in Jahsy dan para sahabatnya menyerang mereka dan berhasil membunuh salah seorang diatara pasukan Quraisy, menawan 2 orang dan mengambil daganan mereka untuk dibawa ke Madinah. Rasulullah mengingkari hal ini karena beliau tidak memerintahkan berperang di bulan haram, beliau hanya memerintahkan untuk mencari berita. Allah pun menurunkan ayat: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah” (QS Al Baqarah: 217). Rasulullah kemudian membebaskan tawanan dan mengembalikan dagangan Quraisy serta membayar diyat orang yang terbunuh kepada keluarganya.

 

Perang Badar (Ramadhan 2 H/624M)

Perang Badar adalah perang pertama antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Rasulullah keluar Madinah bersama sekitar tiga ratus dan belasan orang sahabat (313, 314, atau 317 orang). Mereka hanya membawa 2 ekor kuda dan sekitar 70-an onta. Rasulullah membagi pasukannya menjadi dua katibah (battalion): katibah Muhajirin dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib dan katibah Anshor dipimpin Saad bin Muadz. Adapun liwa’ (bendera perang) dibawa oleh Mush’ab bin Umair.  Adapun pasukan kaum musyrikin Mekah maka jumlah mereka sekitar 1000 pasukan. Mereka membawa 100 ekor kuda, 600 baju perang dan onta yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Pasukan kaum musyrikin dipimpin oleh Abu Jahal dan pemuka-pemuka Quraisy yang lainnya. Tidak tersisa pemuka Quraisy di Mekah kecuali Abu Lahab dan juga Abu Sufyan yang masih dalam perjalanan dari Syam.

 

Kedua pasukan bertemu di lembah Badar (daerah antara Mekah dan Madinah). Kaum kafir Quraisy mengalami kekalahan yang telak, 70 orang diantara mereka terbunuh dan 70 orang ditawan. Termasuk yang terbunuh adalah Abu Jahal dan pemuka-pemuka Quraisy lainnya.  Adapun dari pihak kaum muslimin, 14 orang sahabat mati syahid (6 dari muhajirin dan 8 dari anshor) -semoga Allah meridhai mereka-. Peperangan ini menjadi tonggak sejarah baru dalam perkembangan Islam.  Berkaitan perang ini Allah menurunkan surat Anfal yang mana di dalamnya terkandung hukum dan adab yang terkait dengan peperangan.

 

Peperangan antara Badar dan Uhud (2-3H/624-625M)

–  Perang bani Sulaim di Kadr (Syawal 2 H/624M)

Perang ini terjadi beberapa hari setelah perang Badar. Sebabnya adalah bani Sulaim dari suku Qathafan mempersiapkan pasukan untuk menyerang Madinah. Rasulullah pun duluan menyerbu mereka bersama dengan 200-an sahabat. Bani Sulaim pun kabur dan meninggalkan harta rampasan perang sekitar 500 ekor onta.

 

Perang bani Qainuqa’ (Syawal 2H/624H)

Bani Qainuqa’ adalah salah satu suku Yahudi yang ada di Madinah. Mereka tinggal di dalam kota Madinah. Mereka melanggar perjanjian yang dibuat dengan kaum muslimin Madinah dan terus berusaha menimbulkan api fitnah. Rasulullah dan kaum muslimin tetap berusaha sabar. Sampai suatu hari ada seorang wanita muslimah yang belanja di pasar bani Qainuqa’. Dia dikerjain salah seorang laki-laki yahudi dengan mengikat ujung kerudungnya dan saat berdiri maka tersingkaplah auratnya. Orang-orang yahudi pun menertawakan wanita muslimah tersebut. Seorang laki-laki dari kaum muslimin yang mengetahui hal ini merasa tidak terima kehormatan wanita muslimah tersebut dipermainkan. Dia pun membunuh orang yahudi tadi dan akhirnya dia balik dikeroyok orang-orang yahudi dan dibunuh juga. Rasulullah dan para sahabat pun akhirnya mengepung mereka di benteng mereka sekitar 15 hari sampai akhirnya mereka menyerah dan diusir dari Madinah.

 

Perang Sawiq (Dzulhijjah 2H/624M)

Sekitar bulan Dzulhijjah Abu Sufyan bersama sekitar 200 orang pasukan berkendaraan dari Quraisyh menuju Madinah untuk melakukan penyerangan. Tetapi mereka tidak berani melakukan penyerangan secara terbuka. Mereka datang di malam hari di pinggiran Madinah dan mendatangi sekutu-sekutu mereka. Kemudian mereka membakar pagar kebun kurma dan membunuh seorang anshor dan temannya di kebun tersebut kemudian lari balik ke Mekah. Rasulullah pun mengumpulkan pasukan dan melakukan pengejaran. Pasukan Abu Sufyan dengan cepat menyelamatkan diri ke Mekah, tetapi mereka meninggalkan sawiq (roti) berbekalan mereka yang sangat banyak. Akhirnya kejadian ini disebut dengan perang sawiq.

 

Perang Dzu Amr (Muharram-Safar 3H/624M)

Sebab perang ini adalah bani Tsa’labah bersiap-siap ingin menyerang Madinah. Maka Rasulullah bersama sekitar 450 pasukan pun keluar menuju tempat mereka. Mengetahui kedatangan pasukan kaum muslimin maka musuh pun ketakutan dan melarikan diri. Rasulullah tinggal sekitar satu bulan penuh (bulan Safar 3H) di daerah mereka untuk menimbulkan takut di hati musuh-musuh mereka.

 

Perang Bahrani (Rabi’ Akhir 3H)

Rasulullah keluar bersama 300 pasukan ke daerah Bahrani. Rasulullah berdiam disitu sekitar sebulan tetapi tidak bertemu dengan musuh kemudian kembali ke Madinah.

 

Ekspedisi Zaid bin Haritsah (Jumadil Akhir 3H)

Ini adalah ekspedisi/perang terakhir sebelum perang Uhud. Rasulullah mengutus pasukan di bawah Zaid bin Haritsah untuk mencegah kafilah dagang kaum Quraisy yang menuju Syam. Mereka pun berhasil mencegah kafilah dagang tersebut, Shofwan bin Umayah dan pasukan Quraisy yang dia pimpin untuk menjaga kafilah dagang tersebut pun akhirnya melarikan diri. Hal ini menimbulkan kerugian yang besar bagi kaum Quraisy.

(Bersambung Insyaallah)