KUI #09: Fikih Ringkas Haji dan Umrah

0
111
  1. Hukum, syarat wajib, dan keutamaan haji

Hukum Haji

Hukum dari haji adalah wajib dengan kesepakatan kaum muslimin. Haji termasuk salah satu rukun islam. Haji yang wajib adalah sekali sepanjang umur bagi orang yang mampu, serta fardhu kifayah bagi kaum muslimin tiap tahunnya. Di antara dalil nash dari Al Qur’an adalah firman Allah ta’ala,

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS Ali Imran: 97)

Syarat Wajib Haji

Diwajibkan haji bagi seseorang jika telah terpenuhi lima syarat: Islam, berakal, baligh, merdeka dan mampu. Disebut mampu adalah orang yang mampu melaksanakannya baik secara fisik maupun material. Seperti mampu untuk berkendaraan, memiliki bekal yang cukup menempuh perjalannya serta meninggalkan nafkah yang cukup untuk anak, istri serta siapa saja yang menjadi tanggungannya. Jika mampu secara harta sedang fisiknya tidak, seperti karena tua ataupun sakit menahun maka boleh diwakilkan yang lainnya (HR. Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 1334). Untuk wanita ditambah syarat wajibnya dengan adanya mahram yang menemaninya untuk berhaji.

Keutamaan Haji

Haji memiliki keutamaan yang besar dan pahala yang besar pula. Di antaranya sebagaimana dalam hadist, “Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali jannah” (HR. Tirmidzi no. 809 dan Nasa’I no. 263). Aisyah radhiyallahu anha pernah berkata, Kita melihat jihad adalah amalan yang paling utama, apakah kita (kaum wanita) tidak berjihad? Rasulullah bersabda, “Bagi kalian ada jihad yang lebih baik dan paling bagus yaitu haji mabrur” (HR. Bukhari no. 1861).

  1. Miqat Haji dan Macam-Macam Haji

Miqat Haji

Secara bahasa miqat adalah batasan. Adapun secara istilah adalah tempat ibadah atau waktunya. Untuk haji ada dua miqat yaitu miqat zaman (waktu) dan miqat makan (tempat). Miqat zaman untuk haji yaitu bulan Syawal, Dzulqa’dah dan 10 hari awal Dzulhijjah.  Allah berfirman,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang telah dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS Al Baqarah: 197)

Miqat makan yaitu batasan yang tidak boleh dilewati bagi orang yang mau berhaji kecuali sudah dalam keadaan berihram. Rasulullah telah menjelaskan miqat-miqat tersebut, sebagaimana hadist Ibnu Abbas dia berkata, Rasulullah telah menetapkan bagi penduduk Madinah (miqatnya adalah) Dzul Hulaifah, Juhfah untuk penduduk Syam, Qorn Manazil untuk penduduk Nejed, dan Yalamlam bagi penduduk Yaman dan Rasulullah bersabda, “Tempat-tempat tersebut adalah miqat bagi penduduknya dan bagi yang datang dari arahnya, yaitu bagi mereka yang ingin menunaikan haji. Adapun bagi yang kurang dari itu maka silahkan berihram dari tempat yang ia inginkan, sampai penduduk Mekah berihram dari Mekah” (HR. Bukhari no. 1524 dan Muslim no. 2796). Dalam hadist yang lain disebutkan, “Dan miqat penduduk ‘Iraq adalah Dzatul ‘Irq” (HR. Muslim no. 2806).

Macam-macam Haji

Diperbolehkan memilih satu di antara tiga bentuk haji yaitu: tamattu’, qiran dan ifrad.

Tamattu’: Berihram untuk umrah di bulan haji, lalu menelesaikan manasik umrahnya (sampai bertahalul). Kemudian berihram untuk haji pada tahun itu pula.

Ifrad: Berihram untuk haji saja sejak dari miqat dan tetap dalam keadaan ihram sampai selesai manasik hajinya.

Qiran: Berihram untuk haji dan umrah secara bersamaan.

