Mana yang lebih utama?

0
791

Pertanyaan:

Mana yang lebih utama, seorang yang agamanya kurang tetapi akhlaqnya bagus atau seorang yang agamanya bagus (iltizam/kokoh dalam mengamalkan syariat) tetapi akhlaqnya kurang? Dan bagaimana hubungannya dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam, “akhlaq yang baik akan pergi membawa dua kebaikan, kebaikan dunia dan akhirat” [1] sebagaimana jawaban beliau terhadap Ummi Salamah?

Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin rahimahullah Menjawab:

Tidak diragukan lagi bahwa termasuk dari kesempurnaan agama adalah sempurnanya akhlaq, sebagaiamana telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alahi wassallam bahwa beliau bersabda, “Muslim yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaqnya” [2]. Oleh karena itu, orang yang akhlaqnya kurang maka sejatinya agamanya juga kurang karena kesempurnaan agama menuntut bagusnya (atau sempurnanya) akhlaq.

Dan (sebaliknya) sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya[3] bahwa bagusnya akhlaq akan tergambar dalam muammalahnya dengan makhuq dan sang Khaliq. Maka jelas bahwa sempurnya akhlaq juga dengan sempurnanya agama [4].

Sesungguhnya pengaruh seorang yang memiliki kesempurnaan akhaq terhadap sesama, seperti untuk menarik dan membawanya kedalam agama Islam, tentu lebih besar pengaruhnya dari pada seorang yang beragama tetapi berakhlaq buruk. Dan jika ada orang yang agamanya kuat ditambah baik akhlaqnya maka yang demikian adalah lebih sempurna lagi.  Adapun menganggap lebih utama orang yang  kuat ibadahnya saja tetapi akhlaqnya buruk maka itu masalah yang tidak bisa dipastikan.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan mewafatkan kita atas yang demikian itu. Dan menjadi wali kita di dunia dan akhirat. Dan semoga tidak menjadikan penyakit di hati kita setelah Dia menunjukinya. Dan menganuregahi kepada kita rahmatNya sesungguhnya Dia Maha Pemberi.

Diterjemahkan dari Kutaib “Makaarimu Al Akhlaq” oleh syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 12 Shofar 1433 H (6 Jan 2011)

Notes:

[1].  Diriwayatkan Thabrani di dalam Ausath (3/279), Al Kabir (23/222), dan Abd bin Humaid di dalam Musnadnya (1/365).

[2].  Diriwayatkan Abu Dawud dalam kitabu as Sunnah bab ad Dalilu ‘ala Ziyadati Al Iman wa Nuqshanihi (4672), Tirmidzi  dalam kitabu ar Radha’u  bab ma Ja’a fi Haqqi al Mar’ah ‘ala Zaujiha(1162). Tirmidzi: Hadis hasan shahih

[3].  Sebelumnya beliau memberi penjelasan tentang definisi, cangkupan dan contoh dari akhlaq mulia. Intisari dari yang beliau sampaikan dapat ditemukan pada artikel yang telah kami tulis di: http://ukhuwahislamiah.com/2011/02/10/akhlaq-yang-mulia/

[4].  Dari sini jelaslah bahwa orang-orang kufar adalah orang yang buruk sekali akhlaqnya karena jeleknya muammalah dengan Sang Penciptanya. Mereka mensekutukanNya dengan yang lainya dan tidak tunduk terhadap syariatNya.  Sangat disayangkan sebagian kaum muslimin memuji-muji dan bangga dengan orang-orang kufar dan negara mereka. Padahal Allah ta’ala yang Maha Mengetahui atas makhluqNya berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Al Bayyinah: 6)

Adapun bersifat inshaf dan objektif dalam menilai maka tidak mengapa, misal mengakui pada sebagian sisi duniawi mereka memiliki keunggulan misal dalam teknologi.