Ketika Bulan Sura Datang

Oct 13, 2010 by

Ketika Bulan Sura Datang

Edisi Ke Delapanbelas

29 Dzulhijjah 1427 H

19 Januari 2007 M

Ketika Bulan Sura Datang

Sekarang kita telah berada pada penghujung tahun 1427 Hijriyah dan hanya dengan hitungan hari kita akan memasuki tahun 1428 Hijriyah. Pada awal tahun baru, atau tepatnya bulan Muharram ada sebagian masyarakat kita memiliki keyakinan keliru tentangnya. Seperti larangan melangsungkan pernikahan, karena pada bulan ini penguasa laut selatan sedang melangsungkan pernikahan dengan raja-raja mataram. Selain itu pada bulan ini, mereka juga mengadakan perayaan-perayaan yang tidak ada dasarnya dalam syariat seperti memperingati tahun baru Hijriyah, atau ritualan-ritualan lain yang berbau bid’ah atau syirik.

Memang kehidupan masyarakat kita tidak pernah lepas dari berbagai penyimpangan dalam beragama, baik dalam perbuatan maupun keyakinan. Entahlah, mungkin karena dahulu negeri ini diselimuti kabut dinamisme dan animisme, lalu kemudian berpindah kepada agama Budha dan Hindu yang meyakini banyak tuhan. Kemudian datang Islam akan tetapi dengan cahaya yang telah redup, sehingga tidak mampu menyinari kegelapan paganisme yang telah menyelimuti alam Indonesia selama berabad-abad lamanya. Maka jadilah negeri ini negeri yang marak dengan kesyirikan walaupun wayoritas penduduknya muslim.

Bagaimana Islam Melihat hal ini?

Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, ia datang demi kemaslahatan umat manusia. Ia adalah agama yang sempurna dari semua sisinya. Sebagaimana yang difirmankan Allah I :

] ????????? ?????????? ?????? ????????? ???????????? ????????? ????????? ????????? ?????? ???????????? ?????? [

Artinya:  “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah   Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu”.(QS. al-Maidah : 3).

Sebenarnya 14 abad yang lalu Islam telah mewanti-wanti umatnya terhadap bahaya kesyirikan dan telah menutup jalan yang menimbulkan akses ke sana. Betapa banyak dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang menjadi bukti akan hal ini.

Allah I berfirman menceritakan kisah Lukman ketika ia menasehati putranya :

) ??????????? ????????? ???????? ?????? ???????? ?????????? ??????????? ??????? ????? ????????? ???????? ??????? (

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (QS. Lukman :13)

Dan Allah berfirman mengungkapkan dakwah para Rasul-Nya :

) ??????????? ????? ??????????????? ???? ??????? (

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS An-Nisa : 36)

Dan Allah berfirman:

) ???????? ??????? ???????? ??????? ????????? ??? ???????? ?????? ?????????? ????????????? ???????? ?????????????? ????? ????????????? (

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar : 65)

Didalam hadits disebutkan:

???? ?????? t  ?????? : ???????? ??????? ????? ??????? :((????? ????? ???????? : ??? ????? ????? ! ??????? ???? ??????????? ????????? ????????? ????????,????? ?????????? ??? ???????? ??? ??????? ???????????? ???????????? ?????????? ))

“Dari Anas t :  Aku mendengar Rasulullah r bersabda : “Allah I berfirman : “Wahai anak Adam! Bila engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku sedangkan engkau tidak menyekutukan-Ku dengan suatu apapun, niscaya Aku mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi)

Di antara wasilah-wasilah yang dilarang oleh syariat Islam dikarenakan dapat menimbulkan akses kepada kesyirikan adalah :

1.      Mengucapkan lafadz-lafadz yang terkandung di dalamnya penyamaan antara Allah I dengan makhluk-Nya seperti perkataan  Apa yang dikehendaki Allah dan engkau atau perkataan Kalau tidak ada Allah dan engkau … dan sebagainya.

2.      Sikap berlebih-lebihan dalam mengagungkan kuburan seperti membuat bangunan di atasnya, mengapurnya atau menulis nama orang yang berada di dalam kuburan tersebut.

3.      Menjadikan kuburan sebagai masjid yang manusia shalat padanya. Ini merupakan wasilah yang akan mengantarkan kepada penyembahan kuburan tersebut.

4.      Mengerjakan shalat ketika terbit matahari dan ketika terbenamnya, karena hal ini menyerupai perbuatan orang-orang yang menyembah matahari.

5.      Melakukan perjalanan ke tempat manapun dengan tujuan ibadah kecuali di tiga masjid, masjid Al-Haram, masjid Nabawi dan masjid Al-Aqsha.

6.      Berlebih-lebihan terhadap Rasulullah r baik dalam memuji beliau atau selainnya.

7.      Berlebih-lebihan terhadap orang-orang shalih

8.      Menggambar makhluk yang bernyawa.

Semua hal ini terlarang karena dapat membawa manusia kepada kesyirikan.

Perbuatan Hamba Di Mata Islam

Dalam urusan dunia, Islam memiliki satu aturan yang cukup baku yaitu pada dasarnya semuanya boleh dikerjakan selama tidak ada dalil yang melarangnya. Bila ada dalil yang melarangnya maka dengan sendirinya kita pun harus meninggalkannya. Berbeda lagi kalau dalam urusan agama, pada asalnya terlarang kecuali ada dalil yang memerintahkannya. Bila tidak ada dalil yang memerintahkannya maka kita tidak diperbolehkan untuk mengerjakannya sekalipun itu baik menurut logika kita. Ringkasnya, diam itu lebih baik daripada berbuat tanpa dasar pijakan.

