Meninggal saat melahirkan

0
296

MENINGGAL SAAT MELAHIRKAN

Assalamualaikum pak ustadz…apakah seseorang yg meninggal krn usai keguguran disebut mati syahid,padahal seseorang tersebut sebelum meninggal mengucapkan kata2 yg kotor bahkan mensumpah serapah,(dendam kesumat),mhn penjelasannya trimakasih wassalam.

Jawab:
Wa’alaikumsalam. Dalam haditsnya Rasulullah menyebutkan beberapa kondisi seseorang dijanjikan pahala mati syahid:

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah: Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan Albani).

Orang yg meninggal dalam kondisi-kondisi ini maka dijanjikan pahala mati syahid, tetapi dia tetap dimandikan, dikafani dan disholatkan seperti jenazah biasa (tidak seperti orang yg mati syahid di medan perang).

Salah satu yang dijanjikan pahala mati syahid adalah wanita yang meninggal dalam proses persalinan atau melahirkan. Jika dia meninggal, baik bayinya selamat atau keguguran maka dia dijanjikan pahala mati syahid. Namun setiap amalan tergantung niatnya. Jika dia sabar dan mengharap ridha Allah maka dia akan mendapatkan pahala yg besar tersebut. Sebaliknya, jika ia tidak sabar dalam menjalani, tidak mengharap ridha Allah dan bahkan berkata-kata atau berperilaku kotor saat itu maka ditakutkan dia terlewat dari pahala yang besar itu atau bahkan mendapat dosa karenanya.

Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk memperbaiki niat dan amalannya. Apalagi dalam kondisi-kondisi kritis yang mengancam nyawa, seperti saat-saat mau melahirkan. Setiap amalan tergantung penutupnya, untuk itu kita berusaha sekuat tenaga untuk dapat meninggal dalam kondisi husnul khotimah. Rasulullah bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Semoga Allah menjadikan kita dan saudara-saudara kita meninggal dalam kondisi husnul khotimah.