Kuliner ngaji

0
1

*”KULINER” NGAJI*

Itulah istilah yg dipakai sebagian asatidzah untuk orang (baca: “ikhwan” atau “akhwat”) yg suka coba ikut kajian sana sini. Pindah kajian yang satu dan lainnya tanpa skala prioritas dan metode (manhaj) yg sistematis. Sekedar cari kajian yg DISUKAI bukan yg DIBUTUHKAN. Mirip orang yg hobinya kuliner, mencicipi makanan yg ini dan itu cari yg enak-enak saja. Sehingga meskipun suka ngaji, bahkan sudah bertahun-tahun tetapi ilmunya tidak kuat.

Ditambah lagi kadangkala tidak selektif, sekedar asal ikut kajian tanpa melihat kapasitas dan juga pemahaman si pemateri. Akhirnya bingung karena ilmu yg didapat saling bertentangan. Tetapi ini bukan berarti membatasi belajar pada ustadz atau pemateri tertentu saja. Tidak masalah belajar ke siapapun selama ilmu yg diajarkan benar dan si pemateri memiliki penguasaan dan pemahaman yg benar atas ilmu tersebut. Yang salah adalah sekedar asal ikut kajian meskipun si pemateri tidak memiliki penguasaan atas ilmu yg disampaikan. Bahkan kadangkala ikut kajian karena sekedar pembawaan yg “menarik” atau “lucu” meskipun pemahamannya “aneh”.

Kalau salah kuliner makanan paling cuma rugi uang atau tidak puas dengan rasa makanannya. Kalau salah dalam mengambil ilmu agama?? Bisa jadi masuk pada dirinya pemahaman-pemahaman yg salah atau bahkan sesat dalam beragama. Mau?? Makanya hobi kuliner makanan saja, jangan kuliner ngaji.

Berkata Ibnu Sirin rahimahullah: “Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka perhatikan darimana kalian mengambil agama kalian”.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 23/11/1438H.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here