Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Apr 17, 2017 in Akhlaq dan Etika | 0 comments

Makar orang munafiq

Keberadaan kaum munafiq menimbulkan masalah dan keresahan tersendiri dalam tubuh kaum muslimin. Secara dhohir mereka menampakkan keislaman, tetapi sebenarnya kekufuran-lah yang tertanam kuat dalam hati mereka.  Seringkali dalam masa-masa yang genting dan krusial mereka malah membuat makar yang meresahkan kaum muslimin.

 

Namun, yang perlu kita cermati adalah bahwa keberadaan orang-orang munafiq dalam tubuh kaum muslimin dan juga usaha makar yang mereka lakukan bukan sesuatu yang baru. Bahkan telah ada sejak zaman Rasulullah di Madinah. Lihat saja dalam perang Uhud (3 Hijriah), menjelang terjadi peperangan Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang munafiq yang ada di barisan pasukan kaum muslimin tiba-tiba memutuskan untuk balik ke Madinah. Jumlah mereka sekitar 300 orang. Hal ini tentu sangat mengurangi jumlah personil pasukan kaum muslimin, yang awalnya sekitar 1000 orang tersisa menjadi 700an. Padahal kekuatan musuh yaitu orang-orang kafir Quraisy sekitar 3000 pasukan. Tetapi alhamdulillah pasukan kaum muslimin tidak gentar terus maju berjihad ke medan Uhud untuk menghadapi musuh.

Begitu pula dalam perang Bani Mustaliq (6 H). Pada perang ini orang-orang munafiq yang ikut dalam barisan pasukan kaum muslimin banyak membuat fitnah dan kerisauan. Diantaranya fitnah terhadap ummahatul mukminin Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya beliau telah berzina. Fitnah ini sangat meresahkan Rasulullah dan juga kaum muslimin. Sampai akhirnya Allah menurunkan ayat yang membantah tuduhan ini (QS An Nuur: 11-26).

Jadi, tidak perlu “kaget” dengan keberadaan orang-orang munafiq dan juga makar-makar yang mereka lakukan. Bagi setiap muslim yang terpenting adalah selalu bersikap waspada dan juga berusaha melakukan yang terbaik untuk menyikapi orang-orang munafiq. Kesabaran menjadi salah satu kunci utama dalam menyikapi orang-orang munafiq. Lihat apa yang dilakukan Rasulullah pada Abdullah bin Ubay bin Salul dan yang semisalnya yang jelas-jelas kemunafikannya. Beliau tetap sabar dan juga berusaha menyikapi dengan sikap yang terbaik. Pada akhirnya kemunafikan mereka akan tersikap dan mereka sendiri yang akan rugi dunia akhirat.

 

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian ,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS Al Baqarah: 8-9)

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 20/7/1438H.


| Web: ukhuwahislamiah.com | FB,TG,IG: ukhuwahislamiahcom |