  1. Tata Cara Ihram dan Larangan Seorang yang Ihram

Tata Cara Berihram

Rangkaian pertama dari ibadah haji adalah berihram, yaitu niat masuk pada manasik haji. Sebelum berihram disunnahkan melakukan beberapa hal berikut:

  • Rasulullah juga mandi untuk ihram (HR. Tirmidzi no. 830).
  • Memotong hal-hal yang disunnahkan untuk dipotong seperti kuku, kumis, bulu ketiak dan lainnya.
  • Memakai minyak wangi (di badan) (HR. Bukhari no. 1539 dan Muslim 33/1189).
  • Bagi laki-laki hendaknya memakai pakaian yang tidak berjahit sebagai persiapan ihram, karena setelah ihram diharamkan pakaian yang berjahit untuk laki-laki.
  • Tidak ada shalat sunnah khusus sebelum ihram. Hanya saja jika bertepatan dengan waktu shalat fardhu hendaknya berihram setelahnya.
  • Jika telah persiapan telah selesai maka hendaknya berihram. Lalu perbanyak membaca talbiyah, bagi laki-laki disunahkan mengangkat suaranya. Bacaan talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك

Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”

Larangan Ihram

Ada beberapa hal yang dilarang bagi orang yang berihram, yaitu:

  1. Menghilangkan rambut dari tubuh, baik dengan memotong, mencukur atau mencabutnya tanpa udzur syar’i. Allah berfirman,

وَلاَ تَحْلِقُواْ رُؤُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ

Dan jangan kamu mencukur kepalamu , sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya.” (QS Al Baqarah: 196)

  1. Memotong kuku atau memendekannya.
  2. Menutup kepala bagi laki-laki.
  3. Memakai pakaian berjahit bagi laki-laki. Berdasar sabda Rasulullah saat ditanya tentang pakaian apa yang dipakai orang yang berihram, beliau bersabda, “Tidak boleh mengenakan jubah, imamah, kemeja, celana,… dst” (HR. Bukhari no. 1542 dan Muslim no. 1177). Adapun untuk perempuan boleh memakai pakaian apa saja yang menutupi aurat mereka, kecuali wajah dan kedua telapak tangan (HR. Bukhari no. 1838).
  4. Memakai wewangian
  5. Membunuh binatang buruan. Allah berfirman,

وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُماً

Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram.” (QS Al Ma’idah: 96)

  1. Melakukan akad nikah. Rasulullah bersabda, “Tidak boleh seorang yang berihram menikah atau dinikahi” (HR. Muslim no. 1409).
  2. Berhubungan suami istri. Allah berfirman,

فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ

Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats” (QS Al Baqarah: 196). Ibnu Abbas mengatakan, “Rafats adalah jima’” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah 3/173 al Hajj). Hendaknya pula seorang yang muhrim mengindari hal-hal yang mengarah ke hal tersebut seperti bercumbu dengan istri, memegang dengan syahwat dan lainnya.

 

  1. Amalan Seorang yang Berhaji

Ketika Sampai di Mekah

Jika telah sampai Mekah maka bagi yang berhaji Tamattu’ melaksanakan manasik umrah (thawaf dan sa’i) lalu bertahalul jika telah selesai. Jika telah bertahalul maka sudah dihalalkan apa-apa yang diharamkan saat ihram seperti memotong rambut, kuku dan lainnya. Dia tetap seperti itu (tidak dalam keadaan ihram) sampai hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) lalu berihram untuk haji. Sedang yang berhaji Qiran dan Ifraad maka sesampainya di Mekah hendaknya melakukan thawaf qudum. Jika ia menginginkan tidak mengapa melakukan Sa’I haji setelah thawaf qudum. Mereka tetap dalam keadaan ihram sampai hari iedul Adha (sampai bertahahul dari manasik haji).

Hari Tarwiyah dan Hari Arafah (8 dan 9 Dzulhijjah)

Jika telah datang hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) maka bagi yang tamattu’ berihram untuk haji, sedangkan yang Qiran dan Ifraad mereka sudah dalam keadaan ihram sejak sebelumnya. Hendaknya mereka berihram dari tempat mereka tinggal/singgah. Lalu keluar menuju Mina, afdholnya sebelum tergelincir matahari lalu shalat dhuhur dan yang lainnya dan bermabit disana sampai subuh.

