KUI #06: Fikih Ringkas Sholat

0
106
1. Definisi, hukum dan urgensi shalat
Secara bahasa shalat artinya “do’a”. Sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. at Taubah: 103)
Shalat disebut do’a karena didalamnya terkandung do’a, baik yang berupa do’a ibadah, pujian, maupun do’a permintaan. Adapun secara istilah, para ulama mengatakan definisi shalat adalah: Perkataan dan perbuatan tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Hukum shalat adalah wajib berdasar Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ kaum muslimin. Banyak sekali ayat dalam Al Qur’an yang menunjukkan akan hal tersebut. Salah satunya firman Allah ta’ala,
الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. an Nisa: 103).
Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang paling utama setelah syahadat. Di dalam Shalat berbagai macam ibadah terkumpul seperti, dzikrullah, bacaan Al Qur’an, berdiri, rukuk, sujud di hadapan Allah, berdo’a padaNya, tasbih, takbir dan lainnya. Shalat merupakan induk ibadah badaniyah. Tatkala Allah hendak menurunkan syariat shalat Dia memi’rajkan RasulNya ke langit (HR. Bukhari no. 349 dan Muslim no. 162), hal ini berbeda dengan syariat-syariat yang lain. Jika seseorang telah mencapai usia baligh dan berakal, kemudian datang waktu shalat, maka wajib baginya menunaikan shalat, kecuali wanita yang sedang haid atau nifas. Barangsiapa melewatkan shalat karena ketiduran atau lupa atau yang semisalnya maka hendaknya menunaikannya saat bangun atau saat sadar. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa terlewatkan shalat karena tidur atau lupa maka hendaknya shalat saat mengingatnya.” (HR. Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684)
Shalat adalah tiang agama, dan shalat merupakan pembeda antara muslim dan kafir. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat karena menyepelekannya atau karena malas maka dihukumi kafir (Lihat penjelasan panjang lebarnya di Syarhul Mumti’ 2/26-37). Rasulullah bersabda, “Pembeda antara seorang (muslim) dan syirik dan kufur adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim no. 82).

2. Syarat Sah Shalat
Sebagai salah satu bentuk ibadah, shalat memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syarat sah shalat ada sembilah:
a) Islam. Tidak diterima shalat orang kafir.
b) Tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk). Jika seorang anak sudah mumayyiz maka sah shalatnya meskipun belum baligh.
c) Berakal. Tidak sah orang yang gila atau hilang akalnya.
d) Mengangkat hadas yaitu dengan wudhu atau yang menggantinya (mandi besar atau tayamum)
e) Menghilangkan najis baik pada badan, pakaian maupun tempat yang dipakai untuk shalat.
f) Menutup aurat. Hal ini berdasar ijma’ para ulama. Allah juga memerintahkan untuk memakai perhiasan (pakaian) ketika hendak memasuki masjid (maksudnya shalat),
يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid.” (QS. al A’raf: 31).
g) Masuk waktu. Allah telah mewajibkan shalat pada waktunya masing-masing. Allah ta’ala berfirman,
الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. an Nisa: 103)
h) Menghadap kiblat yaitu Ka’bah di Masjidil Haram. Jika berada di dekat Ka’bah dan bisa melihatnya maka harus tepat menghadapnya. Jika jauh maka yang paling penting adalah menghadap arahnya. Allah berfirman,
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ
“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah: 144)

i) Niat. Tempatnya niat ada di hati, tidak perlu dilafadzkan. Bahkan melafadzkan niat termasuk perkara yang diada-adakan dalam agama karena tidak dicontohkan Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam dan tidak pula dicontohkan para sahabat. Maka hendaknya berniat dalam hatinya sesuai dengan apa yang ingin dikerjakan misal ashar, dhuhur dan lainnya. Berdasar sabda Rasulullah, “Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya “ (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

 

3. Rukun, Wajib dan Sunnah dalam Shalat
Sebagaimana kita ketahui bahwa shalat adalah ibadah yang terkandung didalamnya berbagai macam bacaan/ucapan maupun perbuatan. Ucapan maupun perbuatan dalam shalat dapat digolongkan menjadi tiga: rukun, wajib, dan sunnah.
Rukun: Jika ditinggalkan secara sengaja maupun tidak maka batal shalatnya atau batal rekaat yang terlewat rukun tersebut. Jika ada rukun yang tertinggal harus diulangi.
Wajib: Jika menginggalkannya secara sengaja maka batal shalatnya. Jika tidak sengaja maka tidak batal, namun harus menggantinya dengan sujud sahwi.

