Mendulang Hikmah Surat Al-Ashar

1
93

Edisi Ketiga Puluh

25 Rabi’ul Awwal 1428 H

13 April 2007 M

Di antara tujuan Al-Qur’an diturunkan adalah agar manusia mentadabburi makna yang terkandung di dalamnya. Surat yang menjadi topik pembahasan kita kali ini merupakan surat yang berisi ayat-ayat ringkas penuh makna. Surat ini juga menurut sebagian Ulama sebagai hujjah yang cukup bagi manusia sekalipun tidak diturunkan surat-surat lainnya.

Allah I berfirman:

} ??????????? {1} ????? ?????????? ????? ?????? {2} ?????? ????????? ????????? ?????????? ????????????? ???????????? ?????????? ???????????? ??????????? {3}{

“Demi masa. Sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih dan saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Keutamaan Surat Ini

Imam Asy-Syafi’, sebagaimana yang dinukil oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam risalah Tsalatsatul Ushulnya menyatakan: “Ándaikan Allah tidak menurunkan satu hujjah pun kepada manusia kecuali surat ini niscaya ia telah mencukupi.”

Perkataan beliau ini tidaklah berlebihan, dengan lafadz-lafadz ayat yang ringkas surat ini memuat prinsip-prinsip dasar agama ini, keimanan, amal shalih, saling nasehat menasehati, semuanya merupakan perkara penting dalam syariat Islam.

Penjelasan Ayat

1. “Demi masa”

Dalam ayat yang mulia ini Allah I bersumpah dengan menyebutkan waktu dan tidaklah Dia Ta’ala bersumpah dengan sesuatu melainkan adanya keutamaan dan kemuliaan di dalamnya.

Waktu memiliki kedudukan yang penting dalam kehidupan umat manusia, gerak gerik mereka tidak pernah lepas dari proses perputaran waktu. Di dalam waktulah semua aktifitas mereka yang baik maupun yang buruk terjadi.

Barangsiapa yang memperhatikan kehidupan manusia di alam ini niscaya ia akan menjumpai tiga kelompok manusia dalam menyikapi urgensitas waktu. Kelompok yang pertama dan mereka ini menempati kedudukan mayoritas, tidak pernah terlintas dalam benak mereka pentingnya nilai waktu. Mereka juga tidak ambil pusing bahaya menyia-nyiakannya. Hal ini menyebabkan mereka tenggelam dalam kesia-sian hingga ajal datang menyapa sedang mereka tidak memiliki bekal yang cukup untuk berjumpa dengan Rabb-nya. Mereka lalu berpindah ke dalam dimensi kehidupan lain yang belum pernah dirasakan sebelumnya dalam keadaan hina-dina penuh penyesalan dan kerugian.

Allah I berfirman menggambarkan penyesalan orang-orang yang waktu di dunianya berlalu tanpa ketaatan ketika ajal datang menjemput:

} ?????? ????? ????? ?????????? ????????? ????? ????? ?????????? ???????? ???????? ???????? ?????? ???????? {

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata: “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Kelompok yang kedua, mereka mengetahui nilai penting waktu akan tetapi mereka ditimpa futur sindrom (penyakit lemah semangat) dan kemalasan dalam memanfaatkannya. Mereka ini adalah orang-orang yang mati semangatnya dalam beramal. Sedang kelompok yang ketiga adalah mereka yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang urgensi waktu serta nilai umur mereka. Mereka memiliki semangat  tinggi dan keinginan membaja dalam mengisi waktu dan umur mereka untuk ketaatan kepada Allah I.

Rasulullah e bersabda:

((?????????? ??????? ?????? ??????, ????????? ?????? ????????, ??????????? ?????? ????????, ??????????? ?????? ????????, ??????????? ?????? ????????, ????????? ?????? ????????))

“Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa hidupmu sebelum masa matimu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa mudamu sebelum masa tuamu dan masa cukupmu sebelum masa fakirmu.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’(1077))

Generasi salaf sebagai generasi terbaik umat ini telah memberikan contoh kongkrit dalam memanfaatkan nilai-nilai waktu. Waktu bagi mereka laksana mutiara berharga yang harus dijaga tanpa disia-siakan.

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sungguh aku telah berjumpa dengan beberapa kaum (para shahabat Nabi e), mereka sangat bersemangat dalam menjaga waktu-waktu mereka melebihi semangat kalian dalam menjaga harta benda kalian.”

Dalam kesempatan yang lain beliau menuturkan: “Wahai anak Adam! Sesungguhnya engkau adalah hari-harimu. Bila hilang salah satu harimu hilang sebagian dirimu.”

Ibnu Uqail Al-Hanbali berkata: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan bagi diriku untuk menyia-nyiakan sesaatpun dari umurku.”

Suatu saat Amr bin Abdu Qais melewati sekumpulan manusia yang sedang berleha-leha. Mereka lalu mengajaknya untuk duduk bersama, maka ia menjawab: “Tahanlah matahari dari peredarannya agar aku dapat bercakap-cakap dengan kalian.”

Inilah di antara untaian hikmah yang keluar dari lisan-lisan mereka, semuanya menunjukan betapa berharganya waktu di sisi mereka.

2. “Sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian.”

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaiman: “Makna ayat yang mulia ini adalah Allah I telah bersumpah tentang kondisi manusia bahwa mereka berada dalam kerugian dan kekurangan pada semua keadaan baik di dunia maupun di akhirat kecuali orang-orang yang dikecualikan oleh Allah I.” (Lihat Tafsir Juz Amma oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hal: 312)

3. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih dan saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran.”