Setelah matahari terbit (di hari ke-9 Dzulhijjah) maka berangkat dari Mina menuju Arafah. Seluruh padang Arafah adalah tempat wukuf. Jika telah tergelincir matahari maka shalat Dhuhur dan Ashar dengan cara qashar dan jama’ taqdim dengan sekali adzan dan dua iqamat. Setelah selesai shalat maka hendaknya menyibukkan diri dengan berdo’a dengan merendahkan diri kepada Allah. Hendaknya bagi seorang yang berhaji bersungguh-sungguh dalam berdo’a, merendahkan diri dan bertaubat kepada Allah di waktu dan tempat yang agung ini. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a di hari Arafah dan sebaik-baik yang saya ucapkan dan para nabi sebelumku disaat itu adalah laa ilaha illallah wahdah, laa syariikalah lahu mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’in qadiir” (HR. Tirmidzi). Wukuf di Arafah adalah rukun haji, bahkan dia rukun yang paling utama, Rasulullah bersabda, Haji adalah Arafah (Dikeluarkan oleh Lima).

Mabit di Muzdalifah dan Amalan di Hari Iedul Adha (10 Dzulhijjah)

Jika telah terbenam matahari di hari Arafah maka hendaknya bertolak ke Muzdalifah dengan tenang. Allah berfirman,

ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah: 199)

Jika telah sampai Muzdalifah maka shalat Magrib dan Isya’ dengan mengqashar rekaat isya’ dengan satu adzan dan dua iqamat. Lalu mabit di Muzdalifah sampai waktu subuh. Mabit di Muzdalifah adalah salah satu di antara kewajiban haji.  Jika telah terbit fajar maka shalat subuh di awal waktu lalu bertolak ke Mina sebelum matahari terbit. Bagi wanita dan orang-orang yang memiliki udzur boleh meninggalkan mabit di Muzdalifah.  Setelah lewat tengah malam mereka diizinkan untuk menuju jamarat untuk melempar jumrah.

Diperbolehkan mengambil kerikil untuk melempar jumrah saat perjalanan menuju mina, boleh juga mengambil saat di Mudzalifah atau di Mina. Jika sampai Mina maka langsung menuju Jumrah Aqabah (jumrah terakhir, yang dekat dengan Makah) dan melempar 7 kerikil. Setelah melempar jumrah Aqabah maka yang paling afdhol adalah menyembelih hadyu, hal tersebut jika wajib baginya hadyu Tamattu’ atau Qiran (bagi yang Ifraad tidak wajib menyembelih hadyu). Setelah itu mencukur atau memendekkan rambut, dan mencukur lebih afdhol. Adapun bagi wanita cukup memendekkan saja.

Lalu menuju Mekah dan mengerjakan thawaf Ifadhah. Lalu sa’I jika ia Tamattuk atau jika ia belum sa’I bagi yang Qiran maupun Ifraad. Menertipkan hal yang empat ini (Melempar jumrah Aqabah, menyembelih hadyu, bercukur/memendekkan rambut, thawaf dan sa’i) adalah sunnah, karena hal itu yang dikerjakan Rasulullah (HR. Muslim no. 1305). Namun jika tidak urut tidak mengapa karena Rasulullah saat ditanya tentang urutan amalan-amalan beliau bersabda, “Kerjakan dan tidak ada masalah!” (HR. Bukhari no. 83 dan Muslim no. 1305).

Tahallul awal: Telah melakukan dua di antara amalan yang tiga (melempar jumrah, bercukur/memendekkan rambut, dan thawaf ifadhah). Tahallul Tsani (tahallul sempurna): jika telah melakukan tiga amalan tersebut. Jika telah bertahalul awal maka sudah halal apa yang menjadi larangan ihram kecuali hubungan suami istri. Jika telah tahallul tsani maka sempurna tahallul, dan telah halal semua larangan ihram.

Amalan di Hari Tasyrik (11,12, 13 Dzulhijjah)

Setelah selesai manasik haji lalu kembali ke Mina dan bermabit disana, hal ini adalah wajib (HR. Ibnu Majah no. 3069). Bermabit selama tiga hari (tanggal 11,12, dan 13), boleh juga hanya dua hari (tanggal 11 dan 12) berdasar QS Al Baqarah: 203. Selama di Mina shalat dengan qashar tanpa jama’ untuk tiap-tiap shalat. Melempar tiga jumrah tiap hari setelah tergelincir matahari (HR. Muslim 1299/314, 5/52). Harus urut dalam melempar jumrah, yaitu Jumratul Ula (yang pertama, yang terdekat masjid Khaif) lalu Jumrah Wusta, lalu Kubra (Jumrah Aqabah). Jika tidak mampu melempar maka boleh diwakilkan.

