JANGAN JADI MURID DURHAKA

0
97

Miris kita mendengar kabar siswa yang bersikap tidak sopan atau bahkan kurang ajar pada gurunya. Demikian juga santri yang tidak menghormati kyai atau ustadznya. Murid malah menjelek-jelekan gurunya di medsos atau santri yang malah “mentahdzir” ustadznya, ibarat “air susu dibalas air tuba”. Bagaimana ilmu akan berkah dengan cara seperti itu?? Guru memiliki andil yang sangat besar pada diri seseorang.  Siapapun dia, setiap orang yang kita ambil faedah ilmu darinya adalah guru kita. Mulai dari guru TK, pengajar iqra’ di TPA, guru di sekolah, dosen di kampus, kyai/ustadz yang ngajar di masjid dan lainnya, mereka semua adalah guru kita.

Kalau kita lihat dalam sejarah, orang-orang hebat baik itu ulama’ atau yang lainnya sangat menghormati guru-guru mereka. Mereka sangat menjaga adab ketika berinteraksi dengan guru mereka. Bahkan ketika gurunya sudah meninggal pun mereka mengenang jasa-jasanya. Lihat para Sahabat, mereka begitu memuliakan guru mereka yaitu Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam. Sebagai contoh, lihat yang diriwayatkan sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu: “Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari). Imam As Syafi’i berkata,“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”. Coba bandingkan dengan murid-murid zaman sekarang.

Rasulullah memberi ancaman yang sangat keras pada orang-orang yang tidak memuliakan orang yang berilmu. Beliau bersabda:

ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama (orang yang berilmu). (HR. Ahmad dan dishahihkan Al Albani).

Apalagi kalau orang yang berilmu itu adalah guru kita sendiri maka acamannya tentu lebih keras!! Jangan sampai kita menjadi murid yang durhaka. Murid durhaka adalah murid yang tidak tahu adab dan mengingkari kebaikan gurunya. Mereka tidak menyadari betapa besarnya kedudukan dan jasa seorang guru. Apalagi kalau sudah jadi orang hebat, lebih hebat dan pintar dari gurunya. Mereka sering lupa dengan guru-guru mereka, ibarat “kacang lupa akan kulitnya”.

Guru adalah manusia biasa, bisa salah dan lupa. Namun, jangan sampai kesalahan dan juga kekurangan yang mereka miliki membuat kita tidak menghargai kedudukan dan jasa mereka. Jangan sampai kita menjadi murid yang durhaka hanya karena satu dua kekhilafan yang dilakukan guru kita. (Dr Abu Zakariya Sutrisno, 25.11.2019)