Inilah golongan manusia yang dikecualikan oleh Allah I pada ayat sebelumnya  karena ada beberapa sifat yang dimiliki oleh mereka.

a.       Iman

Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan keimanan yang benar terhadap apa yang harus mereka imani. Mereka beriman kepada Allah I dengan meyakini rububiyah, uluhiyah serta nama dan sifat-Nya, beriman kepada malaikat, kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah I, rasul-rasul yang diutusNya, hari kiamat dan mereka juga mengimani taqdir yang baik maupun yang buruk dari-Nya. Inilah enam rukun iman yang benar-benar tertanam dalam diri mereka sebagai bentuk realisasi dari firman Allah I:

} ?????? ???????? ???? ????????? ??????????? ?????? ??????????? ????????????? ????????? ???????? ???? ??????? ??????? ??????????? ????????? ??????????????? ???????????? ?????????????? {

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian,akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi.” (QS. Al-Baqarah: 177)

Dan sabda Rasulullah r :

((???? ???????? ????????? ??????????????? ?????????? ?????????? ??????????? ???????? ?????????? ??????????? ???????? ?????????))

“(Iman adalah) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat serta beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)

b.      Amal shalih

Sifat kedua yang dimiliki oleh mereka adalah mengerjakan amalan shalih. Setelah mereka mengimani dengan hati apa yang seharusnya diimani, mereka pun menerapkan konsekuensi-konsekuensinya dengan mengerjakan amal shalih dengan anggota badan mereka. Mereka mengerjakan seluruh amalan tersebut baik yang tampak maupun yang tidak tampak, baik yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak sesama mereka dan yang wajib maupun yang sunnah, semuanya dikerjakan oleh mereka. Bagi mereka dunia adalah ladang untuk beramal sebelum ajal datang menjemput, tentu amal yang ikhlas hanya mengharap wajah Allah dan yang sesuai dengan tuntunan syariat.

c.       Nasehat menasehati dalam kebenaran

Sifat ketiga yang dimiliki oleh mereka adalah saling menasehati dalam kebenaran yaitu ketaatan kepada Allah dan meninggalkan apa yang diharamkan. Di saat salah seorang dari mereka menyia-nyiakan perintah Allah, maka yang lainnya segera memperingatkannya agar segera menunaikannya. Di saat salah seorang dari mereka melanggar larangan-larangan Allah maka yang lainnya  segera memperingatkannya untuk bertaubat dan meninggalkannya. Ini semua dikarenakan dorongan cinta dan ukhuwah imaniah yang senantiasa terjalin di antara mereka. Bukankah Rasulullah e telah bersabda:

((??? ???????? ?????????? ?????? ??????? ????????? ??? ??????? ??????????))

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencinati dirinya sendiri.”(Muttafaqun ‘Alaih)

Mereka senantiasa menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar di antara mereka sebagai bentuk ketaatan kepada Allah I yang telah berfirman dalam kitab-Nya:

} ????????? ???????? ???????? ????????? ????? ????????? ????????????? ?????????????? ???????????? ???? ?????????? ????????????? ???? ?????????????? {

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Dan juga firman Allah I yang menceritakan kisah Lukman tatkala ia menasehati putranya:

} ?????????? ?????? ?????????? ???????? ?????????????? ??????? ???? ?????????? ????????? ????? ???????????? ????? ?????? ???? ?????? ?????????? {

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Lukman: 17)

Mereka juga menaati Rasulullah e yang telah bersabda dalam haditsnya:

((???? ????? ???????? ????????? ??????????????? ???????? ?????? ???? ?????????? ????????????? ?????? ???? ?????????? ???????????? ???????? ???????? ???????????))

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, bila ia tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, bila ia tidak mampu maka bencilah dalam hati dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

d.      Nasehat menasehati dalam kesabaran

Ini adalah sifat terakhir mereka yang disebutkan oleh Allah I dalam surat ini. Selain saling menasehati dalam kebenaran, mereka tidak lupa bahwa dalam mengarungi kehidupan ini tentu ada aral melintang yang senantiasa menghadang sehingga dibutuhkan saling menasehati dalam mengahadapi semua itu dengan kesabaran.

Dan ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah I merahmatimu-, sabar adalah engkau menahan dirimu dari perbuatan yang seharusnya tidak dikerjakan. Dan ada tiga bentuk kesabaran yang harus engkau ketahui, sabar dalam melakukan ketaatan, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan dan sabar dalam menjalani taqdir yang telah ditetapkan Allah I atas dirimu.

Demikanlah empat sifat yang dimiliki oleh mereka. Dengan dua sifat yang pertama mereka menyempurnakan diri mereka dan dengan dua sifat berikutnya mereka menyempurnakan orang lain. Barangsiapa yang menyempurnakan empat hal ini dalam dirinya maka dia telah selamat dari kerugian serta menjadi orang yang beruntung dengan keberuntungan yang agung.

Wallahu ‘A’lam bish-shawab

(Abu Muhajir)

SHARE
Previous articleKEYAKINAN ISLAM TERHADAP ISA
Next articleTAKWA
Beliau saat ini adalah kandidat Doktor sekaligus peneliti di King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga belajar kepada beberapa ulama’ diantaranya Syaikh Dr. Saleh Fauzan dan Dr Sa’ad Syistry. Selain itu beliau juga merintis Pesantren Masyarakat Hubbul Khoir di Sukoharjo (Solo) Jawa Tengah.
  • yuliana vivian maharani

    insyaallah setelah belajar artikel ini kita dapat menghargai waktu yang diberikan oleh Allah dengan amal saleh dan hal bermanfaat lainnya