Jika seorang yang berhaji ingin bersafar dari Mekah dan kembali ke tempat asalnya atau yang lainnya maka hendaknya melakukan thawaf Wada’ (tawaf perpisahan). Hendaknya menjadikan thawaf Wada’ di akhir urusannya di Mekah. Berdasarkan perkataan Ibnu Abbas, Manusia diperintahkan menjadikan akhir urusannya (thawaf) di baitullah, kecuali bagi wanita haid, maka diberi keringanan (untuk tidak thawaf) (HR. Bukhari no. 1755 dan Muslim no. 1327).

Demikianlah uraian singkat tentang manasik haji. Hendaknya seorang muslim bersungguh-sungguh untuk meniru tata cara manasik yang telah diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, karena beliau pernah bersabda, Dan hendaknya kalian mengambil dariku manasik kalian (HR. Muslim 1297).

  1. Tata Cara Umrah

Syaikh Muhammad Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan secara ringkas tata cara umrah sebagai berikut:

Barangsiapa berihram untuk umrah maka disyariatkan untuk:

[Pertama: Mandi]

Melepas pakaiannya lalu mandi sebagaimana mandi janabah. Lalu memakai wewangian, diberikan di kepala, jenggot dan tidak mengapa adanya sisa-sisa minyak wangi tersebut setelah ihram. Mandi untuk ihram adalah sunnah baik untuk laki-laki maupun perempuan, bahkan untuk wanita yang haid dan nifas. Setelah mandi dan memakai wewangian lalu memakai pakaian ihram, lalu shalat fardhu jika saat itu bertepatan waktu shalat fardhu kecuali bagi wanita haid dan nifas. Jika tidak bertepatan waktu shalat fardhu maka shalat dua rekaat, diniatkan shalat sunnah wudhu’.

[Kedua: Ihram dari Miqat]

Jika telah selesai shalat maka meniatkan (masuk) ihram,

لَبَّيْكَ عُمْرَةً

Aku memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah umrah.”

dan mengucapkan talbiah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك

Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu. Aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”

Bagi laki-laki disunnahkan mengangkat suara saat membacanya, adapun perempuan mengucapkannya sekedar didengar yang disampingnya. Hendaknya seorang yang ihram senantiasa memperbanyak membaca talbiah, khususnya pada saat pergantian aktifitas dan waktu seperti saat naik tempat yang tinggi maupun turun, menjelang malam maupun menjelang siang. Dan setelahnya hendaknya memohon keridhoan dan JannahNya, serta berlindung dengan rahmatNya dari Neraka. Talbiah untuk umrah disyariatkan saat mulai ihram sampai thowaf sedang untuk haji saat mulai ihram sampai melempar jumrah Aqabah di hari Ied.

[Ketiga: Thawaf]

Jika masuk masjidil Haram maka dahulukan kaki kanan dan membaca (doa masuk masjid):

بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Dengan nama Allah dan semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmatMu untukku. Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajahNya Yang Mulia dan kekuasaanNya yang abadi, dari setan yang terkutuk”

Lalu menuju Hajar Aswad untuk memulai thawaf darinya. Mengusapnya dengan tangan kanan dan menciumnya, jika tidak mudah untuk mengusapnya maka menghadapnya dan berisyarat padanya dengan tangan, dan tidak perlu mencium (tanganya). Dan lebih utama tidak berdesakan hingga menganggu yang lainnya. Dan membaca saat mengusap Hajar Aswad:

بسم الله الله الاكبر , اللهم ايمانا بك و تصديقا بكتابك و وفاء بعهدك و اتباعا لسنة نبيك محمد صلى الله عليه و سلم

Lalu thawaf dengan menjadikan Ka’bah disisi kiri. Jika sampai Rukun Yamani maka mengusapnya tanpa menciumnya, jika tidak mudah maka tidak perlu berdesakkan untuk melakukannya. Dan membaca antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم اني اسالك العفو و العافية في الدنيا و الاخرة

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Al Baqarah: 200). Ya Allah Aku memohon ampun dan keselamatan di dunia dan akhirat

Setiap melewati Hajar Aswad bertakbir. Selama thawaf membaca apa yang disukai baik dzikir, do’a maupun bacaan Al Qur’an. Dan sesungguhnya dijadikan thawaf, sa’I antara Shofa dan Marwa, melempar jumrah adalah untuk menegakkan dzikir pada Allah.

