Peristiwa-Peristiwa di Hari Kiamat Kubra

0
6148

 

Kiamat kubra adalah saat dibangkitkannya seluruh manusia dari kubur mereka untuk menghadap Tuhan semesta alam. Mengimani peristiwa-peristiwa yang terjadi di hari kiamat adalah bagian dari keimanan pada hari akhir. Berikut ini adalah peristiwa-peristiwa di hari kiamat yang mana telah disebutkan dalam dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah.

 

Pertama, dikembalikan ruh kepada jasad-jasad mereka.

Allah berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (QS Ar Ruum: 27)

 

Allah Maha Mampu untuk mengembalikan ruh pada jasad-jasadnya yang semula meskipun tulang-belulangnya telah hancur dan jasadnya telah bercampur dengan tanah. Hal ini sangat mudah bagi Allah dan lebih mudah dari penciptaan yang pertama yaitu dari yang semula tidak ada menjadi ada.

 

Kedua, manusia dibangkitkan menuju Tuhan semesta alam.

Allah berfirman,

 

أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ . لِيَوْمٍ عَظِيمٍ . يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS Al Muthaffifin: 4-6)

 

Manusia dibangkitkan dalam keadaan tidak berkhitan, telanjang (tanpa baju) dan tanpa alas kaki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا» قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: «الأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ»

 

(Manusia) dibangkitkan dalam keadaan tidak berkhitan, telanjang dan tanpa alas kaki. ‘Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, kalau begitu laki-laki dan perempuan saling melihat satu dengan yang lain? Rasulullah bersabda: Urusan (pada hari itu) lebih dasyat dari mementingkan hal tersebut. ” (HR Bukhari 6527 dan Muslim 2859)

 

Ketiga, matahari didekatkan satu mil

Keempat, manusia tenggelam dalam peluh keringatnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ، حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا

 

Matahari didekatkan pada hari kiamat dari makhluq hingga satu mil. Maka manusia pun (tenggelam) dalam keringat sesuai kadar amalnya. Sebagian dari mereka mencapai mata kali, sebagian mencapai lutut, sebagian mencapai pinggang dan sebagian benar-benar tenggelam (dalam peluh keringat).”  (HR Muslim 2864)

 

Baik yang dimaksud satu mil itu satu mil jarak perjalanan atau satu mil alat celak maka keduanya sangat dekat. Saat ini kita rasakan terik matahari yang begitu menyengat padahal jaraknya sangat jauh dari kita. Bagaimana panasnya kalau matahari di dekatkan satu mil??

 

Kelima, ditegakkan timbangan untuk menimbang amalan hamba.

Allah berfirman,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئاً وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

 

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS Al Anbiya’: 47)

 

Keenam, dibagikan catatan amal.

Allah berfirman,

وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَآئِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَاباً يَلْقَاهُ مَنشُوراً

 

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.” (QS Al Isra’: 13)

 

Ketujuh, penghisapan amal.

Seluruh makhluq baik jin atau manusia akan dihisab untuk mempertanggung jawabkan amal mereka. Bahkan hewan-hewan pun diqishash (diadili diantara mereka), tetapi tidak dihisab sebagaimana penghisapan amal karena tidak ada pahala atau hukuman bagi mereka.  Adapun orang kafir maka tidak dihisap sebagaimana disihabnya amal kebaikan dan keburukan karena tidak ada kebaikan bagi mereka (di akhirat), tetapi dihitung amalan mereka sehingga mereka mengakuinya dan menjadi bersedih. Allah berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ. فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَاباً يَسِيراً. وَيَنقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوراً. وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاء ظَهْرِهِ. فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوراً

 

Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. ‎Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang,‎ maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.” (QS Al Insyiqaaq: 7-11)

 

 

Kedelapan,haudh (telaga) Rasulullah.

Rasulullah bersabda,

حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ المِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا

 

Telagaku (panjangnya) sejauh perjalanan sebulan, airnya lebih putih dari susu, baunya lebih harum dari kesturi, gayungnya seperti bintang di langit, barangsiapa meminumnya maka tidak akan haus selamanya.” (HR Bukhari 6579 dan Muslim 2292)

 

Kesembilan, sirath diatas jahannam, dia adalah jembatan antara surga dan neraka.

Manusia melewatinya sesuai kadar keimanannya. Ada yang melaluinya secepat pandangan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat kuda, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang merangkak dan ada juga yang terkena kait-kait sehingga terlempar ke jahannam. (Lihat HR Muslim 183)

 

Kesepuluh,yang pertama kali dibukakan pintu surge adalah nabi Muhammad dan umat yang pertama kali memasukinya adalah umat beliau. (Lihat HR Muslim 197)

 

Kesebelas, syafaat. Rasulullah memiliki tiga syafaat:

  1. Syafaat udzma (yang agung), yaitu syafaat di padang masyar. Ini khusus beliau.
  2. Syafaat untuk dibukakan pintu surga. Syafaat ini juga khusus beliau.
  3. Syafaat bagi orang yang sebenarnya berhak masuk neraka agar tidak memasukinya dan syafaat bagi orang yang telah memasukinnya agar dikeluarkan. Syafaat ini untuk beliau dan juga untuk para nabi, orang-orang shalih dan lainnya.

 

Perlu dicatat bahwa syafaat yang shahih memiliki syarat yaitu: (1) ridha Allah bagi pemberi syafaat, (2) ridha Allah bagi penerima syafaat,  dan (3) setelah izin dari Allah. Allah berfirman,

يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلاً

 

Pada hari itu tidak berguna syafa’at , kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (QS Thaha: 109)

 

 

Keduabelas, Di surga ada berbagai balasan kebaikan bagi orang-orang yang beriman dan sedang di neraka ada berbagai siksaan bagi orang orang yang kafir dan berbuat kejelekkan. Surga dan neraka kekal telah ada sejak sekarang dan keduanya kekal abadi.  Allah befirman tentang surga,

 

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُواْ فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ عَطَاء غَيْرَ مَجْذُوذٍ

 

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS Hud: 108)

 

Allah berfirman tentang neraka,

 

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيراً. خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً لَّا يَجِدُونَ وَلِيّاً وَلَا نَصِيراً

 

‎”Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang ‎menyala-nyala (neraka),‎ mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong.” (QS Al Ahzab: 64-65)

 

 

Semoga Allah menguatkan keimanan kita terhadap hari akhir dan menjadikan kita orang yang bersiap untuknya dengan sebaik-baiknya. Amien.

 

Disarikan dari syarah kitab aqidah wasithiyah karya syaikh Muhammad bin Saleh Al Utsaimin rahimahullah.

 

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 10/8/1437H.

| Web:Ukhuwahislamiah.com | FB:Ukhuwah Islamiah | Twitter:@ukhuwah_islamia |