Sunnah: Tidak batal shalat jika ditinggalkan baik secara sengaja maupun tidak. Namun, mengurangi kesempurnaan shalat. Rasulullah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat” (HR. Muslim 602/152). Yaitu shalat secara sempurna baik rukun, wajib maupun sunnah-sunnahnya.

 

Rukun Shalat Ada Empat Belas:
a) Berdiri jika mampu.
b) Takbiratul Ihram.
c) Membaca Surat Al Fatihah.
d) Rukuk dalam tiap rekaat.
e) Bangkit dari rukuk.
f) I’tidal (berdiri tegak).
g) Sujud.
h) Bangkit dari sujud dan duduk antara dua sujud
Berdasar perkataan ‘Aisyah, ”Jika Rasulullah mengangkat kepalanya dari sujud maka tidak sujud (kembali) sampai duduk dengan sempurna.” (HR. Muslim no.498).
i) Tuma’ninah,
j) Tasyahud akhir,
k) Duduk tasyahud akhir,
l) Shalawat atas Nabi pada tasyahud akhir
m) Tertib antara rukun-rukun tersebut
n) Salam
 
Wajib-Wajib Shalat Ada Delapan:
a) Seluruh takbir, kecuali takbiratul ihram
b) Tasmii’, yaitu membaca “sami’allahu liman hamidah”. wajib dibaca oleh imam ataupun orang yang shalat sendirin, adapun makmum tidak membacanya.
c) Tahmid, yaitu membaca “rabbana walakal hamd”. Wajib dibaca oleh imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian.
d) Bacaan rukuk, yaitu seperti bacaan “subhaana rabbiyal ‘adzim”. Yang wajib sekali, disunnahkan membacanya tiga kali. Jika lebih maka tidak mengapa.
e) Bacaan sujud, yaitu seperti bacaan “subhaana rabbiyal ‘a’la”. Yang wajib sekali, disunnahkan membacanya tiga kali.
f) Bacaan duduk antara dua sujud, yaitu seperti bacaan “rabbighfirliy..”. Yang wajib sekali, disunnahkan membacanya tiga kali.
g) Tasyahud awal, yaitu membaca bacaan-bacaan tasyahud yang telah diriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam.

h) Duduk pada tasyahud awal

 

Sunnah-Sunnah Dalam Shalat

Sunnah shalat ada dua jenis, ucapan maupun perbuatan. Pertama, sunnah berupa perkataan, bentuknya banyak sekali. Di antaranya: membaca do’a iftiftah, ta’awudz, membaca basmalah, membaca surat setelah Al Fatihah, membaca bacaan rukuk, sujud, do’a antara dua sujud lebih dari sekali, do’a setelah tasyahud akhir dan lainnya. Kedua, sunnah berupa perbuatan, bentuknya juga baca. Di antaranya: mengangkat tangan saat takbiratul ihram serta ketika akan dan setelah rukuk, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan meletakkannya di atas dada saat berdiri, melihat tempat sujud, meletakkan tangan di atas lutut saat rukuk, menjauhkan antara perut dan paha, paha dan betis saat sujud, dan lainnya.

