Mush’ab bin Umair

0
46

Dia adalah duta pertama kali yang diutus dalam Islam. Rasulullah mengutusnya untuk mengajari penduduk Madinah. Dia termasuk orang-orang yang pertama kali masuk Islam dan dia masuk Islam pada usia begitu muda.  Iya, dialah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu. Seorang pemuda yang berhasil menyebarkan Islam dan menyiapkan cikal bakal masyarakat yang Islami di Madinah sebelum hijrahnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dia adalah pemuda yang dengan gagah berani membawa bendera pasukan kaum muslimin saat perang Badar dan perang Uhud.

Masa Muda dan Awal Masuk Islam

Mush’ab dilahirkan dari keluarga yang kaya raya dan terpandang dari suku Quraish. Bapaknya bernama Umair bin Hasyim bin Abdilmanaf bin Abdiddar bin Qussay. Dia tumbuh menjadi seorang pemuda yang rupawan dan hidup penuh dengan kenikmatan. Ibunya sangat memanjakannya. Bajunya bagus dan terbuat dari kain yang halus. Badannya selalu wangi dan bahkan bau parfumnya dapat dicium dan dikenali dari kejauhan. Banyak dari wanita-wanita Mekah yang mendambakan dia menjadi suami bagi putri-putri mereka.

Saat dia mendengar ajaran yang Rasulullah bawa maka rasa penasaran pun menghampirinya. Suatu ketika dia mendatangi darul Arqam, tempat dimana Rasulullah secara rutin mengajarkan Islam pada para sahabat saat masa-masa awal di Mekah. Awalnya dia hanya sekedar ingin mengetahui tetapi akhirnya iman pun memasuki relung hatinya. Dia pun bersyahadat masuk Islam tetapi tetap berusaha menutupi keislamannya dari keluarganya terutama dari Ibunya. Manisnya keimanan pada Allah dan RasulNya lebih dia cintai dari berbagai kenikmatan dan kemewahan yang dia rasakan sebelumnya.    Akhirnya keluarganya pun mengetahui keislamannya dan berusaha memaksanya untuk kembali ke agama nenek moyang mereka. Tetapi keimanan telah menancap kuat pada dirinya sehingga meskipun selalu diintimidasi bahkan dikurung dan disiksa dia tetap memegang teguh keislamannya.

Hijrah ke Habasyah dan Kemudian ke Madinah

Dia masih dalam kurungan keluarganya sampai suatu ketika seorang laki-laki dari kaum muslimin membebaskannya secara sembunyi-sembunyi. Dia pun ikut rombongan para sahabat yang hijrah ke Habasyah. Setelah beberapa lama di Habasyah dia dan beberapa sahabat kembali ke Mekah. Dia berusaha mengajak ibunya masuk Islam tetapi ibunya masih tetap pada pendiriannya yang sebelumnya. Bahkan ibunya tetap berusaha memaksanya untuk kembali ke agama nenek moyang. Dia pun meninggalkan keluarganya. Setelah terjadi baiat Aqabah yang pertama, baiat dimana beberapa rombongan haji dari Madinah (Yatsrib) menyatakan keislamannya, dia diutus untuk ikut ke Madinah untuk mengajarkan Islam. Dia pun menjadi sahabat yang pertama kali hijrah ke Madinah. Sebagaimana perkataan Barra’ bin Azib radhiyallahu anhu, “Yang pertama kali datang kepada kami (ke Madinah) dari kaum Muhajirin adalah Mush’ab bin Umair…” (HR Bukhari 3924)

Menjadi Duta Rasulullah di Madinah

Mush’ab bin Umair menjadi duta Rasulullah untuk mengajari penduduk Madinah dan ditemani oleh As’ad bin Zurarah (penduduk Madinah yang telah masuk Islam sebelumnya).  Satu persatu penduduk Madinah masuk Islam. Sampai kemudian dua tokoh Madinah, Sa’ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair, masuk Islam dan ikuti oleh kaumnya. Islam pun semakin kuat di Madinah.

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah Mush’ab sempat mengikuti perang Badar dan perang Uhud. Beliau yang ditugasi membawa bendera kaum muslimin. Mush’ab bin Umair syahid pada saat perang Uhud. Melihat jasad Mush’ab yang penuh dengan luka maka Rasulullah bersedih dan kemudian beliau membaca ayat:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).

Para Sahabat Mengenang Mush’ab

Khabbab radhiyallahu anhu berkata, “Kami berhijrah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena mengharap wajah Allah dan balasan hanya disisi Allah. Ada sebagian kami yang meninggal sebelum merasakan buah dari perjuangan diantaranya Mush’ab bin Umair. Ia terbunuh di Perang Uhud. Ia hanya meninggalkan pakaian wool bergaris-garis (untuk kafannya). Kalau kami tutupkan kain itu di kepalanya, maka kakinya terbuka. Jika kami tarik ke kakinya, maka kepalanya terbuka. Rasulullah pun memerintahkan kami agar menarik kain ke arah kepalanya dan menutupi kakinya dengan rumput idkhir.” (HR Bukhari 1276)

Suatu ketika Abdurrahman bin Auf pernah dihidangkan makanan kemudian dia tiba-tiba mengangis. Dia pun berkata: “Hamzah terbunuh dan tidak didapati sesuatu untuk mengkafaninya kecuali satu lembar kain. Mush’ab bin Umair juga terbunuh dan tidak didapati sesuatu untuk mengkafaninya kecuali satu lembar kain. Saya takut telah didahulukan bagi kita balasan berupa kesengan-kesenangan di dunia. Kemudian dia menangis.

Disarikan dari kitab Rahiqul Makhtum karya Syaikh Shofiyurrahman Al Mubarakfuriy dan Siyar A’lamin Nubala’ Karya AdDzahabi rahimahumullah.

Abu Zakariya Sutrino. Riyadh, 19 Sya’ban 1437H.

| Web:Ukhuwahislamiah.com | FB:Ukhuwah Islamiah | Twitter:@ukhuwah_islamia |