Khutbah Iedul Fitri: Jangan Kotori Lagi Jiwamu!

0
441

KHUTBAH IEDUL FITRI 1440H: JANGAN KOTORI KEMBALI JIWAMU!

Oleh: Dr. Abu Zakariya Sutrisno

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اﷲ حَقَّ تُقَاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( ال عمران : ١۰٢)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُواﷲَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اﷲَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء : ١)

أَمَّا بَعْدُ :

Jama’ah Sholat Ied rahimani warahikumullah,

Pertama-tama marilah kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmatNya. Kita bersyukur telah dapat melaksanakan ibadah sebulan penuh di bulan yang mulia, yaitu bulan Ramadhan. Semoga Allah menerima segala amal kebaikan kita di dalamnya, baik berupa puasa, qiyamul lail, qiraatil qur’an, shadaqah dan amalan yang lainnya. Tak lupa, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada panutan kita, Nabi Muhammad, shalallahu ‘alaihi wassallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikutnya sampai hari kiamat kelak.

Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar walillahilhamd

Jama’ah Sholat Ied  yang semoga dirahmati oleh Allah,

Di hari Raya yang mulia ini mungkin banyak dari kita yang memakai pakaian atau baju baru, bersih dan juga bagus. Bahkan mungkin kita juga termasuk salah satu diantaranya. Kita takut sekali baju baru dan bersih tersebut terkena kotoran. Jika kena kotoran sedikit saja langsung buru-buru dibersihkan. Namun, sadarkan kita bahwa ada hal yang lebih penting kita jaga kebersihan dan kesuciannya? Tidak lain yaitu hati dan jiwa kita. Memiliki jiwa dan hati yang bersih adalah dambaan setiap orang dan itu adalah salah satu bekal yang paling berharga nanti untuk berjumpa dengan sang Khaliq, Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ. إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy Syu’ara’: 88-89)

Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan jiwanya dan sungguh merugi orang-orang yang mengotorinya. Coba kita simak dalam surat Asy Syam, Allah bersumpah berkali-kali dari ayat 1 sampai 8 kemudian berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها . وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Di bulan Ramadhan kita telah “digembleng” oleh Allah dengan berbagai amal untuk mensucikan jiwa kita. Puasa, qiyamul lail, tilawah al Qur’an, sedekah dan amalan yang lainnya tidak lain adalah untuk membersihkan jiwa kita. Agar kita menjadi orang yang memiliki hati yang bertaqwa, hati yang bersih. Maka jangan sampai kita kotori lagi setelah Ramadhan berlalu. Jangan sampai kita rela dan membiarkan jiwa kita terkotori lagi dengan berbagai kotoran-kotoran jiwa. Ibarat orang bertani atau menaman sesuatu pasti disamping dia berusaha memupuk dan membuat tanaman itu subur ia juga berusaha menjaga agar jangan sampai tanaman itu diserang hama, dijangkiti penyakit. Hati kita juga demikian, jangan sampai dikotori dengan berbagai kotoran.

Diantara kotoran-kotoran yang dapat mengotori jiwa yaitu:

Pertama: kufur dan kesyirikan

Kotoran jiwa yang paling besar adalah kekufuruan dan kesyirikan. Kufur dan syirik tidak sekedar mengotori jiwa tetapi bahkan membuatnya mati, tidak bisa lagi membedakan kebaikan dan keburukan, tidak bisa membedakan kebenaran dan kesalahan. Jangan sampai kita kotori jiwa kita dengan kekufuran pada Allah, atau kufur terhadap nikmat Allah.

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

“Mereka mengetahui ni’mat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS An Nahl: 83)

Allah lah yang telah menciptakan kita, memberi kita berbagai nikmat maka mari kita beriman kepadaNya, bersyukur kepadaNya dan hanya beribadah kepadaNya. Jangan sampai kita kufur kepadaNya, kufur atas nikmatNya atau bahkan malah berbuat syirik, yaitu menduakan atau mempersekutukan Allah dalam ibadah. Syirik adalah sebesar-besar dosa yang mana tidak akan diampuni dan memyebabkan kekal di neraka kalau tidak bertaubat.

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS Al Maidah: 72)

Kedua: kesombongan

Jama’ah rahimakumullah, kotoran yang kedua yang kita harus waspadai mengotori jiwa kita adalah kesombongan. Sombong adalah pangkal keburukan. Sombonglah yang menyebabkan iblis enggan mentaati peritah Allah dan akhirnya diusir dari neraka. Sombonglah yang menyebabkan Fir’aun, Qorun, kaum Ad, Tsamud dan yang semisalnya kufur pada Allah. Fir’aun sombong dengan kekuasaannya, Qorun sombong dengan kekayaannya, kaum Ad sombong dengan kekuatannya, kaum Tsamud sombong dengan kecerdikannya memahat dan seterusnya. Sombong telah mengotori bahkan mematikan hati mereka sehingga tidak beriman pada Allah, bahkan malah bersikap angkuh.

