Penjelasan Hadits Tentang Tawakal

0
652

Lajnah Da’imah ditanya:

Saya menginginkan penjelasan yang cukup untuk hadits ini sehingga kami dapat memahaminya dengan pemahaman yang benar,

 

؟  لو تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصًا وتروح بطانًا

 

Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal maka Allah akan member rizqi kalian sebagaimana Allah memberi rizqi burung, pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” ?

 

Jawab:

Hadits tersebut diriwayatkan dari Umar radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  beliau bersabda ““Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal maka Allah akan member rizqi kalian sebagaimana Allah memberi rizqi burung, pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim, dan Tirmidzi mengatakan hasan shahih.

 

Hakikat dari tawakal adalah jujurnya penyandaran hati pada Allah azza wa jalla di dalam mengambil manfaat dan menolak bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Adapun makna hadits tersebut adalah bahwa manusia kalau sungguh-sungguh tawakalnya kepada Allah dengan hati mereka dan bersandar kepadaNya dengan penyandaran yang penuh dalam mengambil manfaat dan menolak bahaya serta mengusahakan sebab-sebab yang bermanfaat maka akan datang rizqi mereka pada mereka (meskipun) dengan usaha yang sederhana/sepele. Seperti datangnya rizqi kepada burung dengan sekedar pulang dan pergi (dari sarangnya), yang mana ini adalah salah satu jenis usaha meskipun sederhana.

 

Kesungguhan dalam tawakal tidak bertolak belakang dengan mengambil sebab yang mana Allah menakdirkan segala sesuatu dengannya dan dengannya pula berjalan sunnahNya pada makhluqNya (yakni sebab-akibat). Sesungguhnya Allah ta’ala memerintahkan untuk mengambil sebab bersamaan dengan perintahNya untuk bertawakal. Maka mengusahkan sebab dengan anggota badan adalah suatu bentuk ketaatan, sedang tawakal dengan hati adalah bentuk keimanan padaNya. Allah berfirman,

وَاتَّقُواْ اللّهَ وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

 

Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mu’min itu harus bertawakkal. (Al Maidah: 11)

 

Allah menjadikan tawakal dengan taqwa yang mana ia adalah mengerjakan sebab-sebab yang diperintahkan dengannya. Tawakal tanpa mengerjakan sebab-sebab yang diperintahkan adalah murni kelemahan (kemalasan) semata, meskipun hal ini mirip dengan bentuk tawakal. Tidak seyogyanya seorang hamba menjadikan tawakalnya sebagai kelemahan (kemalasan), tidak juga kelemahannya sebagai tawakal (فلا ينبغي للعبد أن يجعل توكله عجزًا ولا عجزه توكلاً). Tetapi hendaknya ia mengusahan sebab yang mana tidak akan sempurna hal yang dimaksud dengannya.

 

Hanya milik Allahllah taufiq, sholawat dan salam atas nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

 

Al Lajnah Ad Da’imah lil buhuts ilmiyah wal Ifta’

Ketua: Abdullaziz bin Abdullah bin Baz

Wakil: Abdurrozaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudhayan

 

Sumber: Fatwa lajnah da’imah, kumpulan pertama, juz pertama, halaman 379. Link: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&PageID=44&PageNo=1&BookID=23&languagename=

 

Diterjemahkan oleh Abu Zakariya Sutrisno di Riyadh, 06 Rabi’uts Tsani 1435H.

www.ukhuwahislamiah.com

SHARE
Previous article20 Cara Mengagungkan Ilmu
Next articleJangan lalai dari 4 Waktu ini
Beliau saat ini adalah kandidat Doktor sekaligus peneliti di King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga belajar kepada beberapa ulama’ diantaranya Syaikh Dr. Saleh Fauzan dan Dr Sa’ad Syistry. Selain itu beliau juga merintis Pesantren Masyarakat Hubbul Khoir di Sukoharjo (Solo) Jawa Tengah.