Keutamaan dan Amalan di 10 Awal Bulan Dzulhijjah

0
116

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

 

Keutamaan 10 Awal Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu diantara 4 bulan yang dimuliakan dalam islam. Dari Abu Bakroh radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Tahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu (terdiri dari) dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan yang disucikan. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram dan (satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban. [1]

Dengan hikmakNya Allah melebihkan zaman atau waktu tertentu untuk beramal shalih, di mana amalan di dalamnya dilipatkan ganjarannya. Salah satunya adalah 10 awal bulan Dzulhijjah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَيَالٍ عَشْر . وَالْفَجْرِ

Demi fajar dan demi malam yang sepuluh. (Al-Fajr: 1-2)

Allah telah bersumpah dalam ayat di atas dengan malam yang sepuluh. Malam yang sepuluh dalam ayat diatas adalah di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh kebanyakan ulama tafsir.  Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما من أيامٍ العملُ الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام، يعني: أيام العشر. قالوا: يا رسولَ الله، ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء

Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah). Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya: “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah? Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak juga jihad di jalan Allah kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun. [2]

Lalu, manakah yang lebih afdhal,  sepuluh terakhir di bulan Ramadhan atau sepuluh awal bulan Dzulhijjah? Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata “Jika dilihat pada malamnya,   maka   sepuluh   terakhir bulan Ramadhan lebih utama dan jika dilihat waktu siangnya, maka sepuluh awal bulan Dzulhijjah lebih utama” [3]

Amalan di 10 Awal Bulan Dzulhijah

1.     Haji

Haji adalah rukun Islam yang diwajibkan sekali seumur hidup. Di bulan Dzulhijjah manusia dari seluruh penjuru dunia berkumpul untuk menulaikan ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah . (Al Imran: 96)

 

Ibadah haji memiliki ganjaran yang begitu besar karena dia adalah penyempurna dari rukun Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Umrah yang satu ke umrah yang lainnya merupakan kaffarat (penghapus dosa-dosa) diantara keduanya, sedang haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali Syurga [4].

 

2.     Takbir dan Dzikir

Memperbanyak takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan (QS. Al Hajj: 28)

 

Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma keduanya biasa keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, mereka berdua bertakbir, maka orang-orang pun ikut berakbir sebagaimana takbir mereka berdua [5]. Disyariatkan pada bulan Dzulhijjah dua macam takbir: Mutlaq dan Muqayyad. Takbir muthlaq yaitu pada setiap saat, pada saat siang ataupun malam dan dibaca dimanapun: di jalan, di pasar, dirumah dan lainnya. Takbir mutlaq disyariatkan mulai awal bulan Dzulhijjah sampai tanggal 13. Adapun takbir muqayyad adalah takbir yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu [6] sejak setelah subuh di hari Arafah sampai setelah Ashar tanggal 13 (akhir hari Tasyrik).

 

3.     Puasa

Berpuasa pada hari-hari tersebut atau sebagiannya, terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Sebagaiamana terdapat dalam hadits,“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyuro’ dan (juga berpuasa) sembilan hari di bulan Dzulhijjah serta tiga hari di setiap bulannya”[7]. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,“(Puasa Arafah) menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” [8]

 

4.     Qurban

Memotong hewan qurban (Udhiyah) bagi yang mampu pada hari raya Qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Sebagaiaman firman Allah Shubhaanahu wa ta’ala ,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah (QS. Al Kautsar : 2)

 

Berkata sebahagian ahli tafsir yang dimaksud dengan berqurban dalam ayat ini adalah menyembelih udhiyah (hewan kurban) yang dilakukan sesudah shalat ‘Ied [9]. Untuk itu bagi yang mampu berkurban maka hendaknya berkurban, agar tidak terkena ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

 

من كان له سعةُ و لم يُضَحِّ فلا يَقربنَّ مُصلا نا

 

Barangsiapa memiliki keleluasaan (rezeki) lalu dia tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat sholat kita.[10]

 

Bagi orang yang berniat untuk berqurban hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sampai  dia  berqurban,  diriwayatkan dari Umu Salamah, Rasulullah  bersabda,“Jika kalian telah melihat awal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian berniat untuk menyembelih hewan qurban maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya”. [11]

 

5.     Sholat Ied

Pada tanggal 10 Dzulhijjah kaum melaksanakan shalat `Idul Adha dan lalu dilanjutkan dengan khutbah. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Hari merupakan hari yang paling agung di sisi Allah, sebagaimana sabda Rasulullah :

أَعْظَمُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ اْلقِرِّ.

Seutama-utama hari di sisi Allah ialah hari berkurban kemudian hari berikutnya [12].

Bulan Dzulhijjah adalah musim kebaikan. Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-harinya dengan penuh semangat untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Melaksanakan segala kewajiban, menjauhi segala larangaNya, memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan ini, dan jangan sampai terlewatkan atau bahkan terggelam dalam hal sia-sia/maksiat.

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosulullah serta keluarga dan sahabatnya.

Selesai ditulis di Riyadh, di ambang pintu Dzulhijjah,  29 Dzulqa’dah 1431 H (6 Nov 2010). Direvisi 28 Dzulqa’dah 1434 (4 Oktober 2013).

Abu Zakariya Sutrisno

Artikel: www.ukhuwahislamiah.com

Notes:

[1].HR. Bukhari (3197) dan Muslim (1679)

[2].HR Bukhari (926)

[3].Lihat Zaadul Ma’ad (1/57)

[4].HR. Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’I, dan Ibnu Majah. Lihat Shahiihut Targhiib (1096)

[5].HR. Bukhari

[6].Setelah membaca istighfar dan Allahumma anta as Sallam…

[7].Lihat “Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijjah dan Amalan-Amalan yang Disyari’atkan” oleh Syaikh Abdullah Jibrin rahimahullah.

[8].HR. Abu Dawud (2437), lihat Shahih Sunan Abi Dawud (2/78)

[9].HR. Muslim (1162)

[10].                    Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4:505) dan Al Mughni (13:360)

[11].                    HR. Ahmad (1/321), Ibnu Majah (3213), sanadnya hasan

[12].                    HR. Muslim

[13].                    HR. Abu Daud (II/369)(1756) dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ (1064)