Menjadi Pengembara Ilmu

0
96

Ilmu sangat penting dalam kehidupan manusia. Segala sesuatu memerlukan ilmu, baik urusan dunia maupun akhirat. Sungguh benar perkataan hikmah orang terdahulu (ada yang mengatakan perkatan Imam Syafi’I rahimahullah):

 

من أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم، ومن أرادهما معاً فعليه بالعلم

 

Barangsiapa yang menghendaki dunia, maka hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki akherat, maka hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki dunia akherat, maka hendaknya dia berilmu

 

Bahkan orang-orang yang awam sekalipun secara umum menyadari betapa penting dan agungnya masalah ilmu. Mereka berusaha berjuang sekuat tenaga agar anak-anak mereka terus belajar agar kelak menjadi orang-orang yang bermanfaat. Orang-orang yang berilmu memiliki kedudukan yang mulia di dunia, terlebih lagi di akhirat kelak.  Allah berfirman,

 

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

 

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”  (QS. Al-Mujadalah: 11)

 

Imam Ahmad rahimahullah berkata:

العـلم لا يـعـدله شـيء لمن صحّـت نيـتـه

Ilmu itu tidak ada yang menandinginya sesuatu pun jika benar niatnya.”

 

 

Safar Untuk Menuntut Ilmu

 

Tetapi perlu diingat ilmu tidak datang dengan sendirinya. Perlu berjuang untuk mendapatkannya. Telah menjadi kebiasaan para ulama melakukan rihlah (perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu. Mereka bersabar hidup jauh dari sanak kerabat dan orang2 yg dicintai demi mendapatkan warisan para Nabi, yaitu ilmu. Mereka memahami benar bahwa ilmu itu perlu dicari dan didatangi, dia tidak datang dengan sendirinya. Hal ini sebagaimana dikatakan,

العلم يؤتى ولا يأتي

“Ilmu itu didatangi, dan tidak datang (dengan sendirinya)”

 

Bahkan para para Nabi pun juga menuntut ilmu, lihat kisah Nabi Musa ‘alaihissalam menuntut ilmu pada khidzir (QS al Kahfi : 60-82). Begitu juga dengan kisah para sahabat yang datang dari segala penjuru untuk menemui dan belajar dari Rasulullah. Mereka bertanya tentang urusan agama mereka. Setelah mereka memiliki ilmu yang cukup maka Rasulullah mengutus mereka kembali untuk mengajari kaum mereka. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu pernah mengadakan perjalanan selama satu bulan menuju Syam hanya untuk mendapatkan satu hadits.

 

Para tabi’in dan ulama’-ulama’ setelah mereka juga demikian. Tidak sedikit dari mereka yang menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk menuntut ilmu. Ilmu adalah sesuatu yang agung maka tidak mengherankan untuk mendapatkannya perlu perjuangan.

 

Imam Abu Hatim Ar Razi rahimahullah pernah mengatakan bahwa dirinya pernah berjalan kaki lebih dari 1000 farsakh. Padahal satu farsakh lebih dari 5 km! Jadi imam ini pernah berjalan kaki lebih dari 5000 km untuk menuntut ilmu!!! Belum lagi perjalanan beliau menaiki kendaraan. Beberapa tempat yang beliau kunjungi untuk menuntut ilmu: Baghdad, Kufah, Makah, Madinah, Syam, Mesir dan lainnya.

 

Lain lagi ceritanya dengan Imam Baqiy bin Makhlad Al Andalusi rahimahullah. Beliau melakukan perjalanan dari Andalus lalu ke Afrika lalu ke Baghdad hanya untuk belajar pada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Imam Ahmad bin Hambal sendiri telah melakukan perjalanan yang begitu jauh dalam menuntut ilmu sehingga ia menjadi imam besar dalam Islam. Ibnu Jauzi mengatakan, “Imam Ahmad pernah mengelilingi dunia dua kali sampai ia mengumpulkan kitab al Musnad”.

 

Semoga Allah memudahkan kita mengikuti jejak mereka untuk menjadi pengembara ilmu.