 

4. Tata cara shalat
Setelah membahas tentang syarat, rukun, wajib dan sunnah-sunnah shalat kita akan membahas tata cara shalat. Rasulullah bersabda,
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
“Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat.” (HR. Bukhari no 361).
Shalat yang sempurna adalah shalat secara sempurna baik rukun, wajib maupun sunnah-sunnahnya. Berikut secara ringkas tata cara shalat:
a. Rasulullah jika berdiri untuk shalat maka ia menghadap ke kiblat, kemudian mengangkat kedua tanganya dan mengucapkan “Allahu Akbar”
b. Kemudian memegang tangan kiri dengan tangan kanan dan meletakkannya di atas dada.
c. Membaca do’a iftitah. Boleh membaca salah satu dari berbagai macam do’a iftitah yang diriwayatkan dari Nabi. Di antaranya :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau” (HR. Abu Dawud)
Juga:
اَللَّـهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْـرِبِ, اَللَّهُـمَّ نَقِّنِي مِن خَطَايَاي كمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ, اَللَّهمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَد
“Ya Allah, jauhkanlah aku dari segala dosa-dosaku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku seperti dibersihkannya kain putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari segala dosa-dosaku dengan air, es dan embun”. ( HR. Bukhari no. 711 dan Muslim no. 598)
d. Membaca ta’awudz dan basmalah
e. Membaca surat Al Fatihah dan mengucapkan “Amiin” setelahnya.
f. Membaca surat-surat dalam Al Qur’an. Kadang Rasulullah membaca surat-surat yang panjang, kadang surat-surat pendek. Secara umum bacaan surat pada shalat subuh lebih panjang dari shalat yang lainnya. Rasulullah mengeraskan bacaan pada shalat subuh, dan dua rekaat pertama shalat magrib dan isya’.
g. Mengangkat tangan, bertakbir, kemudian rukuk. Merenggangkan jari-jemari tangan dan menggenggam kedua lutut serta meratakan punggung dan kepala. Lalu membaca “subhaana rabbiyal adzim” (HR. Muslim no. 772) atau yang semisalnya dari bacaan-bacaan rukuk.
h. Bangkit dari rukuk sambil mengucapkan “sami’allahu liman hamidah” (HR. Bukhari no. 379 dan Muslim no. 411) dan mengangkat kedua tangan.
i. Jika telah berdiri tegak mengucapkan “rabbana wa lakal hamd” (HR. Bukhari no. 379 dan Muslim no. 411). Kemudian memanjangkan I’tidal (berdiri). Tentang masalah bagaimana posisi tangan saat berdiri I’tidal ada khilaf dikalangan ulama, apakah ia diletakkan di dada seperti sebelum rukuk atau dibiarkan lurus ke bawah? Sebagian ulama (di antaranya Imam Ahmad) mengatakan terserah, boleh diletakkan di dada boleh dibiarkan lurus ke bawah karena tidak ada nash yang jelas dalam masalah ini. Syaikh Utsaimin merajihkan pendapat bahwa tangan diletakkan di dada, karena itu yang lebih sesuai keumuman hadist Sahal bin Sa’ad (HR. Bukhari no. 430) tetang meletakkan tangan di dada dalam shalat (Syarhul Mumti’, 2/104)
j. Bertakbir tanpa mengangkat tangan dan sujud. Sujud dengan meletakkan tujuh anggota sujud (yaitu kening serta hidung, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung kedua telapak kaki) di atas permukaan bumi. Menghadapkan jari-jemari tangan dan kaki ke kiblat. Menjauhkan antara perut dan paha, paha dan betis saat sujud. Lalu membaca “subhaana rabiyal a’la” atau yang semisalnya dari bacaan-bacaan sujud. Lutut atau tangan dulu menyentuh tanah? Ada khilaf di antara para ulama dalam masalah ini. Ibnu Qoyim menguatkan pendapat bahwa lutut didahulukan dari tangan, karena yang lebih dekat ke tanah itu yang didahulukan baru yang di atasnya (Mukhtashor Zaad Ma’ad, hal.19). Ini juga yang dikerjakan Umar bin Khatab, dan merupakan pendapat tiga imam (Abu Hanifah, Syafi’I dan Ahmad). Dan lebih sesuai dengan hadist larangan menyerupai cara turunnya unta (HR. Ahmad 2/381, Abu Dawud no. 840). Namun jika sulit (misal karena gemuk) tidak mengapa mendahulukan tangan. (lihat Syarhul Mumti’, 2/110-111).
k. Bangkit dari sujud sambil bertakbir. Kemudian melentangkan telapak kaki kiri dan duduk di atasnya serta menegakkan telapak kaki kanan –ini disebut duduk iftirasy-. Dilanjutkan dengan membaca “rabbighfirliy warhamniy wajburniy, wahdiniy warzuqniy” (HR. Abu Dawud no. 850 dan Ibnu Majah no. 898. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/148) atau yang semisalnya dari bacaan duduk antara sujud.
l. Bertakbir dan sujud sebagaimana sujud sebelumnya.
m. Bangkit, mengangkat kepala sambil bertakbir sambil bertumpu pada kedua paha dan lutut.
n. Setelah berdiri sempurna, kemudian membaca al fatihan dan dikerjakan sebagaiman rekaat pertama.
o. Duduk untuk tasyahud awal seperti duduk antara dua sujud. Meletakkan kedua telapak tangan di atas paha. Meletakkan ibu jari kanan pada jari tengah sehingga membentuk seperti cincin dan berisyarat dengan jari telunjuk. Tentang menggerakakan jari telunjuk terjadi khilaf di antara para Ulama. Sebagian berpendapat digerakkan, di antara yang berpendapat demikian Ibnu Qoyiim (Mukhtashor Zaad Ma’ad, hal.21) berdasar hadist riwayat Za’idah Ibnu Qudamah. Sebagian mendha’ifkan hadist ini, sehingga berpandangan tidak digerakkan. Sebagian berpendapat digerakkan pada saat-saat tertentu (yaitu pada kalimat yang menunjukkan ketinggian Allah), di antara yang merajihkan hal ini adalah Syaikh Utsaimin (Syarhul Mumti’, 2/146)
Lalu membaca bacaan tasyahud, salah satunya sebagaimana riwayat Ibnu Mas’ud (HR. Bukhari no. 6327 dan Muslim no. 402), bacaannya sebagai berikut:
التَحِيَّاتُ للهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَيِّبَاتُ, السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَالِحِيْنَ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
p. Bangkit sambil bertakbir dan mengerjakan rekaat ketiga dan keempat. Serta meringankannya dari rekaat yang pertama dan kedua. Dalam rekaat tersebut membaca surat Al Fatihah.
q. Duduk tasyahud akhir dengan tawaruk, yaitu meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan, pantat di atas lantai/alas dengan menegakkan kaki kanan. Tawaruk hanya dikerjakan dalam tasyahud akhir pada shalat yang memiliki dua tasyahud (Syarhul Mumti’, 2/217). Apabila shalat terdiri dari dua raka’at, seperti shalat Subuh, shalat Jum’at dan shalat Ied, maka duduk iftirasy –seperti duduk antara dua sujud-.
r. Membaca bacaan tasyahud akhir, seperti tasyahud awal ditambah shalawat atas Nabi.
s. Membaca do’a agar diselamatkan dari adzab jahannam, adzab kubur, fitnah kematian dan kehidupan, dan fitnah Dajjal. Lalu membaca do’a yang diriwayatkan dari Nabi.
t. Terakhir, mengucapkan salam ke kanan, yaitu dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Memulai salam dengan posisi menghadap kiblat dan mengakhirinya pada posisi sempurna menoleh.
u. Jika selesai salam membaca istighfar tiga kali dan membaca dzikir-dzikir yang diriwayatkan dari Nabi.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 24/11/2016.
Info detail dan dokumentasi kajian KUI: http://ukhuwahislamiah.com/kui/
Join channel Telegram: telegram.me/ukhuwahislamiahcom
IG: ukhuwahislamiahcom
FB: https://www.facebook.com/ukhuwahislamiahcom