KEDARURATAN MEMBOLEHKAN YG HARAM

0
323

Kaidah “Kedaruratan membolehkan yang haram” (الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المحْظُوْرَات ) adalah kaidah yang agung dan telah dikenal oleh para ulama’. Dalil akan kaidah ini pun sangat banyak. Diantaranya firman Allah ta’ala:

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.” (QS. Al Baqarah: 173)

Namun,  jangan sampai kaidah ini dipakai untuk bermudah-mudahan menghalalkan yang haram.   Bahkan menghalalkan yang haram tanpa ada keadaan darurat sama sekali. Keadaan “darurat” itu adalah kondisi dimana ada bahaya (misal bisa menyebakan kematian atau kebinasaan) dan tidak ada alternatif lainnya. Misal orang tersesat di hutan tidak ada makanan yg didapatkan selain bangkai maka boleh dia memakannya karena “darurat”. Kalau ada alternatif, misal dia membawa roti atau mendapatkan buah-buahan maka tidak boleh dia makan bangkai.

Kerja di bank ribawi pada asalnya adalah haram karena keharaman riba dan ancaman pelaku riba sangat jelas. Tidak boleh “beralasan darurat” untuk menghalalkannya padahal sebenarnya tidak ada kedaruratan dan masih banyak pekerjaan lainnya. Jangan sampai menjerumuskan diri kita atau orang lain kepada yang haram dengan “alasan darurat” padahal sejatinya hanya mengikuti hawa nafsu dan tamak dengan dunia.

Jika misalnya benar-benar ada kedaruratan dan kemudian menerjang keharaman maka harus siap mempertanggung jawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak. Allah maha tahu kondisi hambaNya, yang nampak maupun yang tersembunyi. Semoga Allah mencukupi kita dengan yang halal dan menjauhkan dari yang haram. Amien. (Abu Zakariya Sutrisno)