Memaknai tujuan hidup

0
1231

Apa tujuan dari hidup ini? Pertanyaan ini kadang kala muncul dari diri seseorang. Sebagai seorang muslim kita harus menyakini bahwa tidak mungkin Allah menciptakan manusia begitu saja tanpa tujuan yang jelas. Tidak mungkin manusia diciptakan untuk hal yang sia-sia. Allah berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115)

Tujuan hidup yang agung: ibadah

Allah menciptakan manusia untuk tujuan-tujuan yang agung. Diantara tujuan yang agung tersebut adalah agar manusia beribadah kepada Allah dan agar manusia menyebarkan kebaikan di muka bumi. Allah yang telah menciptakan kita, memberi kita rezeki dan Allah yang mengatur alam semesta ini maka sudah selayaknya kita beribadah kepadaNya. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56)

Hanya dengan beribadah  dan menghambakan diri kepada al Khaliq (sang pencipta) kita akan merasakan kebahagiaan dalam hidup ini. Orang-orang yang lalai dari ibadah hidupnya akan terasa gersang. Begitupula orang-orang yang menghambakan diri kepada selainNya seperti hawa nafsu, harta, jabatan dan yang lainnya maka hatinya akan diliputi kegundahan. Hanya dengan beribadah kepada Allah kita akan mencapai kebahagiaan yang hakiki baik di dunia maupun di akhirat.

Perlu difahami bahwa saat Allah memerintahkan kita beribadah kepadaNya bukan berarti Allah butuh pada kita. Allah adalah Dzat yang Mahamampu dan Maha Kaya, Allah tidak butuh hambaNya (Lihat QS. Adz Dzariyaat: 57). Sejatinya Allah memerintahkan ibadah untuk kebaikan manusia. Allah akan memberi balasan yang terbaik baik di dunia maupun di akhirat.

Ibadah itu dimensinya luas

Perlu diketahui bahwa dimensi ibadah itu sangat luas, ia meliputi apa-apa yang diridhai Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan baik yang nampak maupun tersembunyi. Sungguh indah definisi ibadah yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: Ibadah mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi maupun yang nampak. Maka shalat, zakat, puasa, haji, jujur dalam bicara, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang dari yang munkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, berbuat baik kepada orang atau hewan yang dijadikan sebagai pekerja, do’a, dzikir, membaca Al Qur’an dan yang semisalnya adalah termasuk bagian dari ibadah (al-’Ubudiyah hal 6).

Jadi ibadah tidak sekedar meliputi hal-hal yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sang khaliq seperti sholat. Ibadah cangkupannya sangat luas. Seorang muslim hendaknya senantiasa meniatkan setiap nafas kehidupannya hanya untuk Allah semata. Seorang muslim dalam hidupnya harus berupaya memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi yang lain. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR Thabrani, dihasankan Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3289)

Jadikan akhirat tujuan hidup yang utama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ” (HR Ahmad dan Ibnu Majah. Dishahihkan syaikh Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 950)

Ingat, hidup ini adalah pilihan dan ia terus berjalan. Jika tujuan hidup benar insyaallah akan selamat dan bahagia dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika salah arah maka hanya kesengsaraan dan kebinasaan yang didapatkan. Rasulullah bersabda:

كلّ الناسِ يغدو؛ فبائعٌ نَفسَه فمُعتِقها أو موبِقها

Semua manusia tiap harinya melanjutkan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan dirinya, ada yang membebaskan dan ada pula yang mencelakakan dirinya!” (HR Muslim)

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 15/11/1437H.

| Web:Ukhuwahislamiah.com | FB:Ukhuwah Islamiah | Twitter:@ukhuwah_islamia |