Kaidah Dalam Memahami Nama-Nama dan Sifat Allah

0
226

Iman terhadap nama-nama dan sifat Allah adalah bagian dari keimanan kepada Allah. Begitu juga, tauhid asma’ wa shifat adalah bagian dari bentuk tauhid yang tiga: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ wa shifat. Karena kedudukannya yang sangat penting dalam agama maka kita harus memiliki ilmu tentang asma’ dan sifat Allah. Berikut diatara kaidah untuk memudahkan kita memahami nama-nama dan sifat Allah.

Kaidah Dalam Asma’ (Nama-Nama) Allah:

Pertama, seluruh asma’  Allah adalah husna (paling baik). Allah berfirman,

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى

Hanya milik Allah asmaa-ul husna.” (QS Al A’raf: 180)

Kedua, asma’ Allah adalah ‘alam (nama) dan shifat (sifat). Misal Ar Rahiim (Maha Penyayang) adalah nama Allah dan sekaligus mengandung sifat Allah yaitu rahmat (penyayang).   Allah berfirman,

وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yunus: 107)

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ

Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat.” (QS Al Kahfi: 58)

Ayat kedua menunjukkan bahwa Ar Rahiim adalah dzat yang mempunyai sifat rahmat. Salah jika ada yang memahami bahwa asma’ Allah hanya sekedar nama dan tidak mengandung sifat, sebagaimana pemahaman orang mu’tazilah.

Ketiga,asma’ Allah jika bentuknya muta’adi (membutuhkan objek) maka mengandung (1) nama, (2) sifat dan (3) hukum dan konsekuensinya. Jika selain muta’adi maka mengandung (1) nama dan (2) sifat.

Contoh asma yang muta’adi adalah: As Sami’ (Maha Mendengar)

  1. Wajib menetapkan As Sami’ sebagai nama yang menunjukkan dzat Allah
  2. Menetapkan sifat yang terkandung dalam nama tersebut yaitu sam’ (mendengar)
  3. Menetapkan hukum dan konsekuensinya yaitu bahwasanya Allah mendengar sesuatu yang lirih maupun yang keras.

Contoh asma yang bukan muta’adi adalah: Al Hayyu (Maha Hidup)

  1. Wajib menetapkan Al Hayyu sebagai nama yang menunjukkan dzat Allah
  2. Menetapkan sifat yang terkandung dalam nama tersebut yaitu hayat (hidup)

Keempat, dalalah (petunjuk hukum) asma’ atas dzat dan sifat-Nya bisa dengan tiga: (1) muthaabaqah (meliputi seluruh maknanya), (2) tadhammun (sebagian makna terkandung), (3) iltizam (konsekuensi). Misal Al Khaliq (Maha Pencipta), menunjukkan atas dzat Allah dan atas sifat al khalq (menciptakan) secara muthaabaqah. Juga menunjukkan atas dzat pencipta sendirinya dan sifat al khalq sendirinya secara tadhammun. Menunjukkan juga atas sifat ‘ilm (berilmu) dan qudrah (memiliki kemampuan) secara iltizam (konsekuensi) karena tidak mungkin bisa menciptakan kalau tidak memiliki ilmu dan kemampuan.

Kelima,asma’ Allah adalah tauqifiyah, tidak ditetapkan berdasar akal. Wajib menetapkannya sebagaimana datang dalam Al Qur’an dan As Sunnah, tidak boleh dikurangi atau ditambah. Akal tidak akan mampu mencapai apa nama-nama yang layak bagi Allah ta’ala. Maka wajib berhenti sesuai dengan dalil-dalil syar’i.

Keenam, asma’ Allah tidak terbatas jumlah tertentu. Hal ini berdasarkan hadits yang masyhur, Rasulullah berdo’a “Ya Allah aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu, yang Engkau namai sendiri untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu” (HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim. Shahih). Adapun berkaitan dengan hadits, “Sesungguhnya bagi Allah ada sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa menjaganya akan masuk syurga” (HR Bukhari). Hadits ini bukan pembatasan bahwa nama Allah hanya sembilan puluh sembilan (99), tetapi makna hadits ini adalah: Diantara nama Allah ada 99 nama yang jika kita menjaganya kita akan masuk syurga.

Ketujuh, ilhad dalam asma’ Allah maksudnya menyimpang dari yang diwajibkan atasnya. Allah berfirman,

وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya . Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al A’raf: 180)

Ilhad dalam asma’ bentuknya ada beberapa macam:

(1). Mengingkarinya atau mengingkari sifat yang terkadung di dalamnya sebagaiaman orang-orang Jahmiyah.

(2). Menyerupakan sifat yang terkadung dalam nama tersebut seperti sifat makhluq. Ini yang dilakukan ahlut tasybih.

(3). Menamai Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak namai diri-Nya dengan hal itu. Contohnya seperti orang nashrani yang menamakan Allah dengan Al Ab (Tuhan Bapak).

(4). Mengambil dari nama Allah untuk nama berhala. Seperti orang musyrikin yang menamai berhala mereka dengan Al Uzza yang diambil dari nama Al Aziz.