Allah I berfirman

) ??????????? ????????? ???? ???? ?????? ????? ????????? ??????????? ???????????? ????? ??????????? ????? ?????? ??????????  (

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. Al-Isra’ : 36)

Rasulullah r bersabda :

((??????? ?????? ??????????? ??????? ?????. ???????? ????????? ?????? ?????????. ??????? ?????????? ??????????????. ??????? ???????? ?????????))

“Sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang diada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat.“ (HR At-Tirmidzi)

Di sisi lain amal ibadah seseorang akan diterima bila terpenuhi dua syarat :

1.      Ikhlas karena Allah  I

Maksudnya jika dia melakukan suatu amalan hendaknya ia niatkan untuk Allah semata bukan selainnya.

Allah I berfirman :

) ????? ???????? ?????? ?????????????????? ???????????? ???? ???????? ????????? ? (

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”.(QS. Al-Bayyinah : 5)

Rasulullah r juga bersabda

(( ???????? ???????????? ???????????? ?? ???????? ??????? ??????? ??? ????? ?????? ??????? ?????????? ????? ????? ?? ????????? ???????????? ????? ????? ?? ??????????, ?? ???? ??????? ??????????  ????????? ??????????? ???? ????????? ??????????? ???????????? ????? ??? ??????? ????????))

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya tersebut untuk Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.“ (H.R. Bukhari  Muslim).

2.      Mengikuti tuntunan Nabi r

Suatu amalan akan diterima bila ada tuntunannya dari Rasulullah r. Bila tidak ada maka amalan tersebut akan tertolak.

Rasulullah r bersabda :

(( ???? ???????? ??? ????????? ????? ????????? ?????? ?????? ????? )).?? ??? ?????????  (( ???? ?????? ??????? ?????? ???????? ????????? ????? ?????? ))

“ Barang siapa yang mengada-adakan di dalam urusan (agama) kami apa yang tidak ada padanya  maka urusan tersebut tertolak”. Dalam riwayat lain “ Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Bila hilang salah satu dari kedua syarat ini maka amalan seseorang akan ditolak.

Allah I berfirman :

)  ?????? ????? ???????? ??????? ??????? ???????????? ??????? ???????? ????????????? ??????????? ??????? ??????? (

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi:110)

Dia Allah Ta’ala juga berfirman :

) ??????? ?????? ????????? ???????????? ?????????????? ????????? ???????? ??????? (

“(Dia lah Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)

Amalan yang paling baik dan paling shalih adalah amalan yang paling ikhlas dan yang paling mengikuti tuntunan Rasulullah r.

Perlu Dasar

Melarang suatu perbuatan yang pada asalnya beloh membutuhkan dalil. Seperti melangsungkan pernikahan, boleh dilakukan kapan dan di manapun juga tanpa ada pembatasan waktu dan tempat. Sehingga bila ada yang melarang melangsungkan pernikahan pada bulan Muharram, dia harus mendatangkan dalil atas larangan ini. Dalil yang dibutuhkan adalah dalil yang bersumber dari Qur’an ataupun Sunnah bukan persangkaan yang tak berdasar. Seperti perkataan sebagian orang bahwa menikah di bulan Muharram akan mendatangkan malapetaka karena pada bulan ini penguasa laut kidul sedang melangsungkan pernikahan dengan raja-raja mataram. Ini keyakinan yang tidak memiliki dasar, hanya angan-angan kosong yang ditiupkan setan kepada mereka, baik setan yang berwujud manusia ataupun jin.

Demikian pula dalam urusan yang pada asalnya terlarang, kita tidak boleh mengerjakannya bila tidak memiliki dalil. Seperti perayaan tahun baru Hijriyah atau perayaan-perayaan lain yang bersifat keagamaan, semuanya pada asalnya terlarang, sehingga dalam mengerjakannya dibutuhkan dalil yang memperbolehkannya. Dan selama ini tidak ada satu dalilpun yang menerangkan bahwa Rasulullah r mengerjakannya atau paling tidak mengikrarkannya, para shahabat y pun demikian tidak ada sejarahnya mereka mengadakan perayaan bid’ah tersebut sepeninggal Nabi r. Perayaan-perayaan ini muncul beberapa abad setelah berakhirnya tiga kurun yang mulia, kurun para shahabat, para tabiin dan pengikut tabiin. Maka barangsiapa yang membolehkan perkara ini hendaknya ia mendatangkan dalil.

Dalam urusan mencari (ngalap) berkah pun demikian, kita harus memiliki dalil dalam menetapkan bahwa sesuatu itu memiliki berkah atau tidak harus ditetapkan dengan dalil. Jadi suatu benda, tempat atau waktu dikatakan memiliki berkah kalau memang  syariat  menyatakan ia memiliki berkah. Sedangkan cara dalam mencarinyapun harus sesuai dengan tuntunan syariat bukan dengan akal kita yang serba terbatas ini. Seperti malam yang penuh berkah yakni lailatul qadar, Islam menetapkan bahwa ia adalah malam yang penuh berkah dan kita diperintahkan untuk mencarinya dengan memperbanyak amalan pada malam tersebut. Atau tempat yang penuh berkah seperti masjidil haram dikota Mekkah, kita diperintah untuk beribadah sebanyak-banyaknya ditempat ini agar memperoleh berkah sebanyak-banyaknya. Adapun benda-benda yang dianggap keramat seperti senjata pusaka keraton yang dimandikan pada bulan Muharram atau kebo kiyai slamet yang diarak keliling kota pada bulan ini sama sekali tidak memiliki berkah dan tidak kuasa memberikan berkah kepada siapapun juga. Wallahu a’lam

Disusun oleh: Isma’il A Margham.

Related Posts

Share This

468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


seven + = 9

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>