Dan pada thawaf ini, maka disyariatkan bagi laki-laki dua hal:

Pertama: al Idhthibaa’ mulai dari awal sampai selesai thawaf. Sifat dari Idhthibaa’ adalah dengan menjadikan tegah seledang pada ketiak tangan kanan dan ujungnya pada pundak kiri. Jika selesai thawaf maka selendang dikembalikan seperti saat semula sebelum thawaf. Idhthibaa’ ini hanya saat thawaf saja.

Kedua: roml (jalan cepat) pada tiga putaran yang awal. Roml yaitu mempercepat jalan tetapi dengan memendekkan langkah. Sedang pada empat putaran yang lainnya jalan seperti biasa.

Jika selesai tujuh putaran thawaf maka menuju maqam Ibrahim sambil membaca:

وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat.” (Qs. Al Baqarah: 125)

Kemudian shalat dibelakangnya dua rekaat yang ringan, ayat pertama membaca surat Al Kafiruun dan ayat kedua membaca Al Ikhlash. Jika selesai shalat kembali ke hajar aswad dan menciumnya jika hal itu mudah.

[Keempat: Sa’I]

Lalu keluar menuju tempat sa’I, jika sudah dekat Shofa maka membaca:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللّهِ

Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah.” (QS. Al Baqarah: 158)

Lalu terus naik ke Shofa sampai melihat Ka’bah lalu menghadapnya (Ka’bah) dan mengangkat kedua tangan lalu memuji Allah dan berdo’a dengan do’a yang diinginkan. Di antara do’a yang dibaca Nabi saat itu adalah:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Dialah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian.” Membacanya tiga kali dan berdo’a di antaranya.

Kemudian turun dari Shofa menuju Marwa dengan jalan, jika sampai tanda hijau maka lari, lari sekencangnya sesuai yang dimampui. Telah diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau shalallahu ‘alaih wassallam bersa’I sampai kelihatan kedua lututnya karena kencangya sa’I sampai sarungnya tersingkap. Jika sampai alamat hijau kedua maka jalan biasa sampai bukit Marwa dan mendakinya lalu menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan dan membaca seperti yang dibaca di Shofa. Lalu turun dari Marwa menuju ke Shofa, jalan di tempat yang disyariatkan untuk jalan dan lari ditempat yang disyariatkan lari. Jika sampai Shofa mengerjakan seperti yang telah dikerjakan sebelumnya, demikian juga di Marwah. Sampai sempurna tujuh putaran, pergi dari Shofa ke Marwa dihitung sekali putaran, dan kembalinya juga dihitung sebagai putaran yang lain. Dan membaca saat sa’I ini apa yang diinginkan baik dzikir, do’a maupun bacaan Al Qur’an.

[Kelima: Mencukur Rambut]

Jika selesai tujuh putaran maka mencukur rambutnya jika lali-laki dan jika perempuan memendekkan rambut seruas jari pada tiap gelungan. Jika cukur diwajibkan menyeluruh, demikian juga jika memendekkan rambut juga rata seluruh bagian kepala. Dan cukur lebih afdhol dari memendekkan kecuali jika waktu haji sudah dekat sehingga rambut tidak sempat tumbuh maka yang afdhol adalah memendekkan agar nantinya dapat cukur saat haji. Dengan demikian sempurna pelaksanaan Umrah.

 

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 24/11/2016.

Info detail dan dokumentasi kajian KUI: http://ukhuwahislamiah.com/kui/

Join channel Telegram: telegram.me/ukhuwahislamiahcom

IG: ukhuwahislamiahcom

FB: https://www.facebook.com/ukhuwahislamiahcom