 

Kaidah Dalam Sifat-Sifat Allah:

Pertama, seluruh sifat Allah adalah sempurna dan tidak ada kekurangan sedikitpun. Contoh sifat Allah adalah Al Hayah (hidup), Al ‘Ilm (berilmu), As Sam’ (mendengar) dan lainnya. Sifat yang tidak ada kesempurnaan sedikitpun maka tidak boleh dinisbatkan kepada Allah seperti: Al Maut (kematian), Al Jahl (bodoh) dan lainnya. Sifat yang mengandung sisi kesempurnaan dan sisi kekurangan maka tidak boleh dinisbatkan secara mutlak atau ditolak secara mutlak. Harus dirinci, ditetapkan sisi kesempurnaan saja. Contohnya Al Makr (tipu daya), termasuk sifat kesempurnaan jika dihadapkan kepada yang melakukan hal yang semisal. Karena hal ini menunjukkan kemampuan untuk membalas yang melakukan makar. Allah berfirman,

وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al Anfaal: 30)

Kedua, bab sifat lebih luas dari asma’. Jumlah sifat Allah lebih banyak dari asma’ karena setiap asma’ mengandung sifat dan sifat Allah juga berkaitan dengan af’al (perbuatan) dan aqwal (perkataan)-Nya yang jumlahnya tidak terbatas.

Ketiga, sifat Allah ada dua jenis: tsubutiyah dan salbiyah. Sifat tsubutiyah adalah sifat yang Allah atau Rasul-Nya tetapkan ada pada diri-Nya seperti al hayah (hidup), al ‘ilm (ilmu) dan lainnya. Adapun sifat salbiyah adalah sifat yang dinafikan seperti al maut (mati), adz dzulm (dzolim) dan lainnya.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati.” (QS Al Furqan: 58)

Keempat, sifat tsubutiyah adalah sifat pujian dan kesempurnaan. Semakin banyak sifat kesempurnaan dan macamnya maka menunjukkan sempurnanya yang disifati (yaitu Allah). Sifat tsubutiyah yang Allah kabarkan lebih banyak dari sifat salbiyah.

Kelima,sifat tsubutiyah ada dua: dzatiyah dan fi’liyah. Sifat dzatiyah adalah sifat yang selalu dan terus menerus melekat ada pada Allah seperti al ‘ilm (ilmu), al qudrah (mampu), al uluw (tinggi) dan lainnya. Sifat fi’liyah adalah sifat yang berkaitan dengan kehendakNya, jika mau maka Dia akan melakukannya, jika tidak mau maka tidak seperti beristiwa’ diatas Arsy, turun ke langit dunia dan lainnya.

Keenam, dalam menetapkan sifat tidak boleh melakukan tamtsil (menyamakan dengan makhluq) dan takyif (membagaimanakan). Allah berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS Asy Syuura: 11)

Ketujuh, masalah sifat Allah adalah tauqifiyah (sesuai dalil), tidak boleh berlandaskan akal semata. Dalalah (petunjuk) Al Qur’an dan Sunnah dalam menetapkan sifat Allah ada tiga:

(1). Dengan jelas menyebut sifat tersebut seperti al izzah (mulia), al quwwah (kuat), al wajh (memiliki wajah) dan lainnya.

(2). Terkandung dalam asma’ Allah, seperti Al Ghafuur (Maha Pengampun) mengandung sifat al maghfirah (mengampuni), As Sami’ (Maha Mendengar) mengandung sifat as sam’ (mendengar) dan lainnya.

(3). Penjelasan perbuatan atau sifat yang menunjukkan atasnya sepert beristiwa’ diatas Arsy, turun ke langit dunia dan lainnya.

 

Kaidah dalam dalil-dalil asma’ dan sifat:

Pertama,asma dan sifat Allah tidak ditetapkan kecuali dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah.

Kedua, diwajibkan dalam memahami dalil-dalil al Qur’an dan As Sunnah untuk sesuai dengan dzohirnya, tidak boleh tahrif (menyelewengkan makna). Terkhusus lagi dalam masalah sifat Allah yang termasuk masalah ghaib, tidak ada tempat untuk akal di dalamnya. Allah mencela orang Yahudi yang suka mentahrif (memalingkan) kalamullah. Allah berfirman,

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُواْ لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka memalingkannya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (QS Al Baqarah: 75)

Ketiga, dzohir dari nash tentang sifat adalah ma’lum (diketahui) oleh kita dari sisi makna dan majhul (tidak diketahui) dari sisi kaifiyah (bagaimana-nya). Hal ini karena Al Qur’an dan As Sunnah dalam bahasa Arab yang mana maknanya diketahui. Adapun dari sisi kaifiyah atau hakekat bagaimananya maka tidak diketahui karena itu diluar akal manusia. Misal Allah memiliki sifat al wajh, diketahui maknanya (yaitu Allah memiliki wajah) tetapi hakekat bagaimana kita tidak mengetahui.

Keempat,dzohir dari nash adalah yang paling cepat muncul dalam pikiran dari makna-makna yang ada. Hal ini tergantung konteks dari kalimat.

Sekian, semoga bermanfaat.

Diringkas dari kitab Syarh Al Qowa’idi Al Mutslaa karya Syaikh Muhammad Al Utsaimin rahimahullah

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, /4/1437H