Menepis Berita Miring Terhadap Ulama’

0
132

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Diantara cara untuk membuat kaum muslimin lemah dan jauh dari agama adalah dengan membuat mereka jauh dari ahli ilmu (ulama’). Orang-orang kufar atau orang yang dengki terhadap Islam senantiasa bersemangat untuk mencela para ulama dan mencari-cari kesalahan mereka dengan tujuan menjatuhkan kredibilitas mereka di mata kaum muslimin. Jika kredibilitas para ulama telah dijatuhkan maka kaum muslimin tidak memiliki pegangan untuk menyelesaikan perkara-perkara yang mereka hadapi dan tidak memiliki rujukan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat.

Mengormati Ulama’

Salah bentuk menghormati ilmu adalah dengan menghormati ahlinya.  Rasulullah bersabda, ‎‎“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang tua, tidak ‎menyayangi orang yang kecil dan tidak mengetahui kedudukan/haq orang yang berilmu.” Para ulama adalah pewaris para Nabi. Melalui mereka ilmu agama disampaikan dari generasi ke generasi. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar, tidak pula dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” [HR Abu Dawud. Dishahihkan syaikh Albani]

Celaan dan kedustaan pada para ulama bukan hal yang baru. Bahkan sejak jaman Nabi Muhammad dan Nabi-Nabi sebelumnya. Dahulu kaum musyrikin jahiliyah menggelari Nabi Muhammad dengan gelar-gelar yang buruk seperti penyihir, pendusta, pemecah persatuan, pembeci agama nenek moyang dan gelar buruk lainya. Hal ini tidak lain untuk menjatuhkan kredibilitas beliau dan agar manusia lari dari beliau. Kaum musyrikin jahiliyah tidak memiliki sedikit pun hujjah untuk membantah kebenaran yang disampaikan Nabi Muhammad. Mereka hanya bisa melakukan kedustaan dan menggelari Nabi Muhammad dengan gelar-gelar yang buruk.

 

Sikap Terhadap Kesalahan Seorang Ulama’

Benar bahwa seorang ulama adalah manusia biasa mereka tidak maksum. Kadang kala mereka bisa salah. Tetapi membesar-besarkan kesalahan mereka (apalagi jika itu adalah ijtihad mereka) maka tidak benar. Apakah pantas kita akan mencela seorang ulama hanya gara-gara sebuah kesalahan mereka? Apakah kita akan melupakan begitu banyak kebaikan yang para ulama’ lakukan. Para ulama adalah orang-orang yang telah menghabiskan umur mereka untuk ilmu dan dakwah.

Syaikh Muhammad bin Saleh Al Utsaimin rahimahullah ditanya tentang orang yang membesar-besarkan kesalahan ulama, lalu beliau menjawab, “Saya memohon agar Allah menolong para ulama atas apa yang menimpa mereka dari ucapan-ucapan orang-orang yang bodoh. Sesungguhnya para ulama mengalami banyak hal:

Pertama, kita mendengar sesuatu yang dinisbatkan kepada sebagian ahli ilmu, lalu kemudian kita teliti maka ternyata berkebalikan dengan hal itu. Kebanyakan dikatakan “Si Fulan demikian”, jika kita teliti tenyata tidak sesuai. Ini adalah kedzaliman yang besar. Sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda,”Sesunguhnya kedustaan atasku tidak seperti kedustaan atas seseorang” –atau yang semakna dengan ini-. Kedustaan terhadap seorang ulama atas sesuatu yang berhubungan dengan syariat Allah maka tidak seperti kedustaan atas orang biasa. Karena hal ini berhubungan dengan hukum syar’I yang berhubungan dengan seorang alim yang dipercaya.

Oleh karena itu, saat kepercayaan manusia pada seorang ahli ilmu kuat maka semakin banyak dusta yang dinisbatkan padanya, dan hal ini lebih berbahaya juga. Karena salah seorang diantara masyarakat jika kamu berkata kepadanya “si Fulan berkata” maka dia tidak akan menerima. Tetapi jika kamu mengatakan “Si Fulan – yaitu orang yang dipercaya- berkata” maka dia akan menerima.   Maka engkau dapati sebagian manusia, dia memiliki pendapat atau pemikiran yang ia mengira hal tersebut benar dan dia menghendaki agar manusia berpendapat demikian juga, sedang ia tidak memiliki jalan kecuali dengan berdusta atas ulama yang dipercaya. Dia mengatakan, “Ini adalah perkataan (ulama) fulan”. Ini adalah hal yang sangat berbahaya sekali. Tidak hanya berkaitan dengan pribadi seorang ulama, tetapi juga berkaitan dengan hukum Allah ta’ala.

Kedua, membesar-besarkan kesalahan – seperti yang dikatakan- maka ini juga salah. (Ini adalah bentuk) kesalahan dan permusuhan. Seorang alim adalah manusia biasa, bisa benar dan bisa salah. Tetapi jika seorang alim salah, maka yang wajib bagi kita adalah menghubunginya, dan berkata padanya apakah kamu mengatakan demikian? Jika ia menjawab “Benar” dan kita melihat bahwa hal itu salah maka kita katakana “Apakah kamu memiliki dalil?” Jika kita masuk padanya pada diskusi maka akan jelas kebenaran. Dan seorang alim yang takut pada Allah jalla wa ala maka akan selalu rujuk pada kebenaran. Dan juga harus mengumumkan rujuknya juga.

Adapun membesar-besarkan kesalahan, lalu menyembutkan (juga) hal-hal negatif pada dirinya maka ini adalah bentuk permusuhan atas saudara muslim, dan bahkan permusuhan pada syariat. Kita dapat katakan demikian karena jika awalnya masyarakat percaya pada seorang (alim) lalu hilang kepercayaan mereka padanya maka kemana mereka akan merujuk?? Manusia akan menjadi terlantar () kebingungan, tidak memiliki pengangan yang menunjukkan atas syariat Allah. Atau mereka akan menuju seorang jahil yang akan menyesatkan dari jalan Allah –tanpa disadari-. Atau menuju ulama’ suu (buruk) yang menyesatkan manusia dari jalan Allah –dengan sadar- “ [Kitab Al Shohwah Al Islamiyah hal. 99-100]

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 19/5/1435H.

Repost dari artikel: www.assunnahriyadh.com