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحاً إ

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong.” (QS Isra’: 37)

Jama’ah rahimakumullah, jangan sampai kita menjadi pribadi yang sombong. Bahkan hendaknya sebaliknya, mari menjadi pribadi yang bersahaja. Rendah diri di hadapan Allah dan rendah hati di hadapan sesama manusia.

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS Al Furqan: 63)

Jama’ah rahimakumullah, hari raya adalah momen untuk agungkan Allah. Bukan momen untuk pamer dan sombong. Sombong dengan rumah megah yang kita huni, mobil mewah yang kita naiki, pakaian indah yang kita miliki, badan gagah, wajah yang cantik yang tampan yg kita punyai, atau jabatan/kerjaan yang mentereng yang kita punyai atau anak-anak yang sukses yang kita miliki. Itu semua adalah karunia Allah, maka mari kita bersyukur jangan sampai kita malah sombong dengannya!

Kita pantas kita sombong! Begitu banyak kekurangan, kesalahan dan keburukan yang kita miliki. Kita masih dihormati di dunia ini tidak lain karena Allah menutupi keburukan dan aib kita.  Kalaulah Allah tidak menutupi aib dan dosa kita pasti kita sangat terhina di dunia ini.

Ketiga: maksiat dan dosa

Jamaa’ah rahimakumullah, kotoran hati yang ketiga adalah maksiat dan dosa. Jangan kotori jiwa kita dengan kemasiatan dan dosa apapun itu bentuknya, baik yang besar atau yang kecil. Jauhi zina, judi, sihir, minum khamr, dusta dan dosa-dosa yang lainnya. Jangan sekali-kali kita meremehkan dosa dan maksiat. Maksiat dan dosa adalah sumber kesengsaran dunia dan akhirat. Dia juga yang menyebabkan musibah menimpa kita.

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Syura: 30)

Salah satu dosa yang mungkin sering diremehkan di hari Raya ini adalah berkhalwat dan bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Padahal Rasulullah bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni, dishahihkan Albani)

Keempat: hasad

Kotoran jiwa yang berikutnya adalah hasad. Masing-masing telah Allah tetapkan taqdirnya, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Allah ta’ala berfirman,

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an Nisa’: 32)

Di hari raya ini mari kita jaga hati kita, jaga pandangan kita, jaga pendengaran kita dan jaga lisan kita. Mungkin kita akan banyak bertemu dan juga melihat beberapa saudara kita yang Allah lebihkan dalam harta atau yang lainnya. Hendaknya kita turut bahagia, jangan malah hasad dan iri hati. Jangan sampai hasad menggerogoti kebaikan-kebaikan kita.

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Jauhilah oleh kalian hasad karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah Kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 

Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar

 

Kaum Muslimin, Bapak-bapak dan Ibu-ibu Jama’ah ibadah Sholat Ied yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala

 

Kelima: permusuhan

Hal kelima yang dapat mengotori hati kita adalah permusuhan. Setiap muslim adalah bersaudara, siapapun dia. Allah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al Hujurat: 10)

Jangan sampai kita bermusuhan hanya karena masalah politik, perbedaan ormas, perbedaan karakter atau bahkan hanya gara-gara perbedaan pendapat. Hendaknya kita lapang dada dalam masalah-masalah khilafiyah. Apalagi khilafiyah tersebut hanya dalam hal furu’iyah, bukan hal yang prinsip dalam masalah ibadah. Misal dalam sholat iedul berapa jumlah takbir tambahan yang disunnahkan? Apakah 7 takbir termasuk takbiratul ihram atau tidak. Misal juga seperti jumlah khutbah Ied apakah sekali atau dua kali (diselingi duduk seperti khutbah Jum’at). Ini semua hanya masalah afdholiyah (keutamaan) saja.

 

Keenam: pemikiran menyimpang (syubhat)

Diantara hal yang dapat mengotori jiwa adalah pemikiran-pemikiran yang menyimpang atau syubhat. Orang yang hati dan pikirannya telah terkotori dengan hal-hal yang menyimpang maka susah membedakan kebenaran dan kesalahan. Ikuti yang jelas-jelas dari Allah dan RasulNya. Jangan mengikuti aliran yang menyimpang, baik ekstrim kanan (yang berlebihan dalam agama) seperti orang-orang khawarij atau ekstrim kiri (yang menyepelekan agama) seperti orang liberal.  Mari beragama secara pertengahan (wasath). Allah berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia. “ (QS. Al Baqarah: 143)

Pertengahan berarti tidak berlebihan tetapi juga tidak bermudah-mudahan dalam beragama.

Demikian beberapa hal yang dapat mengotori jiwa, jangan sampai kita kotori jiwa kembali dengannya setelah kita bersihkan di bulan Ramadhan yang baru saja kita selesai darinya. Masih banyak kotoran-kotaran jiwab yang lainnya semoga kita bisa meninggalkannya semuanya.

Kiranya cukup sekian yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan berbahagia ini. Semoga kita senantiasa termasuk orang-orang yang memiliki jiwa yang bersih